IESR Nilai Kepastian Kebijakan Menjadi Kunci Percepatan Investasi Energi Surya di Indonesia

pantau.com
5 jam lalu
Cover Berita

Pantau - Institute for Essential Services Reform (IESR) menilai kepastian kebijakan pemerintah menjadi faktor utama untuk mempercepat investasi energi surya di Indonesia, karena memberikan keyakinan bagi investor dalam mengambil keputusan jangka panjang.

Kepastian Regulasi Dinilai Menarik Minat Investor

Chief Executive Officer IESR Fabby Tumiwa mengatakan keputusan investasi tidak hanya ditentukan oleh besarnya potensi energi surya, tetapi juga kepastian regulasi, proyek yang layak dibiayai, risiko yang dapat dikelola, serta tingkat pengembalian investasi yang kompetitif.

Ia mengungkapkan, "Investasi pembangkit energi surya perlu berjalan bersama dengan pembangunan transmisi, interkoneksi, digitalisasi jaringan dan sistem penyimpanan energi. Keberhasilan pengembangan energi surya tidak hanya ditentukan oleh besarnya kapasitas pembangkit yang dibangun, tetapi juga oleh kemampuan jaringan listrik untuk menampung dan memanfaatkan listrik yang dihasilkan."

Fabby menjelaskan kepastian kebijakan perlu diwujudkan melalui target pengembangan yang konsisten serta informasi yang transparan mengenai jadwal proyek, lokasi pembangunan, dan kapasitas yang akan dibangun setiap tahun.

IESR juga menilai tersedianya proyek yang bankable serta dukungan pembiayaan seperti concessional loan dan blended finance dapat meningkatkan minat investor.

Selain itu, proses pengadaan yang efisien, kejelasan kontrak, pembagian risiko yang adil, dan mekanisme jual beli listrik dinilai mampu memberikan kepastian bagi pengembang.

Potensi PLTS Terapung Capai 77,8 Gigawatt

Dalam Indonesia Solar Summit (ISS) 2026, IESR memaparkan hasil kajian yang menunjukkan Indonesia memiliki potensi pembangkit listrik tenaga surya terapung (floating solar photovoltaic/FPV) yang layak secara finansial mencapai 77,8 gigawatt di 179 lokasi.

Potensi tersebut terdiri atas 42,5 gigawatt PLTS terapung di waduk dan danau serta 35,3 gigawatt di wilayah perairan dekat pantai.

Fabby mengatakan, "Pengembangan PLTS terapung penting untuk mendukung target besar Indonesia dalam mempercepat energi surya, termasuk program PLTS 100 GW. Jika dirancang dengan baik, PLTS terapung dapat menjadi bagian dari solusi untuk menyediakan listrik bersih bagi kawasan industri, kawasan ekonomi khusus, sistem kelistrikan daerah, hingga pengganti pembangkit fosil yang memasuki masa pensiun."

IESR juga mendorong penyederhanaan perizinan, integrasi lokasi potensial ke dalam dokumen perencanaan energi dan tata ruang, serta kejelasan aturan pemanfaatan ruang laut untuk mengurangi hambatan investasi.

Lembaga tersebut turut merekomendasikan penerapan mekanisme reverse auction atau lelang terbalik berbasis harga agar tarif listrik lebih kompetitif dan proyek energi surya dapat direalisasikan lebih cepat.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Adu Gengsi Perebutan Juara Tiga Pesta Bola Dunia 2026
• 7 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Bupati Jember Targetkan Pemberian Beasiswa untuk Mahasiswa Jember di China dan Mesir
• 2 jam laluberitajatim.com
thumb
Tabrakan beruntun di Bintara diduga karena sopir alami "micro sleep"
• 3 jam laluantaranews.com
thumb
Fakta-fakta Pria Ditemukan Tewas di Hotel Kawasan Jakarta Selatan, Polisi Ungkap Dugaan Penyebab
• 7 jam laluviva.co.id
thumb
Batam-Bintan Tambah Pasokan Listrik 300 MW dari PLTU Tanjung Sauh
• 8 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.