VIVA – Mantan striker Timnas Inggris, Michael Owen, melontarkan kritik keras kepada pelatih Thomas Tuchel setelah The Three Lions kalah 1-2 dari Argentina pada semifinal Piala Dunia 2026 di Stadion Mercedes-Benz, Atlanta, Kamis 16 Juli 2026 dini hari WIB.
Menurut Owen, keputusan Tuchel mengubah permainan menjadi lebih bertahan setelah Inggris unggul justru menjadi titik balik kekalahan Harry Kane cs.
Inggris sempat berada di atas angin setelah Anthony Gordon membawa tim unggul 1-0 pada menit ke-55. Namun, Argentina mampu membalikkan keadaan melalui gol Enzo Fernandez pada menit ke-85 dan Lautaro Martinez pada menit ke-92 untuk memastikan tiket ke final.
- IMAGN IMAGES via Reuters/Nathan Ray Seebeck
Usai pertandingan, Owen membandingkan cara bermain Inggris dengan Spanyol yang sehari sebelumnya berhasil mengalahkan Prancis di semifinal. Menurutnya, perbedaan terbesar terletak pada keberanian mempertahankan gaya bermain saat unggul.
"Saksikan Spanyol unggul 1-0 tadi malam. Itu keberanian. Itu keteguhan hati. Dan kemudian saksikan Inggris unggul 1-0," tulis Owen melalui akun X miliknya.
Owen bahkan meyakini Inggris memiliki kualitas untuk mengalahkan Argentina. Namun, ia menilai perubahan taktik setelah unggul justru membuat tim kehilangan kendali permainan.
"Kami tim yang lebih baik daripada Argentina, saya tidak ragu sedikit pun. Tapi pada akhirnya kami pantas kalah. Bahkan, skornya bisa saja 4-1. Memasukkan tiga pemain bertahan saat unggul 1-0. Pesan apa yang disampaikan?" tulis Owen.
Menurut Owen, keberanian bukan berarti terus bertahan ketika unggul, melainkan tetap mampu menguasai bola dan mengendalikan jalannya pertandingan meski berada di bawah tekanan lawan.
Kritik Owen merujuk pada keputusan Tuchel yang memasukkan bek Ezri Konsa pada menit ke-72. Sebaliknya, pemain bertipe menyerang seperti Marcus Rashford dan Ivan Toney baru dimasukkan setelah Argentina berbalik unggul.
Data pertandingan juga menunjukkan Inggris kesulitan menguasai permainan setelah mencetak gol pembuka. Sejak Anthony Gordon membawa Inggris unggul hingga gol penyama kedudukan Argentina tercipta, penguasaan bola Inggris hanya berada sedikit di atas 12 persen.
Di sisi lain, Argentina terus meningkatkan intensitas serangan. Lautaro Martinez yang masuk sebagai pemain pengganti akhirnya mencetak gol kemenangan pada masa injury time, memastikan juara bertahan itu melaju ke final Piala Dunia untuk kedua edisi secara beruntun.





