Persatuan Inteligensia Kristen Indonesia (PIKI) secara resmi mendeklarasikan "Kedaulatan Kesehatan Indonesia 2045" dalam sebuah seminar nasional yang diselenggarakan di Bandung, Jawa Barat, Rabu 15 Juli 2026. Forum ini menjadi ruang kolaborasi strategis antara pemerintah, akademisi, organisasi profesi, tokoh masyarakat, hingga komunitas guna merumuskan arah pembangunan kesehatan nasional sebagai fondasi terwujudnya Indonesia Emas 2045.
Dewan Pembina DPP PIKI, Hashim Djojohadikusumo, menekankan bahwa pembangunan sektor kesehatan tidak bisa berdiri sendiri, melainkan bagian integral dari strategi besar transformasi bangsa.
Menurut Hashim, kesehatan masyarakat harus dibangun secara terintegrasi dengan perbaikan ekosistem penunjangnya, seperti kelestarian lingkungan, ketersediaan air bersih, pemukiman yang layak, dan peningkatan kualitas pendidikan.
"Strategi besar pemerintahan Prabowo-Gibran adalah transformasi bangsa yang terdiri dari beberapa unsur, pertama kesehatan, perumahan, dan lingkungan. Karena kesehatan manusia juga bergantung pada lingkungan, air bersih, rumah layak huni, dan program kesehatan lainnya. Semua itu untuk menciptakan SDM unggul 2045," tegas Hashim Djojohadikusumo dikutip dari Headline News, Metro TV, Rabu 15 Juli 2026.
Baca Juga :
PIKI Deklarasikan Kedaulatan Kesehatan Indonesia 2045, Soroti Pentingnya Kolaborasi Cegah StuntingDalam forum tersebut, Hashim juga kembali menegaskan komitmen pemerintah untuk mengawal kelanjutan program Makan Bergizi Gratis. Program ini dinilai sebagai instrumen krusial untuk menjawab persoalan anak-anak yang berangkat ke sekolah tanpa sarapan, sekaligus menekan prevalensi stunting yang masih menjadi tantangan besar pembangunan manusia di Indonesia.
Strategi Lintas Sektor dan Intervensi Dini
Senada dengan upaya percepatan penurunan stunting, Board of Experts PRASASTI, Cashtry Meher, memaparkan pentingnya arsitektur strategis yang menjangkau seluruh lapisan masyarakat, termasuk di wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T).
Cashtry menilai bahwa intervensi program seperti Makan Bergizi Gratis harus diimplementasikan secara spesifik dan tepat sasaran. Jika intervensi bagi anak usia sekolah difokuskan untuk mengatasi kekurangan energi dan protein, maka langkah pencegahan stunting yang sesungguhnya harus ditarik lebih jauh ke belakang, yakni sejak usia remaja.
"Strateginya adalah saling berkolaborasi lintas sektor. Kata kuncinya menurunkan ego sektoral, melakukan evaluasi dan monitoring terhadap berbagai hambatan hingga ke daerah 3T, kemudian memperkuat intervensi edukasi agar masyarakat memahami pentingnya perubahan perilaku," terang Cashtry.
Ia mengingatkan bahwa stunting merupakan gangguan gizi yang terjadi sejak anak berada di dalam kandungan. Oleh sebab itu, edukasi dan pemenuhan gizi harus ditargetkan kepada perempuan muda sebelum mereka memasuki masa kehamilan.




