Kasus terkonfirmasi COVID-19 di Tiongkok terus meningkat. Menurut data terbaru, Provinsi Guangdong melaporkan 129 kematian akibat penyakit menular selama Juni 2026. Di antara penyakit menular yang wajib dilaporkan, COVID-19 mencatat jumlah kasus terbanyak untuk penyakit Kategori B, sedangkan influenza menjadi penyakit Kategori C dengan jumlah kasus tertinggi.
EtIndonesia.com Pada 8 Juli, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Tiongkok (CDC) merilis data yang menunjukkan bahwa selama bulan Juni terdapat 79.000 kasus baru COVID-19 di seluruh negeri, termasuk 130 kasus berat dan 1 kematian. Laporan tersebut menyatakan bahwa jumlah kasus secara keseluruhan menunjukkan tren meningkat.
Dalam laporan yang sama, tercatat pula 592.906 kasus influenza secara nasional.
Pemantauan di rumah sakit sentinel menunjukkan bahwa seluruh kasus COVID-19 lokal pada Juni disebabkan oleh varian Omicron.
Pada 14 Juli, Biro Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Provinsi Guangdong merilis laporan situasi penyakit menular yang wajib dilaporkan untuk bulan Juni 2026.
Data tersebut menunjukkan bahwa selama bulan Juni terdapat 429.628 kasus penyakit menular dengan 129 kematian di seluruh provinsi.
Di antaranya:
- Penyakit Menular Kategori B: 64.546 kasus dan 128 kematian. Penyakit dengan jumlah kasus terbanyak adalah COVID-19.
- Penyakit Menular Kategori C: 365.082 kasus dan 1 kematian. Tiga penyakit dengan jumlah kasus terbanyak adalah influenza, penyakit tangan, kaki, dan mulut (HFMD), serta penyakit diare infeksi lainnya.
Khusus influenza, Guangdong melaporkan 274.328 kasus dan 1 kematian, menjadikannya penyakit Kategori C dengan jumlah kasus tertinggi.
Data tersebut juga menunjukkan bahwa Guangdong telah memasuki musim penyebaran influenza pada musim panas, dengan jumlah kasus yang meningkat tajam selama tiga bulan terakhir:
- April: sekitar 71.000 kasus
- Mei: sekitar 140.000 kasus
- Juni: sekitar 274.000 kasus
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Guangdong juga mengingatkan bahwa selain COVID-19 dan influenza, masyarakat perlu mewaspadai penyakit menular lain seperti:
- Demam Berdarah Dengue
- Penyakit Tangan, Kaki, dan Mulut (HFMD)
- Malaria
- Cacar Monyet (Mpox)
- Penyakit akibat Virus Ebola
Karena selama pandemi sebelumnya data resmi pemerintah Tiongkok sering dipertanyakan oleh berbagai pihak, sebagian masyarakat beranggapan bahwa kondisi sebenarnya mungkin lebih serius daripada angka yang diumumkan secara resmi.
Selain daratan Tiongkok, Hong Kong dan Macau juga dilaporkan mengalami peningkatan cepat kasus COVID-19 dalam beberapa waktu terakhir. Jumlah pasien kritis dan kematian juga terus bertambah. Varian yang dominan dilaporkan adalah NB.1.8.1 beserta subvariannya, terutama PQ.16.1.1.
Pada 14 Juli, seorang pekerja di bidang penyakit menular di Tiongkok mengatakan kepada The Epoch Times: “Kasus COVID-19 belakangan ini meningkat empat kali lipat. Saat ini yang perlu diwaspadai adalah difteri, respiratory syncytial virus (RSV), influenza, varian baru COVID-19, norovirus, campak, serta virus Nipah dan hantavirus di luar negeri, sementara di Afrika terutama Ebola.”
Pakar virologi Lin Xiaoxu mengatakan kepada The Epoch Times bahwa apabila infeksi COVID-19 terjadi bersamaan dengan penyakit pernapasan seperti difteri, risikonya dapat meningkat karena:
- Kerusakan pada lapisan saluran pernapasan membuat infeksi bakteri atau penyakit akibat toksin menjadi lebih mudah berkembang.
- Peradangan dan respons imun yang terjadi secara bersamaan dapat meningkatkan risiko komplikasi pada paru-paru, jantung, dan sistem saraf.
- Gejala yang saling tumpang tindih dapat menyebabkan diagnosis difteri terlambat.
“Bagi setiap individu, bahaya terbesar bukan sekadar batuk yang bertambah parah, melainkan kombinasi tekanan pada sistem pernapasan dan kekebalan akibat COVID-19 dengan efek racun difteri yang dapat menyebabkan penyumbatan saluran napas, miokarditis, dan gangguan saraf. Kondisi seperti ini harus dianggap sebagai keadaan darurat medis, bukan sekadar infeksi saluran pernapasan yang bisa dipantau di rumah,” katanya.
Ia juga memperingatkan bahwa kasus COVID-19 kembali meningkat di sejumlah wilayah, termasuk Asia Tenggara, Asia Timur, sebagian Australia, Auckland (Selandia Baru), beberapa negara bagian di Amerika Serikat, Inggris, dan wilayah lain di Eropa.
Menurutnya, banyak orang telah menerima anggapan bahwa COVID-19 kini telah menjadi penyakit endemik, sehingga cenderung meremehkan risiko yang masih dapat ditimbulkan oleh evolusi virus tersebut.
Disusun oleh Li Enzhen Editor penanggung jawab: Xia He





