Warga Berhemat, Pergerakan Wisatawan Indonesia ke Luar Negeri Menyusut

kompas.id
3 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS – Sepanjang Januari-Mei 2026, pergerakan wisatawan Indonesia ke luar negeri (outbound) menyusut 3,88 persen secara tahunan. Penurunan ini didorong oleh harga tiket pesawat yang semakin mahal serta kecenderungan masyarakat untuk menahan belanja.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ada 3,69 juta perjalanan wisatawan nusantara (wisnus) ke luar negeri sepanjang lima bulan pertama tahun ini. Angka itu turun 3,88 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Adapun sepanjang Mei 2026, ada 547.044 perjalanan, turun 6,31 persen dari tahun lalu.

Baca JugaPengusaha: Okupansi Hotel Naik dengan ”Rate” Kamar Lebih Rendah

Sebaliknya, tren kenaikan terlihat pada kunjungan wisatawan mancanegara atau wisman dari luar negeri ke Indonesia (inbound). Selama Januari-Mei 2026, ada 6,07 juta kunjungan, meningkat 7,68 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Kementerian Pariwisata menilai positif data-data tersebut, terutama kinerja kunjungan inbound, karena dianggap dapat meningkatkan kontribusi sektor pariwisata terhadap penerimaan devisa negara.

”Kementerian Pariwisata (Kemenpar) akan terus menjaga momentum pertumbuhan ini melalui penguatan konektivitas, peningkatan kualitas destinasi, penyelenggaraan event, serta promosi yang lebih terarah,” tutur Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardahana dalam konferensi pers bersama Badan Komunikasi Pemerintah di Jakarta, Rabu (15/7/2026).

Sebelumnya, dalam keterangan tertulis, Widiyanti mengemukakan, capaian itu menjadi indikator bahwa pariwisata Indonesia masih berdaya tahan dan mampu menjadi salah satu mesin pertumbuhan ekonomi nasional yang penting.

Data yang tercatat pada Mei 2026 itu, ujarnya, merupakan kunjungan tertinggi sepanjang tahun berjalan. Ini menunjukkan minat wisman terhadap Indonesia tetap kuat. Meski demikian, di tengah peningkatan kunjungan wisman itu, perjalanan wisnus secara domestik tetap digalakkan sebagai penopang utama kinerja pariwisata.

Secara terpisah, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan, penurunan wisatawan Indonesia ke luar negeri ikut dipengaruhi oleh kenaikan harga tiket penerbangan. Harga tiket naik seiring dengan meningkatnya harga bahan bakar pesawat atau avtur.

Baca JugaDaya Beli Masih Rendah, Pariwisata Susah Pulih

Faktor lainnya adalah pelemahan nilai tukar rupiah terhadap mata uang negara-negara tujuan utama. Hal-hal ini akhirnya berdampak pada keputusan wisatawan untuk tidak bepergian ke luar negeri.

Berdasarkan data Neraca Pembayaran Indonesia triwulan I-2026 yang dirilis Bank Indonesia (BI), ekspor jasa perjalanan Indonesia atau wisman yang berbelanja di Indonesia mencapai 4,1 miliar dolar AS. Angka itu setara dengan Rp 74,1 triliun (kurs Rp 18.064 per dolar AS).

Sebaliknya, impor jasa perjalanan atau wisatawan Indonesia yang menghabiskan uangnya di luar negeri adalah 2,9 miliar dolar AS atau Rp 52,4 triliun. Sebagai catatan, angka-angka ini masih bersifat sangat sementara.

Serba berhemat

Direktur Eksekutif Pusat Kajian Pariwisata dan Ekonomi Indonesia, Muhammad Rahmad, mengatakan terbatasnya pergerakan wisatawan dalam negeri itu menunjukkan masyarakat kelas menengah semakin terimpit oleh biaya hidup tinggi dan terpaksa berhemat di tengah pendapatan yang stagnan.

“Pergerakan outbound ini berasal dari kelompok menengah, kelompok yang banyak bepergian ke luar negeri. Akibat lesunya perekonomian kita, harga yang serba mahal, serta nilai tukar rupiah yang anjlok, akhirnya mereka mengurungkan niat ke luar negeri,” ucap Rahmad.

Baca JugaPariwisata Indonesia, Indah Saja Tidak Cukup

Sekilas, masyarakat yang lebih banyak menghabiskan waktu berlibur di dalam negeri bisa saja dipandang positif. Namun, dari sisi belanja, ini menunjukkan bahwa konsumsi masyarakat kelas menengah masih lesu.

“Jadi, jumlah yang berlibur memang naik, tetapi pengeluaran mereka turun. Mereka berlibur, tetapi berhemat. Ini berbahaya untuk ekonomi nasional,” katanya.

Selama ini, penopang terbesar perekonomian nasional disumbangkan oleh konsumsi kelas menengah. Jika kelompok ini menahan belanja, pertumbuhan ekonomi pada akhir tahun nanti berisiko tergerus.

Untuk mengantisipasi hal ini, menurutnya, pemerintah perlu mendorong inbound atau menarik lebih banyak wisman ke Indonesia. Pengeluaran wisman selama berkunjung ke Indonesia bisa menopang konsumsi wisata yang selama ini dilakukan oleh wisatawan domestik.

“Kita menunggu, pengusaha menunggu, apa solusi yang bisa ditawarkan pemerintah agar ekonomi dalam negeri berputar? Sekarang, Malaysia, Vietnam, Thailand, Singapura, bahkan China, juga sedang menggencarkan stimulus untuk menarik wisman,” tutur Rahmad.

Baca JugaMalaysia, Magnet Baru Pariwisata ASEAN

Malaysia, misalnya, berhasil menjadi magnet destinasi andalan baru di Asia Tenggara. Pemerintah Malaysia menerapkan kebijakan relaksasi campuran untuk visa, memperbarui infrastruktur, serta mendorong promosi yang lebih tepat sasaran.

Merujuk laporan US-ASEAN Business Council, Pemerintah Malaysia telah menggelontorkan dana sebesar 550 juta ringgit untuk promosi pariwisata. Angka itu setara dengan Rp 2,45 triliun dengan kurs Rp 4.460 per ringgit. Salah satu kebijakan bebas visa itu berhasil meningkatkan kedatangan wisatawan dari China dan India, sehingga akses bebas visa bagi warga negara tersebut diperpanjang hingga akhir 2026 (Kompas.id, 9/7/2026).

Rahmad melanjutkan, Pemerintah Indonesia tak bisa hanya berpangku tangan. Pemerintah bisa meniru langkah pemerintah Malaysia dan memberikan stimulus untuk menarik kedatangan wisman.

Ia juga menyoroti jarak antarobjek wisata di Indonesia yang relatif jauh karena terpisah oleh pulau. Ini membuat wisatawan tidak bisa menjangkau sejumlah destinasi dengan mudah dari tempat akomodasi. Itu berbeda dari negara-negara lain yang letak hotelnya berdekatan dengan titik destinasi unggulan.

“Informasi bagaimana cara menghubungkan satu destinasi dengan yang lain, perlu transfer di mana, belum tersedia dengan baik bagi wisatawan asing yang datang ke sini. Imbasnya, orang asing kalau datang ke Indonesia masih saja terpusat di Bali,” ujarnya.

Baca JugaMalaysia Jadi Primadona Baru ASEAN, Peta Pergerakan Turis Asing Bergeser


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Progres Tol Japek II Selatan Tembus 84 Persen, Siap Urai Kemacetan Jakarta-Bandung
• 7 jam laluidxchannel.com
thumb
Liga Voli Korea Diguncang Skandal, Pelatih Tim Voli Putri Terseret Kasus Dugaan Pelecehan Seksual Jelang V-League 2026-2027
• 10 jam lalutvonenews.com
thumb
BI Dinilai Masih Punya Ruang Naikkan Suku Bunga hingga Level 6,25 Persen
• 17 jam laluidxchannel.com
thumb
Rupiah Melemah ke Rp18.064 per Dolar AS
• 12 jam lalumedcom.id
thumb
DKI kemarin, kerugian akibat JPO ditabrak hingga LRT Jakarta
• 16 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.