JAKARTA, KOMPAS — Sekitar 1 juta warga Indonesia masih memilih untuk berobat ke luar negeri, termasuk berobat untuk layanan jantung. Hal tersebut dinilai bukan sekadar persoalan kualitas dokter, melainkan lebih karena persoalan kepercayaan dan kualitas dari pelayanan yang diberikan.
Hal tersebut disampaikan Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono saat memberikan pidato pembuka dalam forum The 35th Annual Scientific Meeting of the Indonesian Heart Association di Jakarta, Kamis (16/7/2026).
Menurut Dante, kepercayaan pasien pada dokter menjadi salah satu persoalan utama yang membuat banyak warga Indonesia berobat ke luar negeri. ”Bukan karena mereka (pasien berobat ke luar negeri) tidak cinta Indonesia. Bukan pula karena dokter-dokter kita tidak kompeten, tetapi karena suatu titik yang namanya trust atau kepercayaan,” ujarnya.
Dante pun mengakui, sistem kesehatan di Indonesia belum terbangun dengan kokoh, termasuk sistem pelayanan untuk penyakit jantung. Padahal, kasus penyakit jantung di Indonesia terus meningkat.
Data Kementerian Kesehatan menunjukkan, prevalensi penyakit jantung melonjak lebih dari dua kali lipat selama satu dekade terakhir. Pada 2023, prevalensi penyakit jantung 1,08 persen atau 2,29 juta orang dari 212,6 juta penduduk. Jumlah itu naik lebih dari 120 persen dibandingkan tahun 2013 yang hanya 0,49 persen atau 855.000 orang dari 174 juta penduduk.
Kepercayaan pasien pada dokter menjadi salah satu persoalan utama yang membuat banyak warga Indonesia berobat ke luar negeri.
Dante menyebutkan, jumlah kasus penyakit jantung yang semakin besar belum diiringi dengan ketersediaan dokter spesialis jantung yang memadai. Saat ini jumlah dokter spesialis jantung yang aktif di Indonesia baru sekitar 1.600 dokter dengan 60 persen di antaranya terkonsentrasi di Pulau Jawa.
Keterbatasan sumber daya dokter jantung itu membuat fasilitas pelayanan kesehatan tak merata. Kementerian Kesehatan berkomitmen memperluas akses layanan kateterisasi jantung (cath lab). Bersamaan dengan itu, percepatan pendidikan dokter spesialis akan didorong lewat program pendidikan dokter spesialis berbasis rumah sakit.
Ketua Dewan Etik Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (Perki) Muhammad Munawar menuturkan, tantangan terkait kepercayaan pasien pada dokter di Indonesia amat berhubungan dengan aspek integritas dan kejujuran dari dokter. Dua hal itu dinilai perlu ditingkatkan pada para dokter di Indonesia.
”Selain itu juga keteladanan dari elite politik yang juga masih banyak memilih untuk berobat ke luar negeri. Seharusnya ada peraturan juga untuk itu,” ucapnya.
Sekretaris Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan Sunarto menyampaikan, masalah lain yang jadi tantangan terkait dengan kemudahan akses layanan kesehatan. Kemudahan akses memberi nilai tambah dalam pengalaman pasien saat berobat ke luar negeri.
Pengalaman pasien tersebut pun berkaitan dengan layanan (hospitality), kenyamanan, ketepatan penyampaian hasil diagnosis, proses diskusi antara dokter dan pasien, serta ketepatan waktu dalam pelayanan. Layanan yang diberikan lebih efisien karena biasanya selesai dalam satu hari kunjungan.
”Sekarang mutu layanan kesehatan bukan hanya dilihat dari kualitas dokter, tapi juga bagaimana layanan dapat memberikan the best services (layanan terbaik) dalam hal kecepatan layanan, kualitas dan fungsi layanan, dan patient experience (pengalaman pasien),” tuturnya.
Senada dengan itu, Ketua Kolegium Jantung dan Pembuluh Darah Indonesia Renan Sukmawan mengatakan, efisiensi waktu yang didapatkan oleh pasien jadi pertimbangan lain yang membuat pasien lebih memilih berobat ke luar negeri. Pasien yang berobat ke luar negeri sering kali hanya memerlukan satu kali kunjungan untuk seluruh pemeriksaan.
Sementara di Indonesia, pemeriksaan perlu dilakukan dalam beberapa kali kunjungan ke rumah sakit. Efisiensi waktu tersebut yang membuat pasien memilih berobat ke luar negeri.
Serial Artikel
Layanan Kesehatan Dasar di Indonesia Masih Tertinggal
Dengan penduduk sekitar 280 juta jiwa, Indonesia hanya mempunyai 10.292 puskesmas. Peran fasilitas kesehatan yang paling dekat dengan masyarakat itu harus ditingkatkan lewat reformasi berbagai aspek.
Alasan tersebut sering kali bukan dipengaruhi oleh faktor biaya. Umumnya biaya yang dibutuhkan untuk berobat ke luar negeri, seperti Singapura, jauh lebih besar dibandingkan berobat di Indonesia.
Dalam Survei Kesehatan Indonesia 2023, lima negara yang paling banyak dikunjungi untuk layanan kesehatan adalah Malaysia, Singapura, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Korea Selatan. Alasan terbanyak warga Indonesia berobat ke luar negeri antara lain fasilitas di luar negeri lebih lengkap dan layanan sesuai harapan. Selain itu, layanan yang diberikan cepat, tepat, dan akurat.
Direktur Utama Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan Prihati Pujowaskito berpendapat, alasan nonmedik banyak menjadi dasar pasien berobat ke luar negeri. Biasanya pasien yang berobat ke luar negeri pun bukan untuk layanan yang selama ini ditanggung program Jaminan Kesehatan Nasional.
”Jadi, pasien (ke luar negeri), spent of pocket (biaya pribadi) untuk layanan yang kecil. Tapi, begitu memasang stent (cincin jantung), dia tetap gunakan BPJS Kesehatan,” ujarnya.
Dalam laporan BPJS Kesehatan, penyakit jantung merupakan kelompok penyakit dengan biaya tertinggi yang ditanggung program JKN terkait penyakit katastropik. Pada 2025, biaya layanan jantung Rp 17,3 triliun. Jumlah itu meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang tercatat Rp 14,6 triliun.
Meski begitu, pengalaman pasien mendapatkan layanan kesehatan tetap perlu diperhatikan. Layanan dengan model one-stop-service yang menawarkan berbagai layanan dan pemeriksaan kesehatan dalam satu waktu menjadi pertimbangan pasien memilih layanan.
”Namun sekali lagi, patient experience, saya setuju, penting. Ditentukan oleh moment of truth yang dia dapatkan ketika dia turun dari bandara atau berangkat dari rumah menuju ke sana,” katanya.





