Industri makanan dan minuman (mamin) asal Indonesia, PT Multi Citra Rasa (Rasa Group), memperluas ekspansi ke pasar internasional dengan membidik Amerika Serikat (AS), Timur Tengah, Australia, Korea Selatan, hingga Jepang. Langkah tersebut dilakukan setelah perusahaan memperkuat penetrasi pasar Asia Tenggara dalam dua tahun terakhir.
CEO Rasa Group Sherley Ruslie mengatakan, strategi ekspansi tersebut akan diperkuat melalui peluncuran House of Rasa, yang berfungsi sebagai pusat inovasi dan kolaborasi industri food and beverage (F&B) sekaligus menjadi etalase untuk memperkenalkan merek Indonesia ke pasar global.
Ia menjelaskan, sejak 2024 perusahaan telah mengembangkan pasar ekspor ke Brunei Darussalam, Filipina, Thailand, Kamboja, dan Malaysia. Setelah House of Rasa resmi beroperasi di PIK 2, Tangerang, perusahaan mulai membuka peluang distribusi ke kawasan lain.
"Dengan dibukanya Flagship House of Rasa ini mengizinkan kami membuka pintu ke internasional lainnya seperti Middle East, USA market, Australia market, Korea, Jepang, dan lain-lain," ujar Sherley dalam keterangannya, Jumat (17/7).
Menurutnya, pendekatan ekspansi yang dilakukan Rasa Group tidak sekadar menjual produk ke luar negeri, tetapi membangun kekuatan merek Indonesia di pasar internasional.
"Yang Rasa Group lakukan kami bukan mengekspor komoditi, yang kami lakukan adalah kami mengekspor brand," katanya.
Saat ini, sejumlah produk unggulan perusahaan telah dipasarkan di berbagai negara. Sirup bermerek Dripp, misalnya, telah diekspor ke Thailand dan Filipina dengan volume pengiriman mencapai belasan kontainer setiap bulan untuk masing-masing negara. Sementara itu, produk kopi perusahaan juga telah memasuki pasar China dan kembali diperkenalkan melalui House of Rasa untuk memperkuat pasar domestik maupun ekspor.
Meski agresif melakukan ekspansi global, Sherley menegaskan Indonesia tetap menjadi pasar utama perusahaan. Namun, pertumbuhan industri F&B di Asia Tenggara dinilai masih memberikan peluang besar untuk memperluas bisnis.
"Growth industri F&B ini kami lihat masih akan terus terjadi di negara South East Asia lainnya," ujarnya.
Selain menjadi kantor pusat perusahaan, House of Rasa dirancang sebagai Innovation & Collaboration Hub yang mempertemukan berbagai pelaku industri F&B dalam satu ekosistem. Fasilitas yang tersedia mencakup Beverage Lab, Culinary Lab, Coffee Experience Center, Training Center, hingga ruang kolaborasi dan jejaring bisnis.
Melalui fasilitas tersebut, perusahaan ingin menghadirkan ruang bagi pemilik merek, pemasok, komunitas, asosiasi, hingga talenta F&B untuk mengembangkan ide, melakukan riset, dan menghasilkan inovasi produk baru.
Sherley mengatakan, perusahaan juga membuka berbagai peluang pengembangan bisnis, baik melalui kolaborasi strategis maupun ekspansi usaha di luar Indonesia. Namun, Rasa Group belum berencana melaksanakan penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO) pada tahun ini.
Di tengah tantangan kenaikan biaya logistik, inflasi, dan harga bahan baku, perusahaan memilih memperluas pasar sebagai strategi menjaga pertumbuhan. Rasa Group pun menargetkan pendapatan tetap tumbuh hingga akhir tahun.
"Kami sih target optimistis bisnis pasti masih tumbuh double digit," kata Sherley.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Kriya, Kuliner, Desain, dan Fesyen Kementerian Ekonomi Kreatif, Yuke Sri Rahayu, mengatakan subsektor kuliner masih menjadi kontributor terbesar terhadap produk domestik bruto (PDB) ekonomi kreatif dengan porsi sekitar 41 persen pada 2025.
Menurutnya, tantangan industri saat ini adalah memperkuat hilirisasi produk lokal agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar bagi merek asing, tetapi juga mampu melahirkan produk bernilai tambah tinggi dengan merek yang kuat.
"Kami mendorong adanya hilirisasi produk lokal. Kita tidak ingin Indonesia hanya menjadi pasar bagi merek asing, tetapi juga menjadi pemain utama di tingkat regional maupun global sebagai produk bernilai tambah tinggi yang memiliki brand yang kuat," ujar Yuke.
Ia menambahkan, tiga subsektor utama ekonomi kreatif, yakni kuliner, fesyen, serta televisi dan radio/video, menyumbang sekitar 69,42 persen dari total PDB ekonomi kreatif nasional yang mencapai Rp 1.757,87 triliun pada 2025 dengan pertumbuhan sebesar 6,86 persen.





