JAKARTA, KOMPAS.TV- Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan alasan pemerintah menempatkan dana sekitar Rp200 triliun di perbankan pada 2025. Kebijakan tersebut diambil karena pertumbuhan base money (M0) saat itu nyaris nol, sehingga pemerintah perlu menambah likuiditas untuk menopang aktivitas ekonomi.
Penjelasan itu disampaikan Purbaya saat menjawab pertanyaan Anggota Komisi XI DPR RI Haris Turino dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI, Rabu (15/7/2026).
Purbaya mengatakan dirinya mulai menjabat Menteri Keuangan pada September 2025 ketika kondisi ekonomi tengah mengalami perlambatan yang cukup signifikan. Menurutnya, pemerintah perlu mengambil langkah cepat agar pertumbuhan ekonomi tidak semakin melemah.
Baca Juga: FULL! Kepala Ekonom Bank Permata Soroti Dana SAL Rp281 Triliun Belum Berdampak Signifikan ke UMKM
Ia mengakui saat itu banyak pihak menilai likuiditas perbankan masih memadai. Namun, berdasarkan analisis Kementerian Keuangan, indikator yang selama ini digunakan belum menggambarkan kondisi sebenarnya.
Purbaya mengatakan pemerintah menggunakan indikator base money (M0) untuk melihat kondisi likuiditas.
"Yang kami gunakan adalah base money (M0). Pada periode April hingga Agustus 2025 pertumbuhan base money bahkan mendekati nol. Artinya, menurut teori moneter, ekonomi sedang kekurangan pertumbuhan uang," kata Purbaya seperti dikutip dari Breaking News KompasTV.
Baca Juga: BI Rate Naik Jadi 5,75 Persen, Menko Airlangga: Bank Jangan Buru-Buru Naikkan Bunga
Ia menambahkan, pandangan tersebut mengacu pada teori ekonom Milton Friedman yang menempatkan perkembangan base money sebagai salah satu indikator penting dalam melihat kondisi moneter.
Purbaya juga menyinggung pengalaman Amerika Serikat saat pertumbuhan uang melemah yang kemudian diikuti krisis perbankan, termasuk kasus Silicon Valley Bank.
Penulis : Dina Karina Editor : Gading-Persada
Sumber : Kompas TV
- purbaya yudhi sadewa
- dana sal perbankan
- money base
- likuiditas perbankan





