Bisnis.com, JAKARTA - Ada beberapa hal yang menjadi penyebab harga emas naik turun.
Sebagaimana diketahui, harga emas dunia diperkirakan masih akan bergerak fluktuatif sepanjang Juli 2026 di tengah ketidakpastian geopolitik global, kebijakan suku bunga Amerika Serikat, serta tingginya permintaan investor terhadap aset safe haven.
Berdasarkan sejumlah proyeksi analis pasar, harga emas (XAU/USD) diperkirakan berada dalam rentang US$4.186 hingga US$4.933 per troy ounce selama periode satu bulan ke depan. Sementara itu, harga rata-rata diperkirakan berada di kisaran US$4.559 per troy ounce.
Meski demikian, sebagian analis masih mempertahankan pandangan yang cenderung bearish terhadap emas.
Hingga akhir 2026, harga logam mulia diperkirakan berpotensi melemah menuju kisaran US$4.370 hingga US$3.816 per troy ounce apabila tekanan dari kebijakan moneter dan kondisi ekonomi global terus berlanjut.
Sejumlah sentimen diperkirakan akan memengaruhi pergerakan harga emas sepanjang Juli 2026. 1. Ketegangan Geopolitik Masih Menjadi SorotanHubungan antara Amerika Serikat dan Iran masih menjadi perhatian pelaku pasar. Meski kedua negara terus melakukan pembahasan terkait rancangan kesepakatan perdamaian, hingga kini belum ada kepastian mengenai penyelesaian konflik tersebut.
Baca Juga
- Harga Buyback Emas Antam, UBS dan Galeri 24 di Pegadaian 17 Juli 2026 Kompak Turun
- Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Jum'at 17 Juli 2026 Berbalik Turun
- Harga Terbaru Emas Antam, UBS dan Galeri 24 di Pegadaian 17 Juli 2026
Di sisi lain, pemerintah Amerika Serikat tetap mendesak Iran untuk menghentikan program nuklirnya serta menjamin kebebasan pelayaran di Selat Hormuz. Perkembangan situasi geopolitik ini berpotensi memengaruhi minat investor terhadap aset aman seperti emas.
2. Inflasi dan Kebijakan The FedLonjakan harga energi akibat konflik di Timur Tengah sempat meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi global. Kondisi tersebut membuat pasar terus mencermati kemungkinan bank sentral Amerika Serikat (The Fed) mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Berdasarkan data CME Group, peluang The Fed mempertahankan suku bunga pada kisaran 3,50%–3,75% dalam pertemuan Juli diperkirakan mencapai sekitar 70,6%. Suku bunga yang tetap tinggi biasanya mengurangi daya tarik emas karena investor cenderung beralih ke instrumen berbunga.
3. Permintaan Emas Global Masih TinggiData World Gold Council (WGC) menunjukkan permintaan emas dunia, termasuk transaksi over-the-counter (OTC), mencapai 1.231 ton pada kuartal pertama 2026. Angka tersebut menjadi rekor tertinggi untuk periode Januari hingga Maret.
Investor individu masih menjadi penyumbang utama permintaan, dengan pembelian mencapai sekitar 535,6 ton selama tiga bulan pertama tahun ini.
Permintaan terhadap emas batangan juga tetap kuat, mencapai 397,7 ton, meningkat 20% dibanding kuartal sebelumnya dan 50% dibanding periode yang sama tahun lalu.
4. Permintaan Perhiasan Mengalami PenurunanBerbeda dengan investasi, permintaan emas untuk sektor perhiasan justru mengalami perlambatan.
Sepanjang kuartal pertama 2026, konsumsi emas untuk perhiasan tercatat sekitar 335 ton, turun 24% dibanding kuartal sebelumnya. Penurunan terbesar terjadi di China, India, dan kawasan Timur Tengah.
5. Industri Teknologi Tetap Menopang PermintaanSektor teknologi juga masih menjadi salah satu pengguna utama emas. Permintaan dari industri ini mencapai sekitar 81,6 ton, dengan mayoritas digunakan untuk komponen elektronik.
Dibandingkan tahun sebelumnya, permintaan dari sektor teknologi meningkat sekitar 1%, sementara industri elektronik mencatat kenaikan sekitar 3%.





