Hong Kong menggeser Singapura sebagai negara asal investasi asing terbesar ke Indonesia pada triwulan II 2026. Nilai investasi dari Hong Kong mencapai US$5 miliar, lebih tinggi dibandingkan Singapura sebesar US$4,2 miliar.
Kemudian diikuti oleh Tiongkok US$1,7 miliar, Jepang US$0,9 miliar, dan Malaysia US$0,7 miliar. Lima negara tersebut menyumbang 79,6% dari total investasi asing pada triwulan II 2026.
“Ternyata dalam triwulan kedua ini untuk pertama kalinya dalam 10 tahun terakhir, Cina investasinya lebih agresif melalui Hong Kong, sehingga tempat pertama dari investasi di kuota kedua ini ditempati oleh Hong Kong dengan 5,5 miliar,” ujar Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani dalam konferensi pers di Istana Merdeka Jakarta pada Kamis (16/7).
Rosan Roeslani menyampaikan capaian realisasi investasi Indonesia pada triwulan II April-Juni tahun ini mencapai Rp511,8 triliun. Angka ini sekitar 25,1% dari target investasi nasional tahunan sebesar Rp2.041,3 triliun. “Ini peningkatan 7,1% dari tiga bulan pertama,” kata Rosan dalam konferensi pers di Istana Merdeka Jakarta pada Kamis (16/7).
Ia menguraikan serapan investasi April-Juni ini didominasi oleh Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar Rp257,7 triliun atau 50,4% dari total investasi, sedangkan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sejumlah Rp254,1 triliun. Berdasarkan wilayah, investasi di luar Pulau Jawa mencapai Rp256,5 triliun, lebih tinggi dibandingkan investasi di Pulau Jawa yang sebesar Rp255,3 triliun.
DKI Jakarta menjadi lokasi investasi terbesar pada triwulan II dengan realisasi Rp94,9 triliun. Jawa Barat berada di posisi kedua dengan Rp61,3 triliun, dan Maluku Utara Rp40,2 triliun. Dari sisi sektor usaha, industri logam dasar, barang logam, bukan mesin dan peralatannya masih menjadi kontributor utama investasi dengan nilai Rp81 triliun atau 15,8% dari total realisasi.
Selanjutnya adalah sektor transportasi, pergudangan dan telekomunikasi sebesar Rp57,3 triliun, pertambangan Rp53,1 triliun, jasa lainnya Rp49,7 triliun, serta perdagangan dan reparasi Rp40,8 triliun.
Investasi pada sektor hilirisasi selama triwulan II mencapai Rp152,7 triliun atau 29,8% dari total investasi nasional. Nilai tersebut tumbuh 5,7% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
PMA mendominasi investasi hilirisasi sebesar Rp114,4 triliun, sementara PMDN mencapai Rp38,3 triliun. Maluku Utara menjadi tujuan investasi hilirisasi terbesar dengan nilai Rp35,3 triliun, disusul Sulawesi Tengah Rp32 triliun.
Rosan juga menyoroti perubahan komposisi investasi di sektor hilirisasi periode ini yang untuk pertama kalinya banyak datang dari industri bauksit. “Biasanya itu nikel selalu di nomor satu. Nah ini ada shifting ke bauksit jadi nomor satu,” kata Rosan.
Adapun investasi hilirisasi bauksit pada triwulan II mencapai Rp40,1 triliun. Angka tersebut melampaui investasi hilirisasi nikel yang sebesar Rp29,4 triliun. Sementara itu, investasi pada komoditas tembaga tercatat Rp16,7 triliun, besi baja Rp13,2 triliun, pasir silika Rp4 triliun, dan komoditas mineral lainnya Rp4,7 triliun.




