Peluang investasi di pasar Indonesia pada paruh kedua 2026 diperkirakan mulai terbuka. Optimisme itu muncul setelah koreksi di kisaran 30% secara tahun berjalan atau year to date (ytd) terhadap IHSG membuat valuasi saham menjadi lebih murah dan menarik.
Di sisi lain, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah yang telah menembus 7,2% juga menawarkan peluang bagi investor.
Executive Director, Head of Deposit & Wealth Management UOB Indonesia, Emillya Soesanto mengatakan, valuasi saham yang telah terkoreksi cukup dalam mulai menarik untuk dicermati. Sementara itu, imbal hasil obligasi yang tinggi memberikan alternatif investasi bagi investor.
“Kalau kita melihat valuasi saham-saham itu sudah sangat murah. Price to earnings (PE) berada di bawah standar deviasinya secara historis, sehingga secara valuasi sangat menarik,” ujar Emillya dalam acara Navigating Market Volatility: Building Portfolio Resilience with ORI030 di Jakarta, Kamis (16/7).
Adapun pasar keuangan Indonesia memang menghadapi tekanan berat sepanjang semester pertama tahun ini. Seiring dengan itu, nilai tukar rupiah juga melemah hingga mendekati Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Kemudian, IHSG anjlok hampir 35% ytd pada akhir Juni lalu.
Realitas itu membuat kinerja bursa Indonesia menjadi pasar saham terburuk di dunia. Tekanan itu mulai muncul seusai pengelola indeks global seperti MSCI membekukan rebalancing saham RI dan membuka potensi turunnya status negara ini dari pasar berkembang ke frontier market alias pasar perintis.
Kendati demikian, Emillya menilai tekanan di pasar keuangan belum mencerminkan kondisi krisis ekonomi. Menurut dia, pelemahan memang terjadi, tetapi fundamental ekonomi Indonesia masih cukup kuat.
“Kalau kita melihat apakah ekonomi dalam kondisi krisis, saya rasa tidak. Kalau melihat kelemahan, iya, tetapi bukan dalam kondisi krisis,” ujarnya.
Dia mengatakan peluang investasi juga didukung oleh respons pemerintah dan regulator yang dinilai cukup cepat dalam menjaga stabilitas pasar. Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan pemerintah dianggap telah mengambil langkah yang terkoordinasi demi meredam tekanan di pasar keuangan.
Namun, tantangan utama yang masih perlu diperhatikan investor adalah stabilitas nilai tukar rupiah. Pelemahan rupiah salah satunya dipicu oleh arus keluar dana asing sehingga diperlukan premi risiko yang lebih menarik untuk mendorong masuknya kembali aliran modal ke pasar domestik.
Sementara itu, UOB memproyeksikan Bank Indonesia bakal menaikkan suku bunga atau BI rate tiga kali lagi. Hal tersebut membuat investasi di obligasi menjadi menarik.
ASEAN Economist UOB, Enrico Tanuwidjaja, memproyeksikan BI kembali menaikkan suku bunga sebanyak tiga kali masing-masing 25 basis points (bps) hingga akhir tahun menjadi 6,5%. Adapun saat ini BI rate berada di level 5,75%.
“Dari sisi opportunity, itu ada dari sisi valuasinya kemudian juga yang kedua dari sisi imbal hasil terutama imbal hasil obligasi sekarang sudah di atas 7%. Jadi ini sangat menarik,” kata Enrico.
Dia menuturkan, kenaikan suku bunga memang berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi dan pasar saham. Namun, kebijakan tersebut juga dapat meningkatkan imbal hasil aset domestik dan membantu menjaga stabilitas rupiah, terutama jika bank sentral AS atau The Fed kembali memperketat kebijakan moneternya.
“Kalau The Fed menaikkan suku bunga, tentu suku bunga kita harus lebih tinggi lagi,” ujar Enrico.
Di tengah potensi kenaikan suku bunga, obligasi pemerintah menjadi salah satu instrumen yang mulai menarik perhatian. Imbal hasil yang telah berada di atas 7% dinilai memberikan peluang bagi investor untuk memperoleh pendapatan tetap.
Kondisi tersebut menunjukkan masih adanya ruang bagi perbankan untuk menyalurkan dana ke sektor-sektor produktif. Tantangannya adalah memastikan likuiditas tersebut mengalir ke sektor yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi, seperti manufaktur dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).




