Bisnis.com, JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali menguat dan meninggalkan level psikologis Rp18.000. Hari ini, Kamis (16/7/2026), rupiah ditutup menguat 82 poin ke Rp17.986 per dolar AS.
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan rupiah masih berada dalam tekanan sentimen negatif. Dari global, sentimen datang dari kebijakan The Fed yang diperkirakan akan mengerek suku bunga demi menjaga inflasi di level 2%.
"Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.986 sampai Rp18.030 per dolar AS," kata Ibrahim, Kamis (16/7/2026).
Kebijakan bank sentral AS ke depan juga akan dipengaruhi oleh inflasi energi. Saat ini, pertempuran yang kembali terjadi di Timur Tengah mendorong harga minyak mentah lebih tinggi.
Menurut Ibrahim, eskalasi terbaru ini telah menghidupkan kembali kekhawatiran bahwa biaya energi yang lebih tinggi dapat memicu inflasi di masa depan, berpotensi membatasi ruang lingkup Federal Reserve untuk melonggarkan kebijakan.
"Terlepas dari latar belakang inflasi yang lebih lunak, pertempuran yang kembali terjadi di Timur Tengah telah membuat investor tetap waspada," ujarnya.
Baca Juga
- S&P Global Jadi Pemanis Rupiah, Geopolitik & The Fed Jadi Penentu
- Manulife Sebut Gejolak Rupiah dan Suku Bunga BI Tahan Yield SBN di Level Tinggi
- Kurs Dolar AS di BCA, BRI, Mandiri, dan BNI saat Rupiah Melemah Hari Ini (16/7)
Sementara dari sisi domestik, pasar sedang menyoroti langkah pemerintah dalam mengendalikan inflasi serta Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar.
Ibrahim mengatakan pemerintah sedang mempersiapkan langkah-langkah fiskal untuk mengendalikan inflasi, khususnya pada komoditas pangan yang volatil dan meningkatnya biaya industri.
Dia mencatat, sejumlah langkah mitigasi untuk menjaga laju inflasi, terutama dari komponen harga pangan bergejolak atau volatile food, serta sejumlah biaya produksi yang berpotensi mendorong kenaikan harga barang.
"Selain itu, Bank Indonesia mengklaim independensinya diakui oleh lembaga pemeringkat global. Hal itu menyusul laporan S&P Global Ratings (S&P) terkait peringkat utang dan outlook Indonesia. Sebelumnya, independensi BI menjadi salah satu aspek yang disorot oleh dua lembaga pemeringkat, yakni Moody's dan Fitch Ratings," kata dia.
Ibrahim melihat bahwa S&P Global Ratings masih mempercayai independensi lembaga moneter Indonesia. BI masih bisa mengambil keputusan untuk menaikkan tingkat suku bunga acuan (BI-Rate) menjadi 5,75%. Lebih lanjut, independensi BI didukung oleh kebijakan otoritas fiskal yang berkelanjutan.
"Alhasil, otoritas moneter bisa mengambil kebijakan yang positif bagi ekonomi Indonesia. Bank Indonesia terus berkomitmen untuk memperkuat bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran dalam memperkuat stabilitas dan turut mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan," pungkasnya.





