Krisis bahan bakar minyak yang berlarut-larut merembet ke distribusi bahan pangan. Sayuran dan bahan pangan lain membusuk di jalan karena kendaraan harus antre BBM berjam-jam. Sebagian hasil panen bahkan tak bisa diangkut menyebabkan harga di tingkat petani anjlok tetapi harga di pasar tetap tinggi karena pasokan pangan menipis di perkotaan.
Hari sudah menjelang siang di Pasar Raya Medan Mega Trada Center (MMTC), Sumut, Kamis (16/7/2026). Namun, Onas Sebayang (30) baru saja tiba di pasar induk tersebut membawa berbagai jenis sayur-sayuran dari sentra pertanian Kabupaten Karo. Dia harusnya sudah tiba pada Rabu sebelum tengah malam.
Onas bersungut-sungut saat menurunkan sekitar 200 kilogram sayur sawi pahit yang sudah mulai membusuk. Sayur kembang kol nasibnya hampir sama, tetapi masih bisa diselamatkan dengan membuang lapisan luarnya yang membusuk.
“Bagaimana sayur enggak busuk. Kami harus berburu solar dulu seharian dan antre berjam-jam agar dapat solar,” kata Onas.
Rantai pasok bahan pangan terguncang akibat krisis solar bersubsidi yang tak kunjung bisa diatasi selama berbulan-bulan. Saat pasokan BBM lancar, hasil panen dari sentra pertanian seperti Karo, Dairi, dan Simalungun sudah mulai diangkut dari ladang setiap sore.
Bahan pangan seperti sayur-sayuran, cabai merah, cabai hijau, umbi-umbian, dan rempah biasanya sudah tiba sekitar pukul 23.00 WIB di dua pasar induk di Medan, yakni Pasar Induk Lau Cih dan Pasar Raya MMTC. Para pedagang pengecer dari Medan dan daerah lainnya sudah berbelanja sejak tengah malam.
Bahan pangan pun sudah tiba di kios-kios pedagang pengecer di permukiman warga saat subuh. Bahan makanan itu lalu dibeli konsumen dan tersaji di meja makan pada pagi hari. Begitulah rantai pasok bahan pangan di Sumut saat pasokan BBM normal.
Kami heran, kenapa krisis solar ini enggak bisa diatasi padahal sudah berbulan-bulan.
Namun, sejak krisis BBM melanda, rantai pasok itu berubah total. Barang dagangan masih penuh di lapak-lapak Pasar Raya MMTC hingga siang. Bahkan, beberapa pikap pengangkut sayuran baru tiba, sebagaimana yang dialami Onas.
Onas sudah berkeliling ke ladang-ladang pada Rabu siang hingga sore. Setelah memuat berbagai jenis sayur, dia berburu solar bersubsidi. Dia akhirnya menemukan SPBU yang mempunyai stok dan mulai mengantre pada Rabu malam.
“Setelah mengantre dua jam, stok solar di SPBU itu habis. Saya lanjut antre di SPBU lain dan antre dua jam lagi. Saya baru bisa mengisi solar sekitar pukul 05.00 tadi. Di perjalanan, lalu-lintas macet di sejumlah SPBU. Perjalanan Karo-Medan yang seharusnya dua jam bengkak jadi lima jam,” kata Onas.
Saat pasokan solar masih baik, Onas biasanya sudah tiba di pasar induk Medan sekitar pukul 23.00. Kini, hampir setiap hari dia terlambat ke pasar dan baru tiba pagi atau siang.
Akibatnya, beberapa jenis sayuran membusuk di jalan. Sayur sawi pahit itu dia beli dari petani Rp 4.000 per kilogram. Seharusnya, dia menjualnya Rp 5.000 – Rp 6.000. Namun, dengan keadaannya yang mulai membusuk, tidak ada pedagang yang mau menampung.
“Saya sudah banting harga sampai Rp 2.000, tapi enggak ada yang mau,” kata Onas. Dia pun akhirnya menurunkan sawi pahit tersebut dari pikapnya.
Selain membusuk di perjalanan, kata Onas, saat ini banyak juga hasil panen petani tak bisa diangkut karena armada tertahan di SPBU. Harga di petani pun akhirnya anjlok karena pasokan melimpah, tetapi tak bisa diangkut. Tauke juga terpaksa menurunkan harga untuk menutupi kerugian akibat krisis BBM.
“Kami heran, kenapa krisis solar ini enggak bisa diatasi padahal sudah berbulan-bulan. Semua menderita kalau sudah begini. Padahal, solar ini menyangkut hidup banyak orang,” kata Onas.
Billy Pelawi (35) juga mengalami hal yang sama. Sayur-sayuran yang dia angkut juga sudah mulai layu. Dia menawarkan barang-barangnya kepada sejumlah pedagang, tetapi hingga menjelang siang sebagian besar sayur-sayuran yang dia angkut belum laku.
“Kalau sudah siang begini, sudah sangat sulit jualan sayur-sayuran. Harganya juga sudah turun. Beberapa hari terakhir ini, kami sering terlambat karena krisis solar,” kata Billy.
Para pedagang juga merugi akibat gangguan rantai pasok itu. Hema Sitepu (45), pedagang di Pasar Raya MMTC, mengatakan, dia biasanya sudah tidur di rumah saat siang tiba.
“Namun, ini barang-barang masih banyak, gimana mau pulang. Sejak BBM langka, harga-harga tinggi, pembeli pun sepi,” kata Hema.
Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat Organisasi Angkutan Darat Kurnia Lesani Adnan menyebut, krisis BBM sangat memukul angkutan logistik akibat krisis solar yang terjadi selama berbulan-bulan. Kurnia meminta agar krisis segera diatasi karena menyangkut hajat hidup orang banyak.
Sementara itu, Direktur Optimasi Hilir dan Distribusi PT Pertamina Patra Niaga Hari Purnomo mengatakan, mereka telah menjalankan sejumlah langkah untuk mengatasi kelangkaan BBM yang terjadi di Sumut.
“Kami memastikan Integrated Terminal Medan Group beroperasi secara lancar selama 24 jam serta mengoptimalkan operasional Fuel Terminal Pematang Siantar, Fuel Terminal Kisaran, dan Integrated Terminal Lhokseumawe untuk mendukung percepatan penyaluran BBM ke SPBU di wilayah Sumut,” kata Hari dalam keterangan tertulisnya.
Hari mengatakan, persoalan distribusi BBM tidak disebabkan aksi mogok awak mobil tangki sebagaimana kabar yang beredar. Distribusi BBM tetap berjalan oleh PT Elnusa Petrofin selaku mitra transportasi.
Kepala Perwakilan Ombudsman Sumut Herdensi mengatakan, pemenuhan pasokan BBM adalah layanan dasar yang harus dipenuhi pemerintah melalui PT Pertamina. Krisis BBM yang berlarut-larut sangat memukul kehidupan masyarakat. Herdensi meminta agar pemerintah dan Pertamina segera mengatasi krisis BBM yang melanda Sumut.
Ombudsman akan terus memantau perkembangan penanganan gangguan distribusi BBM di Sumut. Apabila ditemukan dugaan maladministrasi dalam penyelenggaraan pelayanan, Ombudsman akan melakukan pemeriksaan dan meminta tindakan korektif.





