Ketika Lesung Menjadi Panggung: Jejak Harmoni Kareku Kandei dan Mappadendang di Timur Nusantara

harianfajar
4 jam lalu
Cover Berita

Oleh: Ipa Bahya
Alumni Unhas

Suara “duk… tak… duk… tak…” terdengar bersahutan dari sebuah lesung kayu yang dikelilingi beberapa perempuan. Alu yang mereka genggam bergerak naik turun dengan irama yang teratur. Tidak ada aba-aba, tidak ada dirigen. Namun setiap hentakan terdengar begitu serasi, seolah-olah mereka telah berlatih selama bertahun-tahun. Wajah-wajah yang semula serius perlahan berubah menjadi senyum, diselingi tawa dan percakapan ringan. Bagi masyarakat Bima, bunyi itu bukan sekadar suara alu yang menghantam lesung. Itulah Kareku Kandei, sebuah tradisi yang mengubah pekerjaan menjadi musik dan kebersamaan menjadi sebuah pertunjukan budaya.

Pemandangan serupa ternyata dapat ditemukan sekitar 500 kilometer ke arah barat, di Sulawesi Selatan. Di sana, masyarakat Bugis mengenalnya dengan nama Mappadendang. Sama-sama menggunakan alu dan lesung, sama-sama dimainkan secara berkelompok, serta sama-sama lahir dari kehidupan petani padi. Kemiripan ini kerap memunculkan pertanyaan: apakah Kareku Kandei dan Mappadendang memiliki hubungan sejarah, atau hanya kebetulan berkembang dalam bentuk yang hampir sama?

Pertanyaan itu bukan tanpa alasan. Selama berabad-abad, Bima dan Sulawesi Selatan merupakan dua wilayah yang saling terhubung melalui jalur pelayaran Nusantara. Kapal-kapal kayu milik para pelaut Bugis dan Makassar rutin berlayar menuju Bima membawa berbagai komoditas perdagangan. Sebaliknya, Bima menjadi pemasok hasil pertanian, kuda, kayu, dan berbagai kebutuhan penting bagi kawasan timur Indonesia. Hubungan dagang itu tidak hanya mempertemukan barang, tetapi juga mempertemukan manusia, bahasa, tradisi, bahkan cara pandang terhadap kehidupan.

Dalam sejarah Kesultanan Bima, hubungan dengan kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan memiliki arti penting. Setelah Islam berkembang pada awal abad ketujuh belas, interaksi kedua wilayah semakin intensif. Para ulama, pedagang, bangsawan, hingga perantau Bugis dan Makassar menetap di Bima. Dari proses inilah terjadi pertukaran budaya yang berlangsung perlahan selama ratusan tahun. Tradisi, bahasa, tata pemerintahan, hingga kesenian saling memengaruhi tanpa menghilangkan identitas masing-masing.

Di tengah hubungan sejarah tersebut, Kareku Kandei dan Mappadendang tumbuh sebagai dua ekspresi budaya yang memperlihatkan kemiripan luar biasa. Keduanya lahir dari aktivitas yang sama: menumbuk padi menggunakan alu dan lesung. Sebelum hadirnya mesin penggiling modern, pekerjaan itu merupakan bagian penting dalam kehidupan sehari-hari masyarakat agraris. Menumbuk padi membutuhkan tenaga, ketelitian, dan kerja sama. Agar gerakan tetap selaras, para perempuan menciptakan pola ketukan yang teratur. Dari kebutuhan praktis itulah musik lahir.
Menariknya, musik dalam kedua tradisi tersebut tidak pernah dirancang sebagai hiburan semata. Irama yang terdengar justru menjadi alat untuk menjaga kekompakan, mengurangi rasa lelah, sekaligus mempererat hubungan sosial. Lesung yang awalnya hanya berfungsi sebagai alat pengolah hasil panen berubah menjadi panggung sederhana tempat masyarakat merayakan kerja bersama. Di sana tidak ada batas antara seni dan kehidupan. Keduanya menyatu dalam setiap hentakan alu yang berpadu dengan tawa para pemain.

Meski memiliki akar yang serupa, Kareku Kandei dan Mappadendang berkembang dengan karakter yang berbeda. Kareku Kandei di Bima tetap mempertahankan kesederhanaannya. Pertunjukan lebih menonjolkan ritme alami yang lahir dari aktivitas kerja, dengan perempuan sebagai pelaku utama. Tidak banyak unsur tambahan yang menyertainya. Justru kesederhanaan itulah yang menjadi daya tarik Kareku Kandei. Setiap bunyi yang dihasilkan mencerminkan kehidupan masyarakat Bima yang dekat dengan sawah, ladang, dan semangat gotong royong.

Sementara itu, Mappadendang di Sulawesi Selatan mengalami perkembangan yang lebih kompleks. Tradisi ini tidak lagi hanya menjadi aktivitas pascapanen, tetapi telah menjelma menjadi pertunjukan budaya yang memadukan permainan ritme, tari, nyanyian, pakaian adat, dan prosesi seremonial. Dalam berbagai festival budaya, Mappadendang tampil sebagai representasi identitas masyarakat Bugis yang penuh semangat dan kebanggaan terhadap tradisi leluhurnya.
Meskipun demikian, keduanya memiliki pesan yang sama. Baik Kareku Kandei maupun Mappadendang mengajarkan bahwa hasil panen bukan hanya berkaitan dengan kecukupan pangan, tetapi juga tentang rasa syukur, kerja sama, dan penghormatan terhadap alam. Tradisi tersebut memperlihatkan bagaimana masyarakat Nusantara memaknai pertanian sebagai bagian dari kehidupan sosial, bukan sekadar aktivitas ekonomi.

Perempuan menjadi tokoh utama dalam kedua tradisi itu. Di balik bunyi alu dan lesung, mereka sesungguhnya sedang menjalankan peran yang jauh lebih besar daripada sekadar mengolah padi. Mereka menjaga irama kehidupan kampung, mewariskan keterampilan kepada generasi muda, sekaligus mempertahankan nilai-nilai kebersamaan yang diwariskan leluhur. Dalam setiap hentakan alu, tersimpan cerita tentang ketekunan, kesabaran, dan solidaritas yang telah bertahan selama berabad-abad.

Para ahli antropologi melihat kemiripan antara Kareku Kandei dan Mappadendang sebagai sesuatu yang wajar. Hubungan dagang yang panjang memungkinkan terjadinya pertukaran budaya antara Bima dan Sulawesi Selatan. Namun, ada pula pandangan lain yang menyebut bahwa kedua tradisi tersebut dapat berkembang secara mandiri karena lahir dari lingkungan kehidupan yang sama. Masyarakat agraris di berbagai daerah sering kali menghadapi persoalan serupa: bagaimana mengolah hasil panen secara efisien dan bagaimana menjaga semangat kerja bersama. Dari kebutuhan itu muncul ritme, dari ritme lahir musik, dan dari musik tumbuh tradisi.

Kini, tantangan terbesar datang dari perubahan zaman. Mesin penggiling padi telah menggantikan lesung di hampir setiap desa. Aktivitas menumbuk padi yang dahulu menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari semakin jarang dilakukan. Akibatnya, Kareku Kandei maupun Mappadendang kehilangan ruang alami tempat tradisi itu tumbuh. Keduanya kini lebih sering hadir di panggung festival, perayaan budaya, atau acara penyambutan tamu daripada di halaman rumah para petani.

Namun, perubahan fungsi tersebut tidak berarti menghilangkan maknanya. Justru di tengah modernisasi, kedua tradisi ini menjadi pengingat bahwa masyarakat Indonesia pernah membangun peradabannya melalui kerja kolektif. Mereka mengajarkan bahwa kebersamaan dapat menghasilkan harmoni, bahkan dari bunyi sederhana yang tercipta oleh kayu yang saling beradu.

Pada akhirnya, Kareku Kandei dan Mappadendang bukanlah dua tradisi yang harus diperdebatkan siapa yang lebih tua atau siapa yang memengaruhi siapa. Keduanya adalah dua kisah yang tumbuh di tanah yang berbeda, tetapi dipersatukan oleh pengalaman hidup yang hampir sama. Keduanya lahir dari sawah, dari tangan-tangan perempuan, dari rasa syukur atas panen, dan dari semangat gotong royong yang menjadi denyut kehidupan masyarakat Nusantara. Ketika alu menghantam lesung dan menghasilkan irama yang selaras, yang terdengar bukan hanya bunyi kayu, melainkan gema sejarah yang menghubungkan Bima dan Bugis dalam satu harmoni budaya Indonesia.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pengendali PKPK Pindahkan 75 Persen Saham via Pasar Negosiasi
• 8 jam laluidxchannel.com
thumb
Ribut Ijazah Jokowi Tak Kelar, Akademisi Usul Cara Berani Tuntaskan Perdebatan
• 14 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
JPU Minta Hakim Tolak Eksepsi Dokter Tifa di Kasus Ijazah Jokowi
• 10 jam laluokezone.com
thumb
Hasil Inggris Vs Argentina 1-2: Tim Tango Comeback Langsung Hancurkan Mimpi The Three Lions ke Final Piala Dunia 2026
• 19 jam laluviva.co.id
thumb
Soroti Kasus Perundungan, Puan Ingatkan Sekolah Harus Jadi Ruang Aman
• 9 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.