Jurus Emiten Grup Sinarmas (DMAS) Rayu Investor Masuk Deltamas

bisnis.com
3 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Emiten milik grup Sinarmas, PT Puradelta Lestari Tbk. (DMAS) menyiapkan sejumlah strategi untuk menggenjot pertumbuhan bisnis sepanjang 2026.

Sekretaris Perusahaan dan Direktur DMAS Tondy Suwanto mengatakan untuk menjaga momentum pertumbuhan sekaligus menarik investasi baru, DMAS menjalankan lima strategi utama. Strategi pertama adalah memperkuat infrastruktur digital bagi industri data center. 

"Perseroan telah menyiapkan kawasan khusus data center di Greenland International Industrial Center atau GIIC yang dilengkapi hingga 12 penyedia layanan internet dari sumber berbeda guna menjamin redundansi dan keamanan operasional," ujarnya, dikutip Kamis (16/7/2026).

Saat ini, sebutnya, telah beroperasi sekitar 15 data center di kawasan GIIC, sementara lahan baru terus disiapkan untuk mengakomodasi permintaan berikutnya.

Kedua, DMAS melakukan diversifikasi bisnis dengan tidak hanya mengandalkan penjualan lahan industri, tetapi juga mengembangkan produk komersial dan kawasan hunian. Langkah tersebut didukung prospek konsumsi domestik yang dinilai masih positif serta dukungan pemerintah terhadap pertumbuhan ekonomi.

Strategi ketiga adalah memperkuat konsep One Stop Living City. Perseroan terus membangun kawasan terpadu yang menggabungkan fungsi industri, hunian, pusat gaya hidup, olahraga, hingga pusat perbelanjaan sehingga mampu menarik berbagai segmen pelanggan secara bersamaan.

Baca Juga

  • DMAS Bidik Marketing Sales Rp2,08 T di 2026 Fokus Data Center
  • Puradelta Lestari (DMAS) Sepakati Dividen Rp799 Miliar, Ini Jadwalnya
  • Puradelta Lestari (DMAS) Raih Marketing Sales Rp561,43 Miliar Kuartal I/2026

Selanjutnya, DMAS mengandalkan peningkatan konektivitas kawasan melalui pembangunan akses infrastruktur. Pembukaan akses Tol Japek II Selatan KM 31 akan menghubungkan langsung Kota Deltamas dengan koridor Jakarta–Cikampek Selatan. Selain akses Tol Jakarta-Cikampek di KM 37 yang telah beroperasi, perseroan juga menantikan penyelesaian akses KM 42 yang akan terintegrasi dengan Stasiun Kereta Cepat Jakarta–Bandung (KCJB).

Manajemen menilai, keberadaan tiga akses tol akan menjadi keunggulan kompetitif yang sulit ditandingi kawasan industri lainnya.

Strategi terakhir adalah memperkuat komitmen terhadap aspek Environmental, Social, and Governance (ESG). Kota Deltamas, disebutnya telah mengoperasikan Security, Fire and Command Center, fasilitas Water Treatment Plant (WTP) Recycle, program Zero Run Off Water Discharge, serta Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) yang mengolah sampah menjadi kompos, pakan maggot, dan refuse-derived fuel (RDF) sebagai bahan baku industri semen.

Di tengah dinamika geopolitik global, DMAS menilai belum terjadi perubahan signifikan terhadap profil investor yang masuk ke kawasan industri. Hal itu karena mayoritas permintaan masih berasal dari sektor yang memiliki pertumbuhan struktural.

Selain data center, perseroan membidik investor dari sektor FMCG dan makanan-minuman (F&B) yang dinilai tetap tangguh berkat besarnya konsumsi domestik Indonesia.

DMAS juga melihat peluang besar dari sektor logistik dan supply chain, seiring meningkatnya kebutuhan pusat distribusi nasional. Posisi strategis Cikarang sebagai hub logistik, ditambah rencana tiga akses tol langsung menuju kawasan, diyakini akan semakin meningkatkan daya tarik investasi.

Di sisi manufaktur, perseroan aktif membidik investasi pada sektor elektronik, otomotif, termasuk kendaraan listrik (electric vehicle/EV), serta komponen teknologi. Didukung ekosistem industri otomotif yang telah berkembang di koridor Jakarta–Cikampek serta ketersediaan tenaga kerja terampil, Kota Deltamas optimistis mampu mempertahankan posisinya sebagai salah satu tujuan utama investasi industri di Indonesia.

Dengan kombinasi penguatan infrastruktur digital, peningkatan konektivitas, pengembangan kawasan terpadu, serta fokus pada sektor-sektor yang tengah bertumbuh, DMAS optimistis target pra penjualan sebesar Rp2,08 triliun pada 2026 dapat tercapai sekaligus menjaga momentum pertumbuhan bisnis di tengah tantangan ekonomi global.

Hingga awal tahun, perseroan mencatat pipeline permintaan lahan industri mencapai sekitar 75 hektare, di mana lebih dari 70% berasal dari investor data center.

Menurut Tondy, tingginya kebutuhan infrastruktur digital yang didorong oleh perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan komputasi real time membuat permintaan terhadap kawasan data center tetap kuat meski kondisi geopolitik global masih bergejolak.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Purbaya Belum Putuskan Hapus Pajak JHT, Ini Alasannya
• 13 jam laluidxchannel.com
thumb
Bansos PKH dan BPNT Cair 20 Juli 2026, Ini Besaran Nominal dan Syarat Penerimanya
• 14 jam lalubisnis.com
thumb
ASN Nias Lompat dari Lantai 12 Apartemen di Medan, Kakinya Putus Kena Tembok
• 19 jam lalukumparan.com
thumb
Bursa Transfer Pemain Timnas Indonesia Abroad: Ipswich Town Lepas Elkan Baggott Permanen ke Klub Kasta Kedua Liga Inggris
• 19 jam lalutvonenews.com
thumb
Di Balik Laporan Ahmadinejad: Pertarungan Narasi Perang Iran
• 3 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.