Pernahkah kita memperhatikan bahwa banyak wisatawan asing lebih akrab dengan nama Bali daripada Indonesia? Tidak sedikit video di media sosial yang menunjukkan turis mengatakan mereka akan pergi ke “Bali”, tetapi tidak benar-benar mengenali bahwa Bali adalah bagian dari Indonesia.
Sekilas hal ini terdengar lucu dan seperti keberhasilan besar. Bali berhasil dikenal dunia, menjadi tujuan wisata internasional, bahkan beberapa kali masuk dalam daftar destinasi terbaik dunia. Namun, kalau dilihat lebih jauh, fenomena ini justru memunculkan pertanyaan yang menarik, yaitu ketika nama daerah lebih kuat daripada nama negaranya, siapa yang sebenarnya sedang berdiplomasi?
Selama ini diplomasi sering dipahami sebagai urusan pemerintah pusat melalui kementerian atau kedutaan besar. Padahal, di era global seperti sekarang, pemerintah daerah juga dapat membangun hubungan dan citra internasionalnya sendiri. Konsep inilah yang dikenal sebagai paradiplomasi.
Menariknya, Bali menunjukkan bahwa pengaruh sebuah daerah tidak selalu dibangun melalui perjanjian internasional atau kunjungan resmi. Reputasi juga bisa dibangun dari konsistensi menjaga identitas budaya, mengembangkan sektor parwisata, menjadi tuan rumah berbagai konferensi internasional, menerima jutaan wisatawan setiap tahun, hingga mampu menarik perhatian pelaku industri kreatif, investor, akademisi, dan komunitas global.
Bali bisa dikatakan sebagai contoh paradiplomasi yang berhasil di Indonesia. Ketika orang mendengar nama Bali, yang terbayang bukan hanya pantai atau tempat liburan, tetapi juga budaya yang masih hidup, keramahan masyarakat, seni, hingga berbagai forum internasional yang pernah diselenggarakan di sana.
Bahkan ketika Indonesia menjadi tuan rumah KTT G20 tahun 2022, banyak media internasional lebih sering menuliskan “Bali Summit” dibandingkan “Indonesia Summit”. Hal ini menunjukkan bahwa nama Bali sudah memiliki daya tarik global yang sangat besar.
Fenomena ini juga memperlihatkan bahwa dalam hubungan internasional, yang paling diingat orang tidak selalu sebuah negara, tetapi pengalaman yang mereka rasakan di dalamnya. Bagi banyak wisatawan, Bali menjadi titik pertama untuk mengenal Indonesia.
Mereka mungkin tidak memahami sejarah diplomasi Indonesia atau kebijakan luar negerinya, tetapi mereka mengingat keramahan masyarakat, keindahan alam, budaya yang tetap hidup, serta kesan yang mereka bawa pulang. Dari situlah persepsi tentang Indonesia mulai terbentuk. Dengan kata lain, sebelum mengenal Indonesia sebagai sebuah negara, banyak orang lebih dulu mengenalnya melalui cerita yang diciptakan oleh Bali.
Menurut saya, justru di sinilah letak paradoksnya. Bali memang tidak pernah secara khusus memosisikan dirinya sebagai representasi Indonesia, tetapi interaksi yang dibangun selama puluhan tahun membuat dunia perlahan-lahan menempatkannya pada posisi itu.
Ketika turis lebih dulu mengenal Bali dibanding Indonesia, secara tidak langsung Bali sedang membawa citra Indonesia ke tingkat internasional. Artinya, tanpa disadari, sebuah daerah telah menjalankan fungsi yang selama ini identik dengan diplomasi negara.
Keberhasilan Bali menunjukkan bahwa pengaruh internasional tidak selalu lahir dari strategi yang dirancang secara besar-besaran. Reputasi justru tumbuh dari hal-hal yang terus dijaga dalam waktu lama, seperti budaya yang tetap hidup, pelayanan kepada wisatawan, ruang publik yang nyaman, hingga kemampuan masyarakat menerima perbedaan.
Semua itu mungkin terlihat sebagai urusan lokal, tetapi ketika jutaan orang mengalaminya secara langsung, dampaknya berubah menjadi sesuatu yang bersifat internasional. Inilah yang membuat Bali memiliki posisi yang berbeda dibanding banyak daerah lain di Indonesia.
Fenomena inilah saya melihat paradiplomasi bekerja dalam bentuk yang berbeda. Pemerintah daerah memang bukan aktor diplomasi utama, tetapi mereka mengelola ruang yang setiap hari berinteraksi langsung dengan masyarakat internasional.
Mulai dari kebijakan pariwisata, pelestarian budaya, pelayanan publik, hingga penyelenggaraan acara internasional, semuanya ikut menentukan pengalaman yang dibawa pulang oleh wisatawan. Pengalaman itu kemudian berubah menjadi cerita, rekomendasi, bahkan persepsi tentang Indonesia. Artinya, keputusan yang terlihat sangat lokal ternyata mampu menghasilkan dampak yang bersifat global.
Kalau dipikirkan lebih jauh, mungkin inilah alasan mengapa nama Bali terus melekat di ingatan dunia. Wisatawan tidak hanya mengingat pantainya, melainkan pengalaman yang mereka rasakan selama berada di sana. Hubungan seperti ini tidak bisa dibangun hanya melalui promosi atau slogan, tetapi melalui interaksi yang terus terjadi selama bertahun-tahun.
Dalam konteks inilah Bali sebenarnya sedang menjalankan fungsi paradiplomasi, yaitu membangun kedekatan dengan masyarakat internasional melalui pengalaman yang konsisten, bukan melalui negosiasi politik.
Di sisi lain, fenomena ini juga menjadi pengingat bahwa reputasi internasional tidak dapat diwariskan begitu saja kepada daerah lain. Banyak pemerintah daerah berusaha mempromosikan wisatanya ke luar negeri, tetapi belum tentu berhasil membangun kedekatan yang sama seperti yang dilakukan Bali. Alasannya cukup sederhana.
Wisatawan internasional tidak hanya mencari tempat yang indah, tetapi juga mencari pengalaman yang berkesan. Oleh karena itu, paradiplomasi pada akhirnya bukan sekadar soal promosi, melainkan soal kemampuan daerah menciptakan pengalaman yang membuat orang ingin kembali dan menceritakannya kepada orang lain.
Menurut saya, fenomena ini juga menjadi pengingat bahwa diplomasi pada era sekarang tidak selalu berlangsung di ruang perundingan. Kadang, diplomasi justru terjadi ketika sebuah daerah mampu membuat orang asing merasa diterima, tertarik untuk kembali, dan akhirnya mengenal Indonesia dari pengalaman yang mereka bawa pulang.
Pada akhirnya, pertanyaan "siapa yang sebenarnya berdiplomasi?" tidak lagi memiliki jawaban yang mutlak. Pemerintah pusat tetap menjalankan diplomasi resmi, tetapi Bali memperlihatkan bahwa pemerintah daerah juga dapat membangun pengaruh internasional melalui hubungan yang tumbuh dari interaksi sehari-hari dengan masyarakat internasional. Inilah salah satu bentuk paradiplomasi yang paling nyata, ketika sebuah daerah tidak hanya dikenal dunia, tetapi juga tanpa disadari ikut membentuk cara dunia mengenal negaranya.





