HARIAN.FAJAR.CO.ID, MAKASSAR – Sistem pendidikan yang diterapkan Ranu Harapan Islamic School (RHIS) mendapat apresiasi dari orang tua siswa.
Mereka menilai RHIS tidak hanya berfokus pada pencapaian akademik, tetapi juga membangun karakter, akhlak, serta kemampuan menghafal Al-Qur’an.
Dia mengaku sengaja memilih menyekolahkan anaknya di RHIS, karena sekolah tersebut mampu menghadirkan keseimbangan antara pendidikan umum dan pendidikan agama.
Salah satunya Ziaul Haq Nawawi. Menurutnya, selama ini banyak sekolah lebih menonjolkan prestasi akademik, seperti matematika, fisika, dan kimia. Namun, RHIS menawarkan pendekatan yang berbeda dengan mengkombinasikan kemampuan akademik dan pembentukan karakter.
“Kalau saya melihat selama ini, sekolah yang diunggulkan biasanya karena anak-anaknya jago matematika, fisika, atau kimia. Nah, kalau di Ranu saya lihat justru mengkombinasikan semuanya. Anak bukan cuma pintar, tetapi juga dibentuk akhlak dan kemampuannya menghafal Al-Qur’an. Itu yang menurut saya menjadi pembeda,” ujarnya.
Dia juga mengapresiasi konsep sekolah non asrama yang diterapkan RHIS. Dengan sistem tersebut, anak tetap tinggal bersama keluarga sehingga orang tua dapat terus memantau tumbuh kembang, pergaulan, hingga proses pembentukan karakter di rumah.
Menurutnya, pola tersebut menjadi solusi di tengah berbagai tantangan yang dihadapi anak-anak saat ini.
“Anak-anak tetap bersama kami di rumah, jadi tumbuh kembangnya bisa kami pantau. Mereka tetap bersosialisasi dengan lingkungan, sementara sekolah memberikan pendidikan yang baik. Bagi saya, sekolah ini sudah memenuhi kebutuhan anak untuk tumbuh dan berkembang karena ada kombinasi antara pengawasan orang tua dan kontribusi sekolah,” lanjutnya.
Selain itu, dia menilai komunikasi yang terjalin antara sekolah, guru, orang tua, dan siswa, menjadi salah satu keunggulan RHIS. Setiap persoalan, baik yang terjadi di rumah maupun di sekolah, dibahas secara terbuka untuk mencari solusi bersama.
“Kalau ada kendala di rumah atau di sekolah, semuanya dibicarakan. Komunikasinya terbuka. Kami sebagai orang tua juga percaya dengan sistem yang dimiliki sekolah. Selama anak berada di sekolah, kami mengikuti aturan dan pola pendidikan yang diterapkan. Kalau ada hal yang perlu didiskusikan, baru kami komunikasikan bersama,” ungkapnya.
Selain itu, kepercayaan terhadap sistem pendidikan RHIS menjadi alasannya menyekolahkan anak di sana. Menurutnya, setiap siswa harus belajar disiplin dan mengikuti aturan sekolah tanpa memandang kebiasaan yang dibawa dari rumah.
“Setiap orang tua tentu punya pola asuh masing-masing. Tetapi ketika anak sudah berada di sekolah, mereka harus belajar mengikuti aturan yang berlaku. Itu juga bagian dari proses pendidikan dan pembentukan karakter,” tuturnya. (wid)





