JAKARTA, KOMPAS.com - Demam batu akik yang sempat terjadi Indonesia beberapa tahun lalu memang telah mereda. Namun, bukan berarti bisnis batu alam tersebut benar-benar kehilangan pasar.
Di balik lorong-lorong Pasar Rawa Bening, Jakarta Timur, aktivitas jual beli batu akik masih berlangsung meski dengan wajah yang berbeda.
Peneliti Pusat Industri, Perdagangan, dan Investasi INDEF Agung Satria Permana menilai bisnis batu akik kini memasuki fase normalisasi setelah melewati masa booming yang dipicu oleh tren masyarakat.
Baca juga: Jalan Senopati Jaksel Krisis Tempat Parkir, Bakal Disiapkan Lahan Khusus
Pada masa booming, kata Agung, permintaan batu akik meningkat sangat cepat karena didorong oleh tren di masyarakat. Lonjakan permintaan tersebut menyebabkan harga batu akik naik secara signifikan.
KOMPAS.com/LIDIA PRATAMA FEBRIAN Suasana di lapak pedagang di kawasan luar Pasar Rawa Bening, Jatinegara, Jakarta Timur, Selasa (14/7/2026).
Namun, ketika tren mulai meredup, permintaan ikut menurun sehingga harga batu akik yang sebelumnya berada pada level tinggi mengalami koreksi.
"Saat ini, bisnis batu akik cenderung berkembang sebagai pasar niche. Konsumennya lebih banyak berasal dari kalangan kolektor, penghobi, komunitas, serta pembeli yang memahami kualitas dan karakteristik batu, dibandingkan konsumen yang sekadar mengikuti tren seperti pada masa booming beberapa tahun lalu," ujar Agung saat dihubungi Kompas.com, Kamis (16/7/2026).
Menurut dia, kondisi tersebut menunjukkan pasar batu akik telah bergerak menuju keseimbangan baru.
Permintaan memang lebih kecil dibanding masa puncak, tetapi berasal dari konsumen yang relatif lebih loyal dan memahami nilai batu alam.
Dengan karakter pasar seperti itu, pelaku usaha tidak lagi dapat mengandalkan euforia sesaat. Mereka dituntut menawarkan kualitas, keaslian, dan nilai tambah agar mampu bertahan.
Agung menilai salah satu strategi yang dapat ditempuh adalah memperluas jangkauan pasar, termasuk menyasar pembeli luar negeri melalui ekosistem perdagangan digital.
Meski demikian, peluang tersebut tidak lepas dari tantangan. Tingginya peredaran batu imitasi, terutama di platform digital, membuat kepercayaan konsumen menjadi faktor yang sangat menentukan.
KOMPAS.com/LIDIA PRATAMA FEBRIAN Beragam cincin batu akik dan batu alam dipajang di lapak pedagang di kawasan luar Pasar Rawa Bening, Jatinegara, Jakarta Timur, Selasa (14/7/2026).
Karena itu, pelaku usaha perlu memperkuat daya saing melalui sertifikasi atau pengujian keaslian batu, standardisasi kualitas, transparansi informasi produk, pengembangan desain perhiasan yang lebih modern, penguatan merek, hingga penyampaian cerita mengenai asal-usul dan proses pengolahan setiap batu.
Baca juga: Wanita di Bekasi Mengaku Diperkosa Ayah Kandung dan Dua Paman Sejak Usia 13 Tahun
Menurut Agung, langkah-langkah tersebut dapat meningkatkan nilai jual sekaligus memperkuat posisi batu akik Indonesia di pasar internasional.
Di sisi lain, ia menilai diversifikasi usaha ke produk seperti emas, permata, atau perhiasan bukan pilihan yang mudah bagi sebagian besar pedagang batu akik.