Mempertahankan lingkungan kerja yang etis dan berintegritas tinggi di tengah era disrupsi teknologi dan ketidakpastian ekonomi menjadi tantangan berat bagi industri perbankan. Dalam menghadapi dinamika ini, keteladanan nyata dari para pemimpin puncak memegang peranan yang sangat krusial.
Filosofi kepemimpinan berbasis keteladanan inilah yang terus dirawat PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) atau BCA. Sebagai salah satu pilar utama kekuatan perbankan swasta nasional, BCA meyakini bahwa reputasi besar korporasi dibentuk dari akumulasi perilaku etis harian seluruh karyawannya.
Tokoh senior perbankan nasional sekaligus Presiden Komisaris BCA, Jahja Setiaatmadja, menekankan bahwa integritas tidak bisa diajarkan hanya melalui instruksi formal atau memo internal. Pemimpin organisasi harus mempraktikkan langsung nilai-nilai yang mereka khotbahkan kepada bawahannya.
Jahja menggarisbawahi pentingnya prinsip walk the talk, yakni keselarasan penuh antara perkataan dan perbuatan. Ketika seorang direktur menuntut kejujuran dan kedisiplinan dari stafnya, maka sang direktur harus menjadi orang pertama yang memperlihatkan perilaku tersebut dalam keputusan sehari-hari.
Selain keteladanan, aspek utama yang menjadi fondasi budaya kerja di lingkungan BCA adalah komitmen untuk selalu menghargai sesama manusia atau dalam istilah Jawa disebut ngewongke orang. Pendekatan humanis ini diterapkan secara merata tanpa memandang tingkatan kasta, jabatan, maupun latar belakang operasional karyawan.
"Kalau saya berkunjung ke kantor cabang, saya tidak melulu bertanya soal target atau pekerjaan. Kita ajak office boy dan petugas satpam di sana untuk menyapa, mengobrol, dan bahkan selfie bareng. Mereka happy-nya luar biasa," ungkap Jahja pada forum Risk and Governance Summit 2026 yang digelar Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Selasa (14/7).
Mantan presiden direktur (presdir) BCA itu meyakini bahwa tindakan-tindakan kecil seperti membalas sapaan dengan senyuman yang tulus memiliki dampak psikologis yang mendalam. Kebiasaan ini perlahan-lahan akan meruntuhkan sekat birokrasi yang kaku dan membangun rasa saling menyayangi serta memiliki di antara sesama pegawai.
Ketika karyawan merasa dihargai secara personal oleh manajemen puncak, loyalitas dan komitmen mereka terhadap nilai-nilai perusahaan akan tumbuh secara organik. Hubungan kerja yang harmonis dan setara ini pada akhirnya bertransformasi menjadi benteng pertahanan pertama dalam menjaga kepercayaan nasabah.
Bagi perbankan, kepercayaan (trust) adalah komoditas paling berharga yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk dibangun, namun bisa hancur dalam hitungan detik. Oleh karena itu, BCA menaruh perhatian yang sangat besar pada aspek moralitas dan kejujuran di setiap level operasionalnya.
Kendati mengedepankan pendekatan humanis dan kekeluargaan, manajemen BCA tetap menerapkan ketegasan tanpa kompromi jika berkaitan dengan pelanggaran integritas. Godaan dalam industri keuangan sangat besar, mulai dari potensi suap, gratifikasi, hingga manipulasi dalam proses pemutusan kredit di cabang.
Jahja menceritakan bahwa sejak awal kariernya di bidang pemutusan kredit, dirinya selalu menyerahkan proses peninjauan secara berlapis kepada tim analitis untuk menghindari subjektivitas. Jika di kemudian hari ditemukan ada oknum yang sengaja melanggar pakta integritas demi keuntungan pribadi, institusi tidak akan ragu untuk mengambil tindakan tegas.
"Cobaan dan godaan itu akan selalu ada, baik di kantor pusat maupun di jaringan cabang. Namun kita harus tegas, kalau sampai ada yang ketahuan melanggar integritas, ya harus bye-bye (diberhentikan)," tutur Jahja.
Melalui kombinasi antara kepemimpinan yang membumi dan ketegasan sistemik, BCA berhasil membuktikan bahwa budaya etis mampu berjalan beriringan dengan pertumbuhan bisnis yang masif.




