HARIAN.FAJAR.CO.ID, MAKASSAR – Polisi mengamankan nakhoda Kapal Layar Motor (KLM) Nurul Salsa, Marlin, pasca-insiden tenggelamnya kapal di perairan barat Pulau Polassi, Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan. Pengamanan dilakukan untuk kepentingan penyelidikan sekaligus mengantisipasi potensi tindakan dari keluarga korban yang masih menunggu kabar anggota keluarganya.
Kapolsek Pasimasunggu AKP Haryanto mengatakan, Marlin diamankan di Mapolsek Pasimasunggu. Namun, statusnya hingga kini masih sebatas saksi dan belum ditetapkan sebagai tersangka.
“Untuk nakhoda kapal KLM Nurul Salsa bernama Marlin sudah kami amankan. Kami bawa di Polsek Pasimasunggu,” ujar Haryanto, Kamis (16/7).
Ia menegaskan, langkah tersebut dilakukan demi menjaga situasi keamanan selama proses penyelidikan berlangsung.
“Yang bersangkutan kami amankan untuk alasan keamanan, jangan sampai ada keluarga korban yang mengamuk. Selain itu juga agar yang bersangkutan tidak melarikan diri,” jelasnya.
Menurut Haryanto, penyidik dari Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Kepulauan Selayar akan mengambil alih penanganan kasus tersebut. Tim penyidik dijadwalkan tiba di lokasi pada Jumat (17/7) untuk memeriksa sejumlah saksi, termasuk nakhoda kapal.
“Tim penyidik dari Polres Selayar akan datang untuk melakukan penyelidikan. Rencananya besok sore tiba,” katanya.
Sementara itu, Kasubsi Penmas Polres Kepulauan Selayar Aipda Suardi Andre mengungkapkan, berdasarkan keterangan sementara para korban selamat, kapal diduga tenggelam setelah dihantam gelombang tinggi di tengah pelayaran. Selain faktor cuaca, kapal juga diduga mengangkut penumpang dan barang melebihi kapasitas.
“Intinya mereka mengaku kapalnya dihantam ombak. Kalau kita lihat memang muatan kapal itu cukup sangat padat,” ujar Suardi Andre, Jumat (17/7).
Data sementara menunjukkan KLM Nurul Salsa mengangkut lebih dari 70 penumpang dengan muatan barang diperkirakan mencapai 17 ton. Jumlah tersebut diduga jauh melampaui kapasitas kapal sehingga membebani mesin saat menghadapi cuaca ekstrem.
“Kalau berdasarkan data yang dikumpulkan lebih dari 70 orang penumpang dengan kapasitas kapal itu sudah jauh melebihi kapasitas. Apalagi ada barang yang beratnya kurang lebih 17 ton. Itu akan memaksa mesin bekerja keras ditambah lagi dengan situasi cuaca yang ekstrem,” jelasnya.
Meski demikian, kepolisian belum menyimpulkan penyebab pasti kecelakaan laut tersebut. Seluruh keterangan saksi dan hasil penyelidikan akan menjadi dasar untuk memastikan ada tidaknya unsur kelalaian dalam insiden tersebut.
Di sisi lain, proses pencarian korban masih terus dilakukan oleh tim gabungan. Hingga Jumat (17/7), sebanyak 47 korban telah ditemukan. Rinciannya, 46 orang berhasil diselamatkan, sedangkan satu penumpang ditemukan meninggal dunia.
Masih terdapat 24 penumpang yang belum ditemukan dan pencarian terus dilanjutkan dengan melibatkan Basarnas, TNI, Polri, BPBD, nelayan, serta masyarakat setempat. Tim SAR juga terus memantau kondisi cuaca yang menjadi tantangan dalam operasi pencarian korban.





