Pada 17 Agustus 1945, Presiden Sukarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Hampir 81 tahun setelahnya, tepatnya pada 3 Juli 2026, Bupati Wonogori Setyo Sukarno memproklamasikan Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, sebagai ibu kota mi ayam bakso.
Proklamasi. Kami, rakyat Wonogiri, dengan ini memproklamasikan Wonogiri sebagai ibu kota mi ayam bakso sebagai bentuk pengakuan atas citarasa, tradisi, dan kebanggaan kuliner yang telah mengakar dan menjadi identitas daerah. Hal-hal yang berkaitan dengan predikat tersebut diselenggarakan dengan semangat gotong royong, pelestarian dan kebanggaan rakyat Wonogiri. Wonogiri, 3 Juli 2026, atas nama rakyat Wonogiri, Setyo Sukarno.
Setyo membacakan teks proklamasi itu saat membuka Festival Mi Ayam Bakso Wonogiri 2026 yang berlangsung di Alun-Alun Giri Krida Bhakti, Wonogiri, 3-4 Juli 2026. Momentum bersejarah itu ditandai dengan keberhasilan mencatatkan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) atas penyajian 5.555 porsi mi ayam bakso gratis kepada masyarakat.
Proklamasi Wonogiri sebagai ibu kota mi ayam bakso itu bukan omon-omon belaka. Proklamasi ini lahir dari jejak ekonomi dan sejarah kaum boro yang mampu mengubah urbanisasi menjadi migrasi uang dari kota-kota besar ke desa sekaligus sebagai sistem ketahanan ekonomi keluarga.
Buktinya, di setiap kota besar atau kota kecil, selalu dijumpai warung atau kedai mi ayam dan bakso milik para perantau asal Wonogiri. Bahkan, beberapa di antaranya telah mengembangkan cabang, seperti Mie Ayam Donoloyo, Mie Ayam Tatsuya, Bakso Titoti Wonogiri, dan Bakso Bom Mas Erwin Wonogiri.
Proklamasi Wonogiri sebagai Ibu Kota Mi Ayam Bakso diharapkan mampu menjadi motivasi untuk terus mengembangkan potensi lokal, memperluas pasar kuliner, dan meningkatkan daya saing daerah di tingkat nasional,
Menurut Setyo, mi ayam dan bakso telah menjadi salah satu kekuatan ekonomi masyarakat Wonogiri. Usaha kuliner tersebut tidak hanya menjadi sumber mata pencaharian bagi banyak warga, tetapi juga telah berkembang menjadi identitas khas daerah.
“Saya berharap pencapaian Rekor MURI serta proklamasi Wonogiri sebagai ibu kota mi ayam bakso mampu menjadi motivasi untuk terus mengembangkan potensi lokal, memperluas pasar kuliner, dan meningkatkan daya saing daerah di tingkat nasional,” katanya.
Sebenarnya, sebagai salah satu bagian dari Indonesia, Wonogiri tidak memiliki akar identitas sebagai daerah produsen mi. Daerah yang menjadi bagian dari kawasan perbukitan karst Pegunungan Seribu tersebut lebih dikenal sebagai kota gaplek.
Gaplek merupakan singkong yang dikupas dan dijemur sampai kering. Gaplek dapat diolah menjadi tepung pati atau tapioka, tiwul atau makanan pengganti nasi, dan gatot yang merupakan jajanan tradisional khas Wonogiri dan Gunungkidul.
Secara umum, mi Indonesia berasal dari pengaruh pedagang dan imigran China di era Kerajaan Majapahit (1293–1527) dan Pemerintah Hindia Belanda (1800-1942). Dalam Le carrefour Javanais. Essai d'histoire globale II (Nusa Jawa: Silang Budaya Jaringan Asia, 2005), Denys Lombard menyebutkan, konsumsi mi di pulau Jawa diperkirakan sudah ada sejak Majapahit.
Hal itu ditunjukkan dengan kata hanglaksa yang ditemukan pada prasasti Biluluk pada 1391. Dalam bahasa Kawi, hanglaksa berarti "pembuat bihun". Adapun dalam bahasa Sansekerta, laksa berarti "seratus ribu" yang mengacu pada sekian banyak helai bihun. Istilah laksa atau lakhshah juga diyakini berasal dari bahasa Persia atau Hindi yang merujuk pada sejenis bihun.
Kemudian di era Pemerintah Hindia Belanda, mi di Indonesia berkembang seiring masuknya imigran China secara massal. Kala itu atau sekitar 1970, Pemerintah Hindia Belanda menerapkan Politik Pintu Terbuka. Dari sinilah, mi asal China bersama aneka makanan lain, termasuk bakso, semakin dikenal dan berasimilasi membentuk anaka kuliner Nusantara (Multikulturalisme Makanan Indonesia, 2018).
Lalu, bagaimana masyarakat Wonogiri mengenal mi dan bakso? Pada masa Hindia Belanda, Wonogiri menjadi salah satu daerah di bawah Karesidenan Solo (Surakarta). Kala itu, Solo sebagai ibu kota karesidenan menjadi pusat dan magnet perekonomian daerah-daerah sekitarnya.
Banyak orang dari daerah sekitar Solo, termasuk Wonogiri, datang mencari nafkah ke Solo. Salah satunya adalah bekerja di pabrik dan kedai mi atau bakso milik warga Tionghoa kala itu.
Di tempat itu, mereka belajar membuat mi dan bakso, termasuk mi dengan topping (hidangan tambahan) daging ayam cincang. Berbekal keterampilan itu, mereka membuka warung mi ayam dan bakso di kota-kota rantau. Mereka dikenal sebagai kaum boro (perantau) yang berasal dari kata ”pengemboro” atau pengembara.
Pemerintah Kabupaten Wonogiri mencatat, jumlah perantau asal Wonogiri sekitar 260.000-350.000 jiwa per tahun dari total rerata penduduk yang sebanyak 1 juta jiwa. Sebelum era Kemerdekaan, para perantau Wonogiri menjadikan Solo dan Yogyakarta sebagai tempat tujuan mencari nafkah.
Setelah era itu, mereka mulai menyasar Jakarta dan wilayah sekitarnya, seperti Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Hal itu seiring dengan perkembangan ekonomi dan industri serta pembangunan daerah-daerah tersebut.
Dalam konteks mi ayam bakso, kaum boro Wonogiri mengembangkan usahanya berbasis kekeluargaan. Mereka yang belum berkeluarga merintis usaha itu bersama saudara atau kerabat terdekat. Adapun yang telah berkeluarga merintisnya bersama anggota keluarga.
Saat usaha mereka sukses, mereka akan mengajak saudara dan bahkan tetangganya merantau untuk turut mengembangkan usaha. Tradisi yang sudah turun-temurun itu dilakukan guna menciptakan jaringan ekonomi baru dan solidaritas yang kuat.
Meminjam istilah pakar psikologi Universitas Chicago, pola migrasi kaum boro tersebut merupakan salah satu bentuk dari teori jaringan (network theory). Hal itu lantaran proses migrasi tersebut melalui hubungan personal, kekeluargaan, kedaerahan, dan kultur (”Fenomena Migrasi Tenaga Kerja dan Perannya bagi Pembangunan Daerah Asal: Studi Impiris di Kabupaten Wonogiri”, Didit Purnomo, Jurnal Ekonomi Pembangunan, Juni 2019).
Dengan kata lain, pola migrasi itu berfokus pada psikologi sosio-ekologis dan kesejahteraan emosional, yakni bagaimana ikatan kekeluargaan, lingkungan tempat tinggal, dan ekonomi membentuk perilaku kaum migran atau boro. Faktor itulah yang membuat mayoritas kaum boro selalu mudik atau pulang kampung setiap libur Lebaran.
Dari kaum boro inilah uang di berbagai kota pusat ekonomi mengalir ke daerah mereka terutama selama libur Lebaran. Khusus Wonogiri, memang belum ada data pasti yang menunjukkan jumlah peredaran uang selama libur Lebaran.
Namun, secara umum, Bank Indonesia wilayah Solo Raya selalu menyediakan uang tunai triliunan rupiah setiap Lebaran. Pada Lebaran 2025 dan 2026, misalnya, uang tunai yang disediakan masing-masing sebesar Rp 4,69 triliun dan Rp 4,59 triliun. Solo Raya mencakup wilayah Subosukawonosraten, yakni Surakarta (Solo), Boyolali, Sukoharjo, Karanganyar, Wonogiri, Sragen, dan Klaten.
Ekspansi mi ayam bakso wonogiri di berbagai kota di Indonesia juga melahirkan inovasi pangan modern baru, yakni Mie Ayam Instan Wonogiren. Usaha rumahan itu diinisiasi oleh tiga warga Wonogiri, yakni Andi Prasetyo, Tri Kuncoro, dan Hery Setiawan sejak Februari 2020
Mie Ayam Instan Wonogiren mengusung konsep mi sehat karena tidak memakai campuran bahan pengawet. Mi ayam itu dibuat menggunakan bahan alami, saus bikinan rumah, dan kaldu jamur. Mi ayam instan tersebut memiliki tiga varian rasa, yakni orisinal, hot level, dan mi ayam goreng.
Serial Artikel
Penetrasi Mi Instan
Mi instan berkembang menjadi makanan yang tidak hanya dikonsumsi di rumah, tetapi juga di pertunjukan musik.
Mi Ayam Instan Wonogiren diproduksi di Desa Nambangan, Kecamatan Selogiri, Wonogiri. Selain di Solo Raya, pemasarannya juga sampai ke beberapa kota lain, seperti Jakarta, Bekasi, Tangerang, Banjarmasin, dan Balikpapan.
Bahkan, mi instan tersebut sudah sampai ke tangan konsumen di Malaysia, Brunei, Singapura, Jepang, Taiwan, Mesir, Belanda, dan Korea Selatan. Ini berkat pemasarannya tidak hanya lewat agen dan reseller atau pedagang perentara, melainkan juga melalui sejumlah media sosial dan laman pemasaran.
Sekali lagi. Proklamasi Wonogiri sebagai ibu kota mi ayam bakso ini bukan sekadar omon-omon. Proklamasi tersebut lahir dari jejak ekonomi dan sejarah kaum boro yang mampu mengubah migrasi orang menjadi migrasi uang dari kota-kota besar ke desa sekaligus sebagai sistem ketahanan ekonomi keluarga.





