Bisnis.com, JAKARTA — Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) buka suara perihal kelanjutan proses impor minyak mentah dari Rusia melalui badan layanan umum (BLU) Lemigas.
Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung menyampaikan bahwa pihaknya masih akan mengecek ulang besaran volume minyak mentah yang diterima dari proses tersebut.
“Jadi saya rasa itu dari mana asalnya, apakah itu ada dari Rusia dan berapa jumlahnya, kami cek dulu, ya,” kata Yuliot kepada wartawan di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis (16/7/2026).
Menurutnya, pengadaan minyak mentah umumnya dilakukan melalui sejumlah pemasok yang ada, lantas diterima dalam bentuk campuran atau blending.
Terkait impor yang dilakukan oleh Lemigas, dia menyebut proses ini dilakukan dengan bentuk kerja sama antarnegara melalui BLU sektor energi, dalam hal ini Lemigas.
Ketika ditanya perihal peruntukan minyak mentah tersebut, Yuliot menyatakan bahwa stok yang diterima akan menjadi penyangga cadangan energi nasional.
Baca Juga
- BBM Langka di Sumatra, ESDM Minta Pertamina dan BPH Migas Cek ke Lapangan
- Harga LPG 3 Kg, 5,5 Kg, dan 12 Kg Terbaru per 16 Juli 2026
- Lika-liku Blok Masela yang Akan Diresmikan Prabowo Usai 28 Tahun Mangkrak
“Belum, belum [diolah]. Jadi penyangga cadangan energi nasional. Saya cek dulu, ya,” ujarnya.
Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyebut bahwa Presiden Prabowo Subianto telah menerbitkan Keputusan Presiden (Keppres) No. 26/2026 yang mengatur pengadaan bahan bakar minyak (BBM). Beleid itu memberikan kewenangan kepada badan usaha dan Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi (Lemigas) untuk melakukan impor.
Menurut Bahlil, proses teknis pengadaan saat ini terus berjalan setelah kontrak diselesaikan oleh Lemigas, termasuk untuk rencana impor minyak mentah dari Rusia.
“Saya coba cek secara teknis ya, tapi yang saya tahu adalah kontrak sudah dilakukan. Dilakukan oleh Lemigas, BLU daripada Kementerian ESDM,” kata Bahlil saat ditemui di Hotel Borobudur, Jakarta, Kamis (25/6/2026).
Namun, dia belum memerinci waktu kedatangan perdana minyak mentah tersebut ke Indonesia. Sebelumnya, pemerintah menargetkan bakal mengimpor 150 juta barel minyak mentah dari Negeri Beruang Merah.





