Pengembangan Biofuel Pasca-B50, Pengamat Ingatkan Ini

bisnis.com
2 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Pengembangan bahan bakar nabati generasi berikutnya setelah implementasi B50 dinilai akan menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks dibanding meningkatkan campuran biodiesel berbasis sawit.

Ekonom Energi Universitas Padjadjaran Yayan Satyakti mengatakan pengembangan bahan bakar nabati generasi kedua atau second generation (2G) secara teknis lebih sulit dan membutuhkan biaya yang jauh lebih besar dibandingkan peningkatan bauran biodiesel berbasis minyak sawit.

Menurutnya, tantangan terbesar pertama berasal dari sisi pembiayaan. Berdasarkan kurva biaya penurunan emisi dalam model yang dikembangkannya, teknologi biofuel canggih membutuhkan biaya yang tidak sedikit. 

Secara terperinci, opsi co-processing akan menelan biaya sekitar US$28 per ton CO2, kemudian, Hydrotreated Vegetable Oil (HVO) sekitar US$58 per ton CO2, selulosa sekitar US$115 per ton CO2, dan alga sekitar US$225 per ton CO2

Yayan menjelaskan kebutuhan pendanaan untuk mencapai frontier biofuel generasi kedua diperkirakan sekitar US$9 miliar.

"Frontier 2G hanya mampu membiayai sendiri sekitar 30 dari kira-kira 52 juta ton penurunan emisi tahunan yang disiratkan rencana energi nasional, dan sama sekali tak mencapai frontier 2G. Bahan bakar canggih membutuhkan lembaga yang dirancang berbeda untuk membiayainya," katanya kepada Bisnis, Kamis (16/7/2026).

Baca Juga

  • Ekspor Sawit Kuartal III/2026 Diramal Anjlok 48% Dampak B50
  • Menakar Arah Pengembangan Biodiesel RI Pascaimplementasi B50
  • Gaikindo Sebut Kendaraan Diesel Siap Tenggak B50, Asalkan...

Selain pembiayaan, pengembangan biofuel generasi berikutnya juga terkendala pasokan bahan baku. Selama ini Indonesia masih bergantung pada minyak sawit generasi pertama, sementara ketersediaan bahan baku berbasis limbah seperti minyak jelantah maupun limbah cair pabrik kelapa sawit masih terbatas.

Pada saat yang sama, pengembangan biofuel juga dihadapkan pada persaingan penggunaan lahan dengan sektor pangan serta tantangan perlindungan kawasan gambut yang memiliki cadangan karbon tinggi.

Kendala berikutnya berasal dari tingkat kematangan teknologi. Menurutnya, teknologi biofuel berbasis selulosa maupun alga belum berkembang secara komersial dalam skala besar, sedangkan produksi HVO dan sustainable aviation fuel (SAF) membutuhkan investasi kilang yang sangat besar.

Pengembangan biofuel generasi berikutnya juga memerlukan kesiapan infrastruktur. Campuran bahan bakar yang lebih tinggi maupun penggunaan jenis bahan bakar baru membutuhkan kompatibilitas mesin kendaraan, sekaligus peningkatan kapasitas penyimpanan dan sistem distribusi.

Di sisi lain, kepastian kebijakan dinilai masih menjadi pekerjaan rumah terbesar. Yayan menilai belum adanya target pengembangan biofuel generasi kedua maupun mekanisme harga karbon dalam peta jalan nasional membuat investor masih menahan investasi.

"Karena peta jalan belum menetapkan target 2G atau harga karbon, investor menghadapi masalah ayam-dan-telur. Tak ada mandat, tak ada pasar. Tak ada pasar, tak ada pabrik," ujarnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Sejarah Hari Ini: Peluncuran Apollo 11 hingga Uji Coba Bom Atom Pertama di Dunia
• 17 jam lalurctiplus.com
thumb
Anjasmara Minta Maaf usai Singgung Masalah Perselingkuhan di Asmara Rizky Nazar: Saya Tidak Menyebutkan Nama
• 12 jam lalugrid.id
thumb
Program PKL/Magang OJK Jabodebek Dibuka, Simak Syarat, Dokumen, dan Alur Pendaftarannya
• 12 jam lalukompas.tv
thumb
TNI AD Bentuk Tim Investigasi untuk Ungkap Penyebab Meledaknya Gudang Amunisi di Madiun
• 2 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Pemerintah Bagi-bagi 1 Juta Sertifikat Tanah Gratis, Cek Syarat dan Cara Daftarnya di Sini
• 17 jam laludisway.id
Berhasil disimpan.