Pemerintah resmi mempercepat implementasi program Waste to Energy (WTE) atau Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL). Langkah strategis ini diambil sebagai solusi ganda untuk mengatasi persoalan krisis sampah yang kian menumpuk, sekaligus menjawab tantangan krisis energi nasional.
Pembahasan percepatan program ini mengemuka dalam forum Waste to Energy Talks 2026 bertajuk "Reducing Waste, Powering the Future" yang digelar di Jakarta, Kamis 16 Juli 2026. Forum lintas sektor ini turut dihadiri oleh Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat, perwakilan Danantara, PLN, Pertamina, serta sejumlah kepala daerah.
Menteri Lingkungan Hidup, Jumhur Hidayat, mengungkapkan bahwa pemerintah membidik 34 kawasan aglomerasi di seluruh Indonesia untuk implementasi WTE.
"Pemerintah menargetkan implementasi WTE ini dapat menjangkau sekitar 70 hingga 80 persen kabupaten dan kota," jelas Jumhur dikutip dari Headline News, Metro TV, Kamis 16 Juli 2026.
Baca Juga :
Pemerintah Siapkan Aturan EPR, Produsen Bakal Wajib Kelola Sampah KemasanSaat ini, proyek perdana telah berjalan di Bali, sementara sejumlah daerah lain seperti Bogor dan Bekasi tengah bersiap melalui tahapan lelang dan pembangunan.
Meski demikian, Jumhur menyadari bahwa infrastruktur fisik saja tidak cukup. Masih ada sekitar 470 hingga 480 kabupaten/kota yang memerlukan penanganan komprehensif.
"Problem-nya sama, kita harus memastikan sampah itu tuntas 100 persen. Langkah-langkah ke arah sana sudah nyata kita lakukan, mulai dari kampanye pilah sampah, mengedukasi masyarakat supaya tidak buang sampah sembarangan, membersihkan sungai, dan sebagainya. Itu bagian dari upaya pemerintah pusat hingga daerah," ujarnya.
Proyek Terbesar di Dunia Menarik Minat Investor
Skala masif dari program ini rupanya menjadi daya tarik tersendiri di mata global. Chief Investment Officer (CIO) Danantara Indonesia, Pandu Sjahrir, menyebut bahwa proyek PSEL di Indonesia ini merupakan yang terbesar di dunia. Hal tersebut membuat banyak investor antre untuk menjadi mitra strategis.
"Ketertarikannya pasti ada. Saya rasa banyak mitra-mitra yang kami ajak bekerja sama itu memang tertarik. Kami juga terus memberikan masukan kepada pemerintah dan DPR yang sedang menggodok undang-undangnya," ungkap Pandu Sjahrir.
Sebagai langkah keberlanjutan, pemerintah juga terus mendorong kelancaran proses perizinan seperti Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal). Kolaborasi kuat dari seluruh pemangku kepentingan, termasuk komitmen PLN dalam menyerap dan memanfaatkan listrik hasil olahan sampah, diharapkan mampu menyukseskan program ini menjadi solusi jangka panjang bagi lingkungan Nusantara.




