Oversharing sudah lama jadi kebiasaan default warganet Indonesia: foto makanan sebelum disantap, story tiap jam, dan update lokasi setiap kali nongkrong. Tapi belakangan saya memperhatikan gejala sebaliknya. Semakin banyak teman yang dulu rajin posting kini memilih diam, menghapus feed lama, atau cuma menyimpan momen untuk diri sendiri tanpa membagikannya ke siapa pun.
Fenomena ini bukan cuma terjadi di luar negeri. Riset menunjukkan hampir separuh Gen Z menghapus unggahan karena merasa engagement-nya kurang, dan satu dari tiga orang malah menghindari posting sama sekali karena takut dihakimi. Pola ini terasa akrab bagi siapa pun yang pernah merasakan detik-detik ragu sebelum menekan tombol "bagikan" setelah malam seru bersama teman.
Bukan Sekadar Malas Posting, Tapi Bentuk Perlawanan HalusSaya melihat orang yang memilih diam di medsos bukan sedang bermalas-malasan atau ketinggalan tren, melainkan sedang melakukan bentuk penolakan halus terhadap logika medsos yang makin performatif. Di Indonesia, tekanan ini terasa nyata: makan di kafe estetik bukan lagi soal menikmati momen, tapi soal memastikan followers tahu kita "pernah ke sana". Standar semacam ini terasa mengikat, bahkan bagi orang yang tidak bercita-cita jadi selebgram.
Filsuf Denmark Soren Kierkegaard pernah menulis bahwa kerumunan adalah ketidakjujuran, tempat orang bersembunyi dari diri sendiri dengan hanya mengikuti apa yang populer.
Kalimat itu terasa relevan untuk konteks media sosial Indonesia hari ini, di mana algoritma menggantikan peran "kerumunan" itu. Ketika algoritma bilang gawai kita kurang canggih, kita buru-buru upgrade. Ketika standar kecantikan tertentu viral, kita ikut mengejarnya. Orang yang memilih berhenti posting sebenarnya sedang menolak ikut dalam permainan itu, dan itu butuh keberanian tersendiri.
Yang menarik, gerakan diam-diam ini juga terlihat dari maraknya finsta (fake Instagram) dan fitur close friends di kalangan warganet muda Indonesia. Alih-alih berhenti total dari medsos, banyak yang memilih menyempitkan lingkaran audiensnya jadi lebih privat dan terkurasi. Ini menunjukkan bahwa keinginan untuk tetap terhubung masih ada, tapi kebutuhan untuk tampil di depan audiens luas mulai dipertanyakan.
Dari Diam di Medsos ke Persoalan Privasi yang Lebih BesarBagi saya, fenomena berhenti melakukan oversharing ini sebenarnya berkaitan erat dengan isu yang lebih besar: kesadaran privasi digital yang selama ini kurang mendapat perhatian di Indonesia. Selama bertahun-tahun, kita terbiasa membagikan lokasi, wajah anak, hingga rincian aktivitas harian tanpa banyak bertanya ke mana data itu berakhir. Padahal setiap foto, like, dan story yang dibagikan ikut membentuk profil digital yang dipakai algoritma untuk mengenali, memprediksi, bahkan memanfaatkan kita secara komersial.
Ketika seseorang memilih untuk tidak membagikan momen tertentu, ia sebenarnya sedang melindungi dirinya dari ekosistem yang terus memanen data personal untuk kepentingan platform. Di tengah maraknya kebocoran data dan penyalahgunaan informasi pribadi di Indonesia, kebiasaan mengurangi oversharing bisa menjadi langkah kecil namun konkret untuk menjaga kendali atas privasi sendiri. Semakin sedikit jejak digital yang kita tinggalkan, semakin sulit pula data itu dieksploitasi tanpa sepengetahuan kita.
Saya percaya kesadaran ini perlu didorong lebih jauh, bukan dengan menghakimi orang yang masih senang berbagi, tapi dengan menumbuhkan kebiasaan bertanya sebelum menekan tombol unggah: apakah ini benar-benar ingin saya bagikan, atau sekadar mengikuti tekanan untuk terlihat aktif? Menjaga sebagian momen hanya untuk diri sendiri, pada akhirnya, bukan tanda kita tertinggal dari dunia digital, melainkan tanda kita masih memegang kendali atasnya.





