Menteri Perekonomian Purbaya Yudhi Sadewa bertemu dengan Ketua Kadin DIY, GKR Mangkubumi, Wakil Ketua Kadin DIY, Robby Kusuma Harta, dan sejumlah pengurus Kadin DIY di Dalem Punakawan, Jalan Ahmad Dahlan, Yogyakarta, Jumat (17/7).
Pertemuan yang berlangsung sekitar dua jam itu membahas strategi mendorong investasi di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), khususnya untuk memperkuat sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Dalam pertemuan tersebut, peserta membahas peluang investasi yang menurut mereka dapat mendorong pertumbuhan ekonomi DIY, mengingat mayoritas pelaku usaha di daerah ini berasal dari sektor UMKM.
Salah satu isu yang dibahas ialah besarnya dana perbankan di DIY yang berpotensi disalurkan kepada pelaku UMKM. Peserta pertemuan menyebut tingginya rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) masih menjadi kendala, sehingga dibutuhkan model pembiayaan dan ide baru agar dana perbankan dapat lebih banyak terserap ke sektor produktif.
Selain sektor pariwisata, Kadin DIY juga mendorong pengembangan investasi pada sektor jasa, industri berbasis ilmu pengetahuan, serta sektor berorientasi ekspor yang menurut mereka berpotensi memberikan nilai tambah dan pertumbuhan pendapatan yang lebih tinggi.
Dalam pertemuan itu, Purbaya menyampaikan pandangannya terhadap prospek perekonomian Indonesia menyusul pengumuman terbaru dari S&P Global. Ia menyebut kepercayaan pasar internasional terhadap Indonesia masih terjaga, termasuk terhadap potensi pengembangan industri pariwisata beserta sektor turunannya.
Purbaya juga menyebut pembangunan infrastruktur akan memperkuat daya tarik investasi di DIY. Ia menyoroti penyelesaian jalan tol Solo-Yogyakarta yang berlanjut hingga Semarang, serta perkembangan infrastruktur bandara, yang menurutnya akan meningkatkan konektivitas dan mendukung pertumbuhan ekonomi daerah.
Usai berdiskusi, Purbaya mengunjungi galeri keris di Dalem Punakawan sekaligus membahas potensi kebudayaan sebagai kekuatan ekonomi. Salah satu gagasan yang mengemuka ialah mendorong kepemilikan keris sebagai bagian dari tradisi masyarakat, termasuk usulan agar setiap rumah tangga memiliki setidaknya satu keris sebagai simbol pelestarian budaya sekaligus penguatan ekonomi berbasis warisan budaya.





