JAKARTA, KOMPAS.com – Sosiolog Universitas Gadjah Mada (UGM), Andreas Budi Widyanta, menilai kisah Heru Baskoro, putra penulis naskah Proklamasi, Sayuti Melik, yang menjalani hari tua dalam keterbatasan menjadi wake up call atau peringatan keras bagi negara untuk membenahi sistem perlindungan sosial bagi kelompok lanjut usia (lansia).
Menurut Widyanta, kasus tersebut tidak seharusnya dipandang sebagai persoalan individu semata, melainkan cerminan adanya persoalan struktural dalam sistem perlindungan lansia di Indonesia.
"Jadi kasus Pak Heru Baskoro ini kita bisa tempatkan sebagai bagian dari wake up call ya. Jadi ini peringatan sangat keras," kata Widyanta saat kepada Kompas.com melalui telepon, Kamis (16/7/2026).
Baca juga: Uluran Tangan Negara untuk Anak Sayuti Melik yang Sakit-sakitan di Kontrakan Bekasi
Kondisi yang dialami putra Sayuti Melik menunjukkan bahwa negara perlu melakukan refleksi terhadap sistem jaminan sosial yang selama ini dijalankan.
"Jika saja seorang anak seorang pahlawan nasional, dan itu sub-sentral Sayuti Melik, perumus proklamasi, itu saja terlempar di dalam sebuah kerentanan sosial ekonomi di masa tuanya, itu kan menegaskan bahwa betapa sistem perlindungan lansia kita ini sedang mengalami krisis struktural yang sangat dalam," ujar Widyanta.
Andreas menilai, negara tidak boleh hanya hadir ketika sebuah kasus telah menjadi sorotan publik.
"Negara mestinya tak boleh hanya hadir sebagai pemadam kebakaran. Karena respons Kementerian Sosial itu kan respons yang kuratif saja setelah kasusnya, setelah empat bulan dia berada di panti asuhan. Ini kan artinya tidak ada preventif sama sekali," ucap Andreas.
"Jadi negara hanya hadir sebagai pemadam kebakaran saja, dan itu responsif saja, reaksioner, mengambil pemberitaan itu lalu menangani itu. Kalau tidak ya dibiarkan saja," lanjut dia.
Selain menjadi kritik terhadap sistem perlindungan sosial, kisah putra Sayuti Melik juga dinilai mematahkan anggapan seluruh anak tokoh bangsa hidup berkecukupan karena jasa orang tuanya.
Baca juga: Anak Sayuti Melik Dibawa ke STPL Bekasi, Mensos: Kita Didampingi, Nanti Akan Dibantu
Pandangan tersebut merupakan generalisasi yang lahir dari cara pandang masyarakat terhadap kondisi elite politik saat ini, ketika banyak pejabat identik dengan kemewahan dan kekayaan.
"Kalau kita melihat bahwa seolah-olah seluruh para tokoh bangsa ini karena anaknya makmur dan berada, saya tidak merasa itu benar. Itu bentuk generalisasi yang ditakar dari generasi hari ini yang setiap kali berkaitan dengan orang-orang pejabat adalah pejabat yang kaya," kata Andreas.
Widyanta mengatakan, para pendiri bangsa justru dikenal hidup sederhana dan tidak memanfaatkan jabatan untuk memperkaya diri maupun keluarganya.
"Nah kita masih ingat Sayuti Melik itu adalah orang-orang bersahaja. Kita tahu mereka itu orang yang sudah selesai dengan dirinya dan tidak pernah mau mengambil kekayaan negara untuk kekayaan dirinya sendiri," ujar dia.
Kesederhanaan itulah yang membuat kondisi putra Sayuti Melik berbeda dengan persepsi sebagian masyarakat terhadap keluarga pejabat masa kini.
Widyanta menilai, para pendiri bangsa lebih memilih mewariskan nilai, integritas, dan kemandirian dibandingkan kekayaan atau privilese kepada anak-anak mereka.





