Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan harga gas alam cair atau liquified natural gas (LNG) dari Blok Masela masih dibahas.
Bahlil mengatakan untuk harga gas pipa, terutama bagi industri pengguna Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) seperti sektor pupuk, harganya tetap USD 6-7 per MMBTU. Nantinya, akan dibangun pipa gas sepanjang 180 kilometer dari lapangan yang ada di lepas pantai (offshore).
"Kalau kita pakai pipa, pipanya itu kan 180 kilometer. Dengan LNG-nya nanti, storage-nya nanti ada sebagian yang kita akan tarik dari laut, itu bisa kita blending. Yang jelas untuk pupuk itu kemarin kita sudah dapat kurang lebih sekitar USD 6 sampai USD 7 per MMBTU," ungkap Bahlil saat ditemui di Kepulauan Tanimbar, Maluku, Kamis (16/7).
Sementara untuk LNG, Bahlil menyebut harganya menyesuaikan formula yang mengikuti harga minyak Indonesia atau Indonesia Crude Price (ICP).
"LNG-nya memang dia akan memakai formulasi ICP. Tetapi yang saya inginkan adalah proses bahan bakunya dari sini sekalipun nilai rendah tapi multiplier effect, nilai tambahnya akan terjadi di sini," tutur Bahlil.
Pengembangan Blok Masela akan meliputi Fasilitas bawah laut (subsea), termasuk sumur bawah laut, pusat pengeboran (drilling centers), Subsea Umbilicals Risers and Flowlines (SURF), CO2 injection well, dan SURF untuk fasilitas CCS.
Nilai investasi proyek dikonfirmasi sekitar USD 20,9 miliar atau sekitar Rp 342 triliun, termasuk komponen tambahan USD 1 miliar untuk teknologi CCS. Kapasitas produksi LNG direncanakan mencapai 9,5 juta ton per tahun, kondensat hingga 35.000 barel per hari, dan gas alam sekitar 150 juta kaki kubik per hari.
"Pertama adalah 11 sumur pengembangan ditambah 4 sumur lanjutan. Yang kedua, pembangunan fasilitas berbagai macam fasilitas termasuk pelabuhan, dermaga, EPC-nya ini langsung berjalan," jelas Bahlil.
Produksi gas dari Blok Masela dialokasikan 60 persen untuk domestik, sementara sisanya 40 persen untuk diekspor. Penyerapan gas untuk domestik salah satunya untuk industri hilirisasi pupuk dan blue ammonia yang dibangun PT Pupuk Indonesia, kemudian PT Perusahaan Gas Negara (PGN), dan PT PLN.
"Dirut PT Pupuk akan membangun industri hilirisasi di sini. Kemudian kita akan menyerahkan sebagian kepada PLN, PGN, dan beberapa perusahaan swasta yang sekaligus untuk meningkatkan nilai tambah dalam rangka mendorong penciptaan nilai ekonomi di daerah," tutur Bahlil.
Ditemui terpisah, Kepala SKK Migas Djoko Siswanto mengatakan sudah ada beberapa pembeli luar negeri yang akan menggunakan gas dari Blok Masela, seiring dengan dimulainya proses tender EPC dan target Final Investment Decision (FID) akhir tahun ini.
Menjelang penyelesaian FID, lanjut Djoko, maka perusahaan sudah menetapkan harga LNG yakni senilai USD 12,5 per MMBTU.
"Kan kita tahu FID itu ketika tahu cost-nya kan? Kemudian harga gasnya juga sudah semua nanti, kan antara LNG ekspor harganya beda-beda tipis lah, (USD) 12,5 (per MMBTU) gitu ya," ungkap Djoko.





