Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) memperkuat kemandirian finansial dengan meningkatkan pendapatan dari hasil inovasi, kerja sama industri, hingga komersialisasi riset, agar ketergantungan terhadap Uang Kuliah Tunggal (UKT) mahasiswa semakin kecil.
Prof. Bambang Pramujati Rektor ITS mengatakan, sebagai Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTNBH), kampus dituntut mampu membiayai operasionalnya secara mandiri. Saat ini, kontribusi pendanaan dari pemerintah hanya sekitar 21 hingga 22 persen, sedangkan UKT mahasiswa berada di kisaran 30 hingga 35 persen.
“Kami ingin persentase pendanaan dari UKT semakin kecil. Semangat kami adalah mandiri secara finansial, sehingga tidak lagi bergantung pada UKT, bahkan kalau bisa juga tidak bergantung pada bantuan pemerintah,” katanya di Kampus ITS, Surabaya, pada Jumat (17/7/2026).
Menurutnya, kemandirian finansial menjadi kebutuhan bagi PTNBH karena kampus memiliki kewenangan mengelola sumber daya manusia dan keuangannya sendiri. Di ITS, sekitar 30-40 persen dosen dan 60-70 persen tenaga kependidikan merupakan pegawai non-PNS yang pembiayaannya menjadi tanggung jawab kampus.
Oleh karena itu, kampus berupaya agar kenaikan kebutuhan operasional setiap tahun tidak dibebankan kepada mahasiswa melalui kenaikan UKT, melainkan ditutup dari peningkatan pendapatan non-UKT.
Bambang mengatakan, ITS saat ini sedang menyiapkan fondasi menjadi Entrepreneurial University pada 2030. Salah satu strateginya ialah mendorong hasil penelitian dosen tidak berhenti pada publikasi ilmiah, melainkan dikembangkan menjadi produk yang dapat dimanfaatkan masyarakat sekaligus menjadi sumber pendapatan kampus.
Sejumlah inovasi ITS yang telah dikomersialisasikan di antaranya perangkat lunak manajemen kontainer kapal yang telah digunakan di Filipina dan Eropa, produksi robot untuk berbagai kebutuhan industri, motor listrik trail yang digunakan di Papua, hingga aplikasi hasil kerja sama dengan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur.
Selain itu, ITS juga mengembangkan ekosistem hilirisasi melalui Science Techno Park (STP) yang menyediakan fasilitas pembuatan prototipe industri dan ruang bagi tenant maupun startup agar inovasi kampus lebih cepat masuk ke dunia usaha.
“Harapan kami nanti sumber pendanaan terbesar berasal dari produk-produk inovasi yang dihasilkan dosen, startup, dan hasil hilirisasi riset,” ujarnya .
Pihaknya memastikan, kampus telah menerapkan sistem pembagian royalti paten antara peneliti, unit kerja, dan universitas.
Ia juga berharap, skema itu bisa mendorong lahirnya inovasi yang semakin banyak dan tidak hanya memberi manfaat bagi masyarakat, tetapi juga memperkuat kemandirian keuangan kampus sehingga beban biaya pendidikan mahasiswa dapat terus ditekan.
Seperti diketahui, skema pembiayaan PTNBH saat ini sedang menjadi sorotan setelah hal tersebut mencuat dalam rapat dengar pendapat antara Rektor Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Komisi X DPR RI beberapa waktu lalu.(ris/wld/faz)




