Kolombo (ANTARA) - Kabinet Sri Lanka pada Selasa (14/7) menyetujui perjanjian pinjaman dan hibah untuk proyek senilai 80,5 juta dolar AS (1 dolar AS = Rp18.099), yang bertujuan untuk memperluas pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) atap, memperkenalkan sistem pengukuran bersih virtual (virtual net metering), dan memodernisasi jaringan distribusi listrik, lapor Xinhua.
Paket pembiayaan tersebut mencakup pinjaman lunak sebesar 35 juta dolar AS dari Asian Development Bank (ADB), hibah senilai 15,4 juta euro (1 euro = Rp20.625) dari Uni Eropa (UE), dan hibah sebesar 5,5 juta dolar AS dari dana perwalian Japan Fund for the Joint Crediting Mechanism.
Pendanaan pendamping dari lembaga pelaksana akan menutupi sisa biaya proyek tersebut.
Kabinet menyetujui usulan yang diajukan oleh Presiden Sri Lanka Anura Kumara Dissanayake dalam kapasitasnya sebagai menteri keuangan, perencanaan, dan pembangunan ekonomi untuk menandatangani perjanjian tersebut. Pemerintah sebelumnya telah mengizinkan negosiasi dengan ADB dan mitra-mitra pembiayaan lainnya.
Dalam Proyek Agregasi PLTS Atap dan Pengukuran Bersih Virtual, perusahaan milik negara, Electricity Distribution Lanka (Private) Limited dan Lanka Electricity Company (Private) Limited, akan membangun model berbasis perusahaan utilitas untuk menghimpun listrik yang dihasilkan sistem PLTS atap skala besar dan mengalokasikan kredit listrik kepada konsumen yang memenuhi syarat.
Skema ini dimaksudkan untuk memungkinkan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), serta organisasi masyarakat untuk mendapatkan manfaat dari listrik tenaga surya tanpa harus memasang panel surya di tempat mereka sendiri. Pengguna yang memenuhi syarat namun menghadapi kendala keuangan atau ruang akan menerima alokasi melalui mekanisme kompensasi sosial yang dirancang untuk mengurangi biaya listrik.
Proyek ini diharapkan dapat mendukung kapasitas tenaga surya atap sekitar 25 megawatt-peak (MWp). Proyek ini juga akan membiayai peningkatan digital pada jaringan distribusi kedua perusahaan utilitas itu dan meningkatkan kemampuan mereka untuk mengakomodasi tambahan energi terbarukan terdistribusi.
"Proyek ini akan membantu Sri Lanka memperluas akses ke energi terbarukan yang terjangkau sekaligus memperkuat kesiapan jaringan listrik untuk sektor tenaga listrik yang lebih tangguh dan inklusif," kata Direktur Negara ADB untuk Sri Lanka Shannon Cowlin. "Proyek ini akan mendukung usaha kecil, memajukan modernisasi dan digitalisasi jaringan listrik, serta menciptakan peluang baru bagi perempuan dan kaum muda di industri energi bersih," lanjutnya.
Fasilitas pelatihan juga akan didirikan untuk mengembangkan keterampilan sektor hijau, memperkuat partisipasi perempuan, dan membangun kapasitas teknis dalam teknologi rendah karbon tingkat lanjut.
Paket pembiayaan tersebut mencakup pinjaman lunak sebesar 35 juta dolar AS dari Asian Development Bank (ADB), hibah senilai 15,4 juta euro (1 euro = Rp20.625) dari Uni Eropa (UE), dan hibah sebesar 5,5 juta dolar AS dari dana perwalian Japan Fund for the Joint Crediting Mechanism.
Pendanaan pendamping dari lembaga pelaksana akan menutupi sisa biaya proyek tersebut.
Kabinet menyetujui usulan yang diajukan oleh Presiden Sri Lanka Anura Kumara Dissanayake dalam kapasitasnya sebagai menteri keuangan, perencanaan, dan pembangunan ekonomi untuk menandatangani perjanjian tersebut. Pemerintah sebelumnya telah mengizinkan negosiasi dengan ADB dan mitra-mitra pembiayaan lainnya.
Dalam Proyek Agregasi PLTS Atap dan Pengukuran Bersih Virtual, perusahaan milik negara, Electricity Distribution Lanka (Private) Limited dan Lanka Electricity Company (Private) Limited, akan membangun model berbasis perusahaan utilitas untuk menghimpun listrik yang dihasilkan sistem PLTS atap skala besar dan mengalokasikan kredit listrik kepada konsumen yang memenuhi syarat.
Skema ini dimaksudkan untuk memungkinkan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), serta organisasi masyarakat untuk mendapatkan manfaat dari listrik tenaga surya tanpa harus memasang panel surya di tempat mereka sendiri. Pengguna yang memenuhi syarat namun menghadapi kendala keuangan atau ruang akan menerima alokasi melalui mekanisme kompensasi sosial yang dirancang untuk mengurangi biaya listrik.
Proyek ini diharapkan dapat mendukung kapasitas tenaga surya atap sekitar 25 megawatt-peak (MWp). Proyek ini juga akan membiayai peningkatan digital pada jaringan distribusi kedua perusahaan utilitas itu dan meningkatkan kemampuan mereka untuk mengakomodasi tambahan energi terbarukan terdistribusi.
"Proyek ini akan membantu Sri Lanka memperluas akses ke energi terbarukan yang terjangkau sekaligus memperkuat kesiapan jaringan listrik untuk sektor tenaga listrik yang lebih tangguh dan inklusif," kata Direktur Negara ADB untuk Sri Lanka Shannon Cowlin. "Proyek ini akan mendukung usaha kecil, memajukan modernisasi dan digitalisasi jaringan listrik, serta menciptakan peluang baru bagi perempuan dan kaum muda di industri energi bersih," lanjutnya.
Fasilitas pelatihan juga akan didirikan untuk mengembangkan keterampilan sektor hijau, memperkuat partisipasi perempuan, dan membangun kapasitas teknis dalam teknologi rendah karbon tingkat lanjut.





