Bisnis.com, JAKARTA — Indonesia resmi menjadi salah satu negara pendiri World Artificial Intelligence Cooperation Organization (WAICO) usai penandatanganan perjanjian dalam Konferensi WAIC 2026 di Shanghai, China pada Jumat (17/7/2026).
Di sela-sela agenda itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto sebagai perwakilan pemerintah Indonesia berkesempatan bertemu dengan Presiden China Xi Jinping
Kepada Xi, Airlangga menyampaikan kesiapan Indonesia untuk berkolaborasi dalam membangun ekosistem artificial intelligence atau akal imitasi (AI) global yang terbuka, inklusif, dan membawa manfaat bagi kesejahteraan masyarakat dunia.
Mantan menteri perindustrian itu menyambut baik kepercayaan yang diberikan pemerintah China kepada Indonesia untuk bergabung sebagai satu dari 30 Anggota Pendiri (Founding Member States) dalam organisasi AI bertaraf global tersebut.
"Kami menyampaikan salam dari Presiden Indonesia, Bapak Prabowo Subianto serta terima kasih kepada Pemerintah Tiongkok yang telah berinisiatif membentuk WAICO, dan mengajak Indonesia sebagai Founding Member States," ujar Airlangga di Shanghai, dikutip dari rilis Kemenko Perekonomian.
Lebih lanjut, dia menegaskan bahwa Indonesia siap bekerja sama dengan WAICO untuk mengakselerasi pengembangan ekosistem AI dunia. Airlangga juga mengungkapkan bahwa inisiatif Indonesia bergabung ke dalam WAICO merupakan bentuk tindak lanjut dari arahan langsung Presiden Prabowo Subianto, yaitu pengembangan dan pemanfaatan teknologi AI di Tanah Air.
Baca Juga
- Waspadai Harga Pangan, Airlangga Minta Aturan Bea Masuk Plastik 0% Segera Terbit
- Pertumbuhan Ekonomi China Kuartal II/2026 Melambat Jadi 4,3% Akibat Perang Iran-AS
- Cara China Tolak
Menurut Airlangga, Prabowo menempatkan transformasi digital dan penguasaan teknologi sebagai fondasi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, memperkuat daya saing nasional, serta mewujudkan kemajuan bangsa.
Kolaborasi GlobalSementara dalam pidato pembukaannya di WAIC 2026, Xi Jinping memberikan penekanan bahwa pengembangan AI harus menjadi instrumen peningkat kesejahteraan manusia dan kemajuan bersama lintas negara.
"Pengembangan AI tidak seharusnya menjadi 'a solo performance' oleh satu negara, melainkan 'a symphony of global collaboration'," kata Xi.
Demi mewujudkan kolaborasi tersebut, China berencana mengembangkan platform AI berbasis open source yang nantinya dapat dimanfaatkan serta dikembangkan secara bersama-sama oleh berbagai negara.
Tidak hanya itu, China juga berkomitmen menyelenggarakan program peningkatan kapasitas untuk jutaan peserta dari berbagai negara dalam lima tahun ke depan. Program ini ditujukan untuk memperluas akses teknologi sekaligus menekan ketimpangan atau kesenjangan kapasitas digital global.
Inisiatif WAICO ini juga mendapat sambutan positif dari dunia internasional. Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) Antonio Guterres turut menyampaikan apresiasinya.
Guterres menaruh harapan agar WAICO dapat menjadi katalis kerja sama internasional yang mendorong pengembangan teknologi AI demi tercapainya Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) melalui pemanfaatan yang aman, inklusif, dan bertanggung jawab.
Adapun, 30 negara yang telah menandatangani dokumen perjanjian pendirian WAICO adalah Aljazair, Belarus, Brasil, Kamboja, Kamerun, Kongo, Kuba, Etiopia, Indonesia, Kazakhstan, Kenya, Kirgistan, Laos, Lesotho, Malaysia, Mozambik, Myanmar, Nikaragua, Oman, Pakistan, Rusia, Senegal, Serbia, Afrika Selatan, Tajikistan, Uzbekistan, Venezuela, Zambia, dan China.




