Nama Kuda Troya mungkin sudah akrab di telinga, tapi tidak dengan nasib sang konseptor utamanya. Lewat ‘The Odyssey’, Christopher Nolan sang sutradara tidak lagi mengulas megahnya perang, melainkan menyeret penonton masuk ke dalam takdir tragis sang penggagas taktik, Odysseus.
Pasca-kesuksesan besar Oppenheimer, Nolan membawa penonton menyelami dunia mitologi Yunani kuno. Perjuangan Odysseus dan pasukannya ternyata tidak terhenti sesudah memenangkan perang di Troya. Mereka masih harus bertaruh nyawa di perjalanan pulang, menghindari maut yang ditakdirkan para dewa.
Dibuka dengan adegan ‘nyanyian Odysseus’ sebagai pahlawan perang yang belum juga pulang ke Ithaca, para peminang sudah berkumpul untuk menikahi istri Odysseus, supaya bisa mengambil alih takhta. Meski di sana masih ada Thelemacus, putra Odysseus. Alur cerita selanjutnya tidak linear, tapi masih cukup nyaman untuk diikuti.
Matt Damon memerankan Odysseus, tokoh utama di film “The Odyssey”. Foto: Universal Pictures InternationalNolan tidak secara mentah menampilkan kisah-kisah dan makhluk mitologi yang ditemui Odysseus. Tiap perhentian dan pertemuan bisa dimaknai sebagai wujud fisik dari pergolakan jiwa Odysseus sebagai veteran perang.
Menonton film ini tidak seperti melihat pahlawan yang bertarung melawan monster, melainkan melihat seorang manusia yang menghadapi sisi gelap dirinya sendiri demi bisa pulang ke rumah. Berbagai hal yang dilewati memunculkan pertanyaan: apakah ini kutukan penguasa Olympus, atau murni ketidakberdayaan manusia di hadapan alam?
Mulai tayang di Indonesia 15 Juli 2026, film ini berdurasi hampir 3 jam. Mencetak sejarah sebagai film panjang komersial pertama yang direkam sepenuhnya dengan kamera IMAX. Nolan meminimalkan penggunaan CGI komputer, supaya penonton bisa merasakan atmosfer yang ‘lebih nyata’ dengan efek fisik dan boneka animatronik.
The Odyssey dibintangi Matt Damon, Anne Hathaway, Tom Holland, Zendaya, Robert Pattinson dan Lupita Nyong’o. Sebagai tokoh utama, Matt Damon menampilkan sosok pemimpin yang cerdik dengan daya juang luar biasa, tapi juga punya sisi rapuh.
Film yang diproduksi Universal Pictures dan Syncopy ini mendapat rating R (Dewasa) karena intensitas pertempuran yang brutal. Penggemar film petualangan fantasi bisa menjadikan The Odyssey sebagai pilihan tontonan bulan ini. Film yang menjaga esensi spiritualitas puisi epos kuno karya Homer, sekaligus relevan untuk penonton modern yang akrab dengan konflik moral dan pencarian jati diri.(din/ipg)




