REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Masyarakat Indonesia tercatat sebagai salah satu pengguna media sosial paling aktif di dunia, dengan rata-rata durasi penggunaan sekitar tiga jam tujuh menit per hari. Menggulir konten apalagi secara berlebih dinilai bisa berdampak buruk bagi kesehatan otak.
Pakar medis sekaligus dosen fisiologi Universitas Gadjah Mada, Dr dr Zaenal Muttaqien Sofro, mengatakan persoalan menurunnya fungsi otak bukan terletak pada aktivitas scrolling itu sendiri, melainkan kebiasaan duduk terlalu lama yang menyertainya. "Otak manusia membutuhkan sekitar 20 persen dari seluruh oksigen yang digunakan tubuh. Oleh karena itu, kata kunci pertama untuk menjaga kesehatan otak adalah oksigen," kata dia dalam keterangan tertulis, dikutip pada Jumat (17/7/2026).
Baca Juga
Mengapa FOMO dan Doomscrolling Menjadi Tindakan Sosial Baru?
Ribuan Warga AS Rela Antre demi Lihat Bunga Bangkai Mekar
Dapat Chat Mesum di Medsos? Ini yang Perlu Dilakukan
la menjelaskan manusia sebagai makhluk bipedal menghadapi tantangan gravitasi yang memengaruhi distribusi darah di dalam tubuh. Ketika seseorang berdiri secara tiba-tiba setelah berbaring, aliran darah menuju otak dapat berkurang hingga sekitar 60 persen sehingga tubuh memerlukan waktu untuk menyesuaikan diri.
Karena itu, ia menyarankan untuk tidak langsung berdiri setelah bangun tidur. Sebaliknya, awali dengan berbaring miring selama sekitar 30 detik, dilanjutkan duduk sambil berdoa selama 30 detik, kemudian berdiri perlahan sambil melakukan gerakan jinjit sekitar delapan kali untuk membantu memompa darah kembali ke otak.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Selain itu, kebiasaan duduk dalam waktu lama disebut menjadi ancaman serius bagi kesehatan otak. Menurut Zaenal, posisi duduk yang terlalu lama menyebabkan darah lebih banyak berkumpul di bagian bawah tubuh akibat gravitasi sehingga suplai darah ke otak menjadi kurang optimal.
"Masalah utamanya bukan semata-mata aktivitas scrolling, tetapi karena posisi duduk yang terlalu lama membuat darah lebih banyak berkumpul di bagian bawah tubuh akibat gravitasi," kata dia.
la menyarankan masyarakat membatasi waktu duduk tidak lebih dari satu jam. Setelah itu, seseorang sebaiknya berdiri, berjalan, atau melakukan peregangan ringan selama sekitar dua menit sebelum kembali beraktivitas.
Berdasarkan penelitiannya menggunakan orthostatic test, Zaenal menjelaskan bahwa kemampuan tubuh beradaptasi terhadap perubahan posisi sangat dipengaruhi oleh kondisi organ-organ tubuh di bawahnya, terutama jantung, paru-paru, serta sistem sirkulasi darah.
"Jika sistem dasar ini bekerja dengan baik, maka fungsi otak juga akan optimal. Sebaliknya, bila dasar ini terganggu, maka otak pun akan mengalami gangguan," kata dia.