Bisnis.com, JAKARTA — Asuransi Jiwa Bersama (AJB) Bumiputera 1912 merilis kinerja keuangan per semester I/2026. Hingga 30 Juni 2026, pendapatan perusahaan hanya mencapai Rp53,72 miliar, merosot 86,07 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp385,64 miliar. Di tengah penurunan pendapatan, perusahaan mencatatkinerja berbalik dari rugi menjadi laba.
Berdasarkan publikasi laporan keuangan semester I/2026 yang dikutip Jumat (17/7/2026), AJB Bumiputera 1912 membukukan laba setelah pajak sebesar Rp360,34 miliar. Sebagai perbandingan, pada semester I/2025, perusahaan mencantumkan rugi setelah pajak sebesar Rp406,84 miliar. Total laba komprehensif juga berbalik positif menjadi Rp321,52 miliar dari rugi komprehensif Rp419,26 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
Dalam periode ini, perusahaan mencatat hasil investasi hingga akhir Juni 2026 sebesar Rp67,24 miliar, naik 1,32 persen dibandingkan Rp66,36 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Di sisi neraca, aset AJB Bumiputera 1912 dilaporkan mengalami penyusutan. Total aset turun 10,08 persen secara tahunan menjadi Rp8,89 triliun dari Rp9,89 triliun. Nilai investasi juga berkurang 6,98 persen menjadi Rp5,09 triliun, sedangkan liabilitas turun 6,80 persen menjadi Rp11,56 triliun.
Meski liabilitas menurun, posisinya masih lebih besar dibandingkan aset sehingga ekuitas tetap negatif. Hingga akhir semester I-2026, ekuitas tercatat minus Rp2,67 triliun, lebih dalam dibandingkan posisi minus Rp2,52 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Sementara itu, portofolio investasi AJB Bumiputera 1912 masih didominasi bangunan dan tanah untuk investasi senilai Rp3,55 triliun. Selain itu, perusahaan memiliki penyertaan langsung sebesar Rp540,61 miliar, Surat Berharga Negara (SBN) Rp503,10 miliar, deposito berjangka Rp137,23 miliar, dan reksa dana Rp120,10 miliar.
Dari sisi kesehatan keuangan, rasio pencapaian solvabilitas tercatat -721,31 persen. Meskipun sedikit membaik dibandingkan -741,84 persen pada semester I/2025.
Sementara itu, rasio kecukupan investasi meningkat menjadi 22,51 persen dari 21,76 persen setahun sebelumnya. Rasio hasil investasi terhadap premi neto melonjak menjadi 229,41 persen dari 67,40 persen. Adapun rasio likuiditas turun menjadi 15,39 persen dari 16,40 persen, sedangkan rasio beban klaim, beban usaha, dan komisi menjadi 1.383,30 persen dari 1.488,33 persen.





