Wakil Gubernur (Wagub) DKI Jakarta Rano Karno menegaskan Jakarta harus menjadi kota yang menjamin kebebasan masyarakat untuk berkumpul, berpendapat, dan berdiskusi tanpa rasa takut. Menurut dia, ruang-ruang publik harus tetap terbuka sebagai wadah bertukar gagasan secara ilmiah dan kritis.
"Jakarta harus tetap menjadi kota tempat masyarakat bebas berkumpul, berpendapat, dan berdiskusi tanpa rasa takut," ujar Rano Karno saat menghadiri kuliah umum di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (18/7/2026).
Karena itu, kata Rano, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta di bawah kepemimpinan Gubernur Pramono Anung berkomitmen menjaga kebebasan tersebut. Menurutnya, Taman Ismail Marzuki, kampus, maupun ruang publik lainnya harus tetap menjadi tempat berlangsungnya forum-forum diskusi ilmiah dan kritis.
Baca juga: Rano Karno Sebut Jakarta Masuk 53 Kota Terbaik Dunia Kalahkan Washington DC
Baca Juga:Soal Pengadaan 21 Ribu Motor Listrik Era Dadan Hindayana, Begini Kata BGN"Taman Ismail Marzuki, kampus-kampus, serta ruang publik lainnya harus selalu terbuka bagi forum-forum diskusi ilmiah dan kritis," tambah Rano Karno.Rano juga menegaskan setiap kebijakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta disusun dengan berpijak pada nilai-nilai yang hidup di masyarakat. Menurutnya, arah pembangunan harus mampu mengakomodasi kebutuhan warga, mulai dari akses pendidikan, lapangan pekerjaan, hingga hunian yang layak.
Ia menyinggung karakter budaya populer Si Doel yang menurutnya bukan sekadar hiburan. Bagi Rano, tokoh tersebut merepresentasikan perjuangan masyarakat menghadapi tantangan modernisasi, penataan kota, dan pemenuhan kebutuhan hunian.
Lihat video: Wagub Rano Resmikan Pameran Pembangunan Jakarta, di Museum Bahari"Indikator keberhasilan setiap kebijakan di Jakarta adalah sejauh mana kebijakan tersebut mampu mempermudah dan memanusiakan kehidupan warga, terutama dalam aspek hunian, penataan kota, serta akses terhadap layanan dasar," tegasnya.
Baca Juga:Dasco Akan Bahas Nasib Karyawan Hotel Sultan dengan KemensetnegMenanggapi dinamika pembangunan dan tantangan reformasi yang dipaparkan Guru Besar Studi Asia University of Melbourne, Profesor Vedi R. Hadiz, Rano mengajak seluruh elemen masyarakat tetap optimistis menghadapi berbagai tantangan pembangunan. Ia kemudian mengutip filosofi masyarakat Betawi yang menggambarkan pentingnya mencari jalan keluar dalam setiap persoalan.
"Orang Betawi memiliki ungkapan, 'Kalau jalan buntu jangan berhenti, cari gang, cari lorong'. Jakarta adalah kota seribu gang. Melalui ruang-ruang kecil yang humanis, warga berinteraksi dan berdiskusi. Dari sanalah solusi-solusi pragmatis untuk memajukan kota kerap lahir," pungkasnya.
Kuliah umum tersebut turut dihadiri Anggota DPR RI sekaligus sejarawan Bonnie Triyana, perwakilan berbagai organisasi, serta ratusan mahasiswa dari berbagai daerah. Diskusi berlangsung interaktif dan menjadi ruang pertukaran gagasan mengenai demokrasi, pembangunan, serta masa depan reformasi di Indonesia.
Usai mengikuti kuliah umum, Wagub Rano meninjau Pameran Seni Kolaboratif bertajuk EVANESCENCE di Galeri Cipta 1, Taman Ismail Marzuki. Peninjauan tersebut menjadi wujud dukungan Pemprov DKI Jakarta terhadap perkembangan seni rupa kontemporer sekaligus memperkuat fungsi TIM sebagai ruang kreativitas, ekspresi, dan interaksi budaya yang terbuka bagi masyarakat.




