Konflik bersenjata antara Iran dan Amerika Serikat (AS) kini berada di ambang eskalasi total. Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengklaim telah meluncurkan serangan balasan ke pusat komando militer AS yang berada di Suriah pada Jumat (17/7/2026) siang waktu setempat.
Serangan rudal IRGC tersebut merupakan respons langsung atas aksi militer AS yang sebelumnya membombardir Bandara Iranshahr di wilayah timur Iran pada Jumat pagi.
Berdasarkan laporan Jerusalem Post, serangan AS di bandara tersebut telah menewaskan sejumlah anggota militer Iran dan melukai satu orang lainnya.
Pihak Komando Tengah (CENTCOM) militer AS mengonfirmasi bahwa gempuran ke Bandara Iranshahr merupakan bagian dari gelombang serangan ke-6 yang dilancarkan Negeri Paman Sam sejak pekan lalu. Selain bandara, militer AS juga menyasar sejumlah infrastruktur publik vital Iran, termasuk sebuah jembatan strategis di Kota Bandar Khamir.
"Pasukan AS, termasuk jet tempur, drone udara, dan kapal perang, meluncurkan amunisi presisi yang menghantam puluhan target militer Iran, seperti situs pengawasan pantai dan pertahanan udara, infrastruktur logistik militer, dan kemampuan maritim," bunyi pernyataan resmi CENTCOM, dilansir dari Euronews.
Hingga saat ini, CENTCOM mencatat rentetan serangan udara tersebut telah menewaskan setidaknya tujuh orang di wilayah Iran.
Aksi saling serang ini diprediksi masih jauh dari kata usai. Situasi justru kian meruncing setelah Donald Trump melayangkan ancaman keras.
Ia menegaskan akan menghancurkan seluruh jembatan dan pembangkit listrik di Iran pada pekan depan jika Teheran tetap menolak kembali ke meja negosiasi dengan AS.
Di sisi lain, konflik ini dikhawatirkan akan memicu perang terbuka yang meluas ke seluruh kawasan Timur Tengah.
Pasalnya, Iran dilaporkan telah memperluas jangkauan targetnya dengan mulai menggempur sejumlah markas militer AS yang tersebar di negara-negara Teluk, termasuk Bahrain, Kuwait, Qatar dan Yordania.





