1. Mengapa sejumlah SD negeri di daerah kekurangan murid?
2. Mengapa sekolah negeri gratis tetap kalah diminati?
3. Seberapa besar pengaruh perubahan demografi terhadap jumlah murid?
4. Apa yang harus dibenahi agar sekolah negeri kembali diminati?
5. Apakah sekolah yang sepi murid masih memiliki masa depan?
Fenomena sekolah dasar (SD) negeri yang kekurangan murid tidak dipicu oleh satu penyebab, tetapi kombinasi berbagai faktor. Di SD Negeri 1 Gedung Meneng, Bandar Lampung, Lampung, misalnya, tahun ajaran 2026/2027 hanya diikuti dua murid baru. Di Kabupaten Blitar, Jawa Timur, bahkan ada tiga SD negeri yang sama sekali tidak memperoleh siswa baru. Kondisi tersebut menunjukkan persoalan yang lebih dalam daripada sekadar menurunnya angka pendaftar.
Ketua Komisi IV DPRD Kota Bandar Lampung Asroni Paslah mengatakan, pemerintah perlu mengkaji penyebab rendahnya minat masyarakat terhadap sekolah negeri. Menurut dia, faktor yang harus ditelusuri meliputi perubahan demografi penduduk, keberadaan sekolah lain yang lebih diminati, kualitas layanan pendidikan, hingga kondisi sarana dan prasarana sekolah.
Pandangan serupa disampaikan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Blitar Agus Santosa. Menurut dia, beberapa sekolah berada di wilayah dengan jumlah anak usia sekolah yang sedikit, sementara di lokasi yang sama terdapat sekolah lain yang menjadi pilihan masyarakat. Kondisi itu membuat jumlah calon peserta didik terbagi.
Oleh karena itu, persoalan sekolah kekurangan murid tidak bisa diselesaikan hanya melalui penerimaan siswa baru. Pemerintah perlu memetakan perkembangan penduduk, mengevaluasi kualitas sekolah, dan menata kembali persebaran satuan pendidikan agar lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Sekolah negeri yang tidak memungut biaya ternyata belum tentu menjadi pilihan utama orangtua. Kini, pertimbangan keluarga tidak lagi hanya soal biaya, tetapi juga kualitas layanan, kenyamanan belajar, fasilitas, hingga citra sekolah di mata masyarakat.
Kepala Perwakilan Ombudsman RI Lampung Nur Rakhman Yusuf menilai, fenomena sekolah negeri yang kekurangan murid mencerminkan menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap kualitas pendidikan di sejumlah sekolah negeri. Menurut dia, pemerintah harus memperbaiki fasilitas, sistem pembelajaran, dan kualitas guru agar minat masyarakat kembali meningkat.
Pakar Pendidikan Universitas Negeri Malang, Djoko Saryono, juga melihat adanya pergeseran orientasi orangtua. Banyak keluarga kini lebih memilih sekolah swasta atau madrasah karena dianggap menawarkan kualitas pembelajaran, keamanan, pengasuhan, hingga fasilitas yang lebih baik. Kondisi ini berbeda dengan beberapa dekade lalu ketika sekolah negeri menjadi pilihan utama.
Oleh karena itu, sekolah negeri tidak cukup mengandalkan status gratis. Peningkatan mutu pembelajaran, kompetensi guru, fasilitas, dan inovasi layanan menjadi faktor penting untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat.
Perubahan demografi menjadi salah satu penyebab utama berkurangnya murid di sejumlah sekolah negeri. Ketika jumlah keluarga muda menurun atau penduduk berpindah ke kawasan lain, jumlah anak usia sekolah otomatis ikut berkurang. Dampaknya paling terasa di sekolah-sekolah yang berada di kawasan dengan pertumbuhan penduduk rendah.
Di SD Negeri 1 Gedung Meneng, Bandar Lampung, misalnya, lingkungan sekitar sekolah kini lebih banyak dihuni rumah kos mahasiswa. Sementara sebagian besar penduduk lama telah berpindah ke wilayah lain. Akibatnya, sumber calon peserta didik semakin menyusut dibandingkan dengan masa awal sekolah berdiri yang pernah memiliki lebih dari 100 murid.
Djoko Saryono menilai, pemerintah perlu melakukan mitigasi melalui pemetaan pertumbuhan penduduk, jumlah anak usia sekolah, perkembangan wilayah, dan pola perpindahan penduduk. Langkah tersebut penting agar pemerintah dapat memperkirakan kebutuhan sekolah di setiap kawasan.
Jika kondisi itu terus berlanjut, pemerintah dapat mempertimbangkan regrouping atau penggabungan sekolah. Namun, menurut Djoko, kebijakan tersebut harus dikaji secara matang karena dapat memperpanjang jarak tempuh siswa dan belum tentu menyelesaikan persoalan apabila masih ada sekolah lain yang berdekatan.
Perbaikan fasilitas fisik menjadi salah satu pekerjaan rumah pemerintah. Di SD Negeri 1 Gedung Meneng, misalnya, sebagian atap sekolah sudah rusak hingga ditambal kardus bekas. Kondisi seperti itu dapat memengaruhi persepsi masyarakat terhadap kualitas sekolah.
Menurut Nur Rakhman Yusuf, pemerintah perlu meningkatkan pemerataan kualitas pendidikan melalui perbaikan sarana, mutu pembelajaran, dan kompetensi guru. Dengan kualitas yang lebih merata, orangtua tidak lagi terkonsentrasi memilih sekolah-sekolah yang dianggap unggulan.
Asroni Paslah juga mendorong evaluasi menyeluruh terhadap sekolah yang kekurangan murid. Langkah yang perlu dilakukan meliputi revitalisasi sarana dan prasarana, peningkatan kualitas guru, penguatan pembelajaran, hingga promosi sekolah kepada masyarakat agar kembali memperoleh kepercayaan publik.
Pembenahan tersebut perlu dilakukan secara berkelanjutan. Tanpa peningkatan mutu layanan pendidikan, sekolah negeri akan semakin sulit bersaing dengan sekolah swasta maupun madrasah yang terus berinovasi.
Jumlah murid yang sedikit tidak selalu berarti kualitas sekolah rendah. Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 6 Jayapura menjadi contoh bahwa sekolah dengan jumlah siswa terbatas tetap mampu menghasilkan lulusan dan prestasi yang membanggakan.
Wakil Kepala SMKN 6 Jayapura Bidang Kurikulum Endah Kurniati mengatakan, sekolahnya memang kerap sepi peminat karena banyak orangtua lebih memilih sekolah di pusat Kota Jayapura. Selain itu, sekolah juga menghadapi keterbatasan fasilitas praktik sebagai sekolah kejuruan.
Meski demikian, guru Teknik Instalasi Listrik Anto Pallawa justru melihat jumlah murid yang terbatas membuat pembinaan lebih fokus. Hasilnya, SMKN 6 Jayapura berkali-kali menjadi juara tingkat Provinsi Papua dan mewakili daerah pada kompetisi nasional. Kepala sekolah Simon Tabisu juga menegaskan, pihaknya terus berupaya meyakinkan masyarakat bahwa sekolah tersebut mampu mencetak lulusan berkualitas.
Pengalaman itu menunjukkan bahwa masa depan sekolah tidak hanya ditentukan oleh banyaknya murid. Dengan dukungan pemerintah, peningkatan kualitas guru, fasilitas yang memadai, dan inovasi pembelajaran, sekolah yang kini kekurangan siswa tetap memiliki peluang berkembang dan kembali dipercaya masyarakat.




