Hari Ini di Tahun 1918 Ada Akhir dari 300 Tahun Kekaisaran Rusia

kumparan.com
4 jam lalu
Cover Berita

Pernah enggak sih kalian ngebayangin, di masa sekarang, hari ini bagi sebagian besar orang mungkin "cuma" hari Jumat biasa di tengah bulan. Tapi 108 tahun yang lalu, tanggal 17 Juli jadi hari bersejarah yang menghapus keluarga kekaisaran Rusia selamanya.

Ayo sini kami ceritain!

Dulu Rusia adalah negara monarki yang dipimpin seorang tsar alias kaisar dari keluarga Romanov. Nah orang yang bakal jadi tokoh utama di cerita ini adalah Nicholas II.

Beda dari kaisar Rusia sebelum-sebelumnya yang kharismanya dominan, alpha male bangetlah, Nicholas II ini tipe orang yang lebih soft, familyman, religius juga. Karena itulah ayahnya, Alexander III, nggak pernah mempersiapkan Nicholas II jadi pewaris karena dianggap terlalu "lembut" buat dunia politik yang keras.

Eh sialnya, manusia cuma bisa berencana tapi takdir yang menentukan. Alexander III wafat di usia muda. Meski enggan, Nicholas II mau enggak mau naik tahta.

Menurut buku "Scenarios of Power: From Alexander II to the Abdiction of Nicholas II", ketimbang pusing ngurusin geopolitik, Nicholas II ngaku lebih suka chill di rumah sama keluarga, mancing, berkebun, piknik, jalan-jalan (sama sih kita juga gitu). Tapi karena percaya kalau tahta adalah mandat langsung dari Tuhan, Nicholas II juga enggak bisa ngelepas jabatannya.

Sungguh definisi enggan tapi enggak bisa nolak.

Masalahnya, enggak kayak kita yang kalau enggak capable kerja dan bikin keputusan salah, mentok-mentok dapet SP dan digunjingin temen kerja, sebagai Kaisar Rusia rangkaian keputusan salah Nicholas II ini berujung kehancuran. Baru juga menjabat, di hari penobatannya udah ada ribuan warga tewas.

Jadi waktu itu, di tahun 1895, mereka bikin festival rakyat buat menyambut penobatan Nicholas II. Eh acaranya ricuh dan ribuan orang meninggal. Alih-alih berduka, Nicholas II malah tetap hadir di pesta dansa malamnya. Baru juga D-1 kerja udah dapet julukan "Nicholas the Bloody" dari rakyat.

Rusia waktu itu dikenal sebagai bangsa yang besar secara militer. Tapi di bawah Nicholas II, kekalahan demi kekalahan perang terjadi.

Misalnya waktu melawan Jepang buat ngerebutin wilayah Manchuria dan Korea pada 1904. Di era itu negara-negara Barat masih jadi "pusat dunia" dan bikin Nicholas II serta para penasihatnya meremehkan kemampuan Jepang yang datang dari Asia.

Inilah teman-teman, mengapa kita tidak boleh meremehkan orang lain. Gara-gara logistik yang jauh, militer yang enggak siap, dan angkatan laut yang udah ancur duluan, Rusia jadi kalah telak lawan Jepang.

Sementara itu, rakyat di Rusia sana, jadi mengalami kelaparan perkara pasokan negara habis dipakai mendanai perang. Ekonomi mulai sulit, PHK di mana-mana, termasuk di pabrik Putilov di St. Petersburg.

Pendeta Georgy Gapon terus turun tangan mimpin aksi damai. Enggak tanggung-tanggung, ada 150 ribu buruh yang ikut turun. Aksi ini tuh beneran damai. Mereka bahkan bawa foto Nicholas II yang masih dianggap sebagai "Bapak Pelindung". Jadi ketimbang protes ini lebih kayak aksi minta bantuan aja.

Eh bukannya ditemuin secara damai, para buruh ini malah disambut tembakan dan tebasan pedang dari tentara Tsar. Di puncak musim dingin 1905, di atas tumpukan salju, ribuan demonstran tewas bersimbah darah.

Apakah ini yang bikin Nicholas II dilengserkan? No no, bukan, masih ada ini problemnya ternyata.

Sekarang kita balik lagi ke keluarga Nicholas. Jadi Nicholas ini nikah sama cucu kesayangan Ratu Victoria dari Inggris, Alexandra Feodorovna. Dari situ mereka punya empat anak cewek, dan satu anak cowok calon putra mahkota, Alexei.

Sayangnya Alexei ini mengidap hemofilia yang bikin kalau terluka darahnya susah kering. Muncul deh tokoh legendari Grigory Rasputin, tabib misterius yang konon bisa menyembuhkan Alexei.

Waktu Perang Dunia II pecah di tahun 1914-1917, Nicholas II memutuskan Rusia harus ikut perang ngelawan Rusia. Entah apa yang dipikirkan, Nicholas II milih ikut turun langsung ke lapangan. Masalahnya nih, mereka terus menghadapi kekalahan demi kekalahan sampai kehilangan jutaan prajurit. Akibatnya Nicholas II jadi disalahin sepenuhnya.

Nah di sisi lain, karena Nicholas enggak ada, jadi Alexandra yang jadi pemimpin sementara. Alexandra waktu itu percaya banget dan bergantung sama "pengaruh buruk" Grigory Rasputin, termasuk soal pengangkatan menteri dan pejabat negara. Jelaslah orang-orang marah!

Mau bangsawan, politisi, tokoh berpengaruh, sampai ke rakyat jelata jadi kesal. Reputasi moral keluarga kekaisaran Romanov yang dibangun tiga abad langsung hancur seketika. Ditambah sama kalah perang dan krisis kelaparan, makinlah combo.

Maret 1917 revolusi pecah. Nicholas II yang masih di pangkalan tempur minta pasukan di ibu kota buat nembakin massa demo. Tapi pasukannya nolak dan milih buat gabung sama rakyat ngerebut gedung-gedung pemerintahan.

Ngerasa udah kalah total dan terdesak, Nicholas II akhirnya mundur. Tamatlah sudah kekuasaan Nicholas II dan keluarga Romanov.

Awalnya Nicholas II dan keluarga jadi tahanan rumah di istana mereka sebelum dipindah ke Siberia. Meski jadi tahanan rumah tapi kehidupan mereka relatif "damai". Sampai akhirnya kelompok radikal Bolshevik yang dipimpin Vladimir Lenin merebut kekuasaan. Penjagaan diperketat, jatah makanan dipotong.

Kelompok Bolshevik memindahkan keluarga ini ke rumah sitaan di Pegunungan Ural pada musim semi 1918. Semua jendelanya dicat putih biar enggak bisa ngeliat dunia luar, dan pagar kayu dibangun menjulang tinggi. Literally diisolasi.

Di tengah perang saudara, pasukan anti-Bolshevik alias Pasukan Putih bergerak mendekati lokasi Nicholas II ditahan. Karena takut Nicholas II bakal bebas dan malah jadi simbol perlawanan buat kelompok royalis, geng Bolshevik milih cara ekstrim: menghabisi Nicholas II dan keluarganya.

Dini hari Yakov Yurovsky yang jadi pemimpin eksekutor ngegiring Nicholas II dan keluarga, serta dokter pribadi merekda dan tiga pelayan yang tersisa ke ruang kecil di bawah tanah. Ngakunya sih biar keluarga ini lebih "aman" soalnya di luar lagi rusuh.

Eh baru juga masuk ke ruangan 6x5 meter itu, Yurovsky langsung membacakan surat perintah eksekusi. Belasan algojo langsung melancarkan tembakan. Nicholas II yang kaget cuma sempat nengok dan nanya, "Apa?" sebelum akhirnya tewas dengan peluru di dada.

Eksekusinya berjalan kacau. Tembakan dari belasan algojo kelewat brutal, dan mereka lupa mempertimbangkan suara yang bocor dan kemungkinan peluru memantul. Dalam catatan hariannya, Yurovsky ngaku dia lumayan kewalahan buat minta mereka berhenti.

Setelah tembakan-tembakan itu berhenti, kagetlah mereka. Lah kok Alexandra dan empat anak gadis Nicholas II masih hidup. Mukjizat? Oh rupanya belakangan diketahui kalau mereka enggak sengaja bikin rompi anti-peluru dari perhiasan berlian dan emas belasan kilogram yang dijahit ke dalam korsete.

Apakah mereka selamat? Enggak juga ternyata. Mereka langsung dihabisi dari dekat sebab pasukan Bolshevik emang enggak mau ada keturunan Romanov yang di masa depan bisa tiba-tiba mengeklaim hak atas tahta.

17 Juli 1918, di dalam ruang sempit di bawah tanah itu, berakhir sudah sejarah panjang kekaisaran Rusia.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Eks Menkumham Jelaskan Alasan Kasus eks Jampidsus Susah Dikatakan Nihil Intervensi: Ada 2 Perspektif
• 15 jam lalukompas.tv
thumb
Pegiat sejarah Trenggalek simpan sembilan manuskrip kuno dari abad 19
• 23 jam laluantaranews.com
thumb
Eks Pemain Bundesliga, Kwon Chang-hoon Resmi Gabung ke Persija Jakarta
• 4 jam lalumedcom.id
thumb
Pramono Pastikan Harga Bahan Pokok di Jakarta Stabil meski Puncak Kemarau
• 18 menit laludisway.id
thumb
Pria Ditemukan Tewas di Hotel Jaksel, Ada Luka Tembak di Kepala
• 4 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.