Jakarta (ANTARA) - Lakon Indonesia terus mengikuti perkembangan pasar dengan melakukan adaptasi dan penyegaran produk agar rancangan mereka bisa diterima oleh konsumen.
Pendiri Lakon Indonesia Theresia Mareta dalam konferensi di Jakarta, Rabu, menjelaskan salah satu cara yang mereka lakukan adalah dengan memperluas koleksi mereka menjadi ready to wear deluxe dari koleksi sebelumnya yang berjenis streetwear. Koleksi terbaru mereka berjudul Harsa masih memiliki benang merah dengan koleksi sebelumnya.
Harsa, yang identik dengan warna-warna cerah yang identik dengan perayaan, menjadi interpretasi Lakon Indonesia terhadap kebahagiaan. Harsa dalam bahasa Sansekerta memang bermakna kebahagiaan.
Koleksi itu sekaligus menjadi penanda bahwa mereka kian matang dalam mengeksekusi produk, yang diharapkan semakin tepat sasaran dan sesuai dengan kebutuhan konsumen pada segmen pasar menengah dengan koleksi yang premium.
Theresia menjelaskan segmentasi busana mereka berkaitan dengan keberlanjutan para pengrajin, yang berasal dari berbagai wilayah di Pulau Jawa, yang turut andil dalam busana yang mereka rancang.
Meski persoalan tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi, namun, dia yakin bahwa jenama yang berdiri pada 2018 yang mengangkat kekayaan karya tangan Indonesia itu mampu diterima berbagai kalangan termasuk untuk pasar luar negeri.
Salah satu koleksi baru Lakon Indonesia yang bertajuk "Harsa" yang dipamerkan dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (15/7/2026). (ANTARA/Sinta Ambar)
Lakon Indonesia tak hanya melakukan penjualan secara luring, namun juga dapat ditemukan melalui toko daring. Theresia menyatakan sejak tahun lalu koleksi mereka terjual hingga ke Swis, Belanda, Amerika Serikat, China, Singapura dan Malaysia.
China, kata Theresia, menjadi pasar yang potensial untuk ekspansi produk mereka karena konsumen di sana tergolong konsumtif.
Koleksi terbaru Lakon Indonesia dijadwalkan untuk dipamerkan pada gelaran JF3 Fashion Festival 2026.
Pendiri Lakon Indonesia Theresia Mareta dalam konferensi di Jakarta, Rabu, menjelaskan salah satu cara yang mereka lakukan adalah dengan memperluas koleksi mereka menjadi ready to wear deluxe dari koleksi sebelumnya yang berjenis streetwear. Koleksi terbaru mereka berjudul Harsa masih memiliki benang merah dengan koleksi sebelumnya.
Harsa, yang identik dengan warna-warna cerah yang identik dengan perayaan, menjadi interpretasi Lakon Indonesia terhadap kebahagiaan. Harsa dalam bahasa Sansekerta memang bermakna kebahagiaan.
Koleksi itu sekaligus menjadi penanda bahwa mereka kian matang dalam mengeksekusi produk, yang diharapkan semakin tepat sasaran dan sesuai dengan kebutuhan konsumen pada segmen pasar menengah dengan koleksi yang premium.
Theresia menjelaskan segmentasi busana mereka berkaitan dengan keberlanjutan para pengrajin, yang berasal dari berbagai wilayah di Pulau Jawa, yang turut andil dalam busana yang mereka rancang.
Meski persoalan tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi, namun, dia yakin bahwa jenama yang berdiri pada 2018 yang mengangkat kekayaan karya tangan Indonesia itu mampu diterima berbagai kalangan termasuk untuk pasar luar negeri.
Salah satu koleksi baru Lakon Indonesia yang bertajuk "Harsa" yang dipamerkan dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (15/7/2026). (ANTARA/Sinta Ambar)
Lakon Indonesia tak hanya melakukan penjualan secara luring, namun juga dapat ditemukan melalui toko daring. Theresia menyatakan sejak tahun lalu koleksi mereka terjual hingga ke Swis, Belanda, Amerika Serikat, China, Singapura dan Malaysia.
China, kata Theresia, menjadi pasar yang potensial untuk ekspansi produk mereka karena konsumen di sana tergolong konsumtif.
Koleksi terbaru Lakon Indonesia dijadwalkan untuk dipamerkan pada gelaran JF3 Fashion Festival 2026.





