Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas 'Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta mengembangkan sistem biokonversi berbasis Maggot Black Soldier Fly (BSF) yang mampu mereduksi hingga 80 persen volume sampah organik dalam waktu 14–21 hari. Sistem ini dirancang untuk mengolah limbah organik kampus menjadi pakan ternak berprotein tinggi sekaligus pupuk organik melalui skema ekonomi sirkular.
Inovasi tersebut memanfaatkan limbah dapur Sentra Produksi Pangan Gizi (SPPG) UNISA Yogyakarta dan kotoran ayam petelur dari unit peternakan kampus sebagai bahan baku.
Larva BSF (Hermetia illucens) mengurai limbah tersebut menjadi biomassa berprotein tinggi yang dimanfaatkan sebagai pakan alternatif ayam petelur, sementara residu hasil penguraiannya atau kasgot (frass) diolah menjadi pupuk organik.
Melalui sistem tersebut, UNISA Yogyakarta mengembangkan model pengelolaan limbah berbasis siklus tertutup (closed-loop), di mana sampah organik diproses menjadi pakan maggot, maggot dimanfaatkan sebagai sumber protein ternak, dan sisa hasil biokonversinya kembali digunakan sebagai pupuk.
Skema ini memungkinkan hampir seluruh limbah organik kampus dimanfaatkan kembali menjadi produk bernilai ekonomi.
Ketua Tim Inovasi Fakultas Sains dan Teknologi UNISA Yogyakarta, Arief Bimantara, mengatakan teknologi biokonversi maggot BSF dikembangkan untuk mengubah limbah organik menjadi sumber daya yang memiliki nilai tambah.
"Melalui teknologi biokonversi maggot BSF, kami ingin menunjukkan bahwa limbah organik memiliki nilai ekonomi yang tinggi apabila dikelola dengan pendekatan bioteknologi,” jelas Arief.
Ia menjelaskan, sistem yang dikembangkan tidak hanya berfokus pada pengolahan sampah, tetapi juga menghubungkan hasil biokonversi dengan pemanfaatannya sebagai pakan ternak dan pupuk organik dalam satu siklus.
"Konsep ini menghadirkan sistem yang saling terhubung, mulai dari pengolahan sampah, produksi pakan alternatif, hingga menghasilkan pupuk organik. Inilah implementasi nyata ekonomi sirkular yang kami harapkan dapat menjadi model pengelolaan lingkungan di perguruan tinggi," ujarnya.
Untuk mendukung implementasinya, FST UNISA Yogyakarta merancang fasilitas yang terdiri atas lima zona, yakni area penerimaan sampah organik, area persiapan dan pencacahan bahan, area budidaya dan biokonversi maggot, area pembiakan lalat BSF, serta kantor pengelola yang juga difungsikan sebagai pusat monitoring dan edukasi.
Saat ini, rancangan fasilitas tersebut masih ditampilkan dalam bentuk maket sebagai media edukasi dan perencanaan implementasi. Maket itu diperkenalkan kepada civitas academica dan masyarakat dalam rangkaian Milad ke-35 UNISA Yogyakarta.
Selain menjadi solusi pengelolaan limbah organik, sistem ini diproyeksikan dapat menekan biaya operasional kampus, terutama pada pengelolaan sampah dan pembelian pakan ternak.
Fasilitas tersebut juga direncanakan menjadi laboratorium riset bagi dosen dan mahasiswa di bidang bioteknologi, rekayasa lingkungan, serta manajemen ekonomi sirkular.
Pengembangan sistem biokonversi maggot BSF ini juga menjadi bagian dari kontribusi UNISA Yogyakarta dalam mendukung target Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya pada aspek konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, penanganan perubahan iklim, serta perlindungan ekosistem daratan.





