Ketika Lionel Messi pernah memandikan bayi Lamine Yamal, lalu bertahun-tahun kemudian keduanya bertemu di panggung terbesar sepak bola dunia, banyak orang buru-buru berkata, "Inilah takdir."
Menariknya, Lionel Messi sendiri tidak pernah mengklaim bahwa peristiwa itu adalah takdir. Ketika ditanya mengenai foto tersebut dalam Fanatics Fest New York menjelang final Piala Dunia 2026, Messi hanya tersenyum dan menyebutnya, "It's crazy."
Sebuah ungkapan spontan yang lebih mencerminkan rasa takjub daripada upaya memberi makna. Ironisnya, justru kitalah yang kemudian berlomba-lomba menyusun narasi bahwa semuanya telah digariskan sejak awal.
Baca Juga :
Berawal dari Sebuah Foto Ikonik, Takdir Pertemukan Messi dan Yamal di Final DuniaPadahal mungkin justru di situlah kesalahan pertama kita. Bukan karena takdir tidak ada. Melainkan karena kita terlalu cepat menyebut sesuatu sebagai takdir, hanya karena kita belum mampu menjelaskannya.
Manusia memang menyukai cerita yang rapi. Awal, tengah, dan akhir yang saling terhubung. Kita merasa lebih tenang ketika sejarah terlihat seperti sudah ditulis sejak awal. Padahal sejarah hampir tidak pernah bekerja serapi itu.
Kalau foto itu tidak pernah ditemukan kembali, apakah kita tetap akan mengatakan bahwa pertemuan Messi dan Yamal adalah penyelenggaraan ilahi? Kalau Yamal gagal menjadi pemain besar, apakah foto yang sama masih akan dianggap sebagai pertanda?
Pertanyaan-pertanyaan itu penting. Sebab sejarah menghadirkan peristiwa. Manusialah yang menghadirkan cerita. Dan di antara keduanya, lahirlah sesuatu yang sering kita sebut sebagai takdir.
Kita melihat hasil akhirnya lebih dulu, lalu menyusun cerita yang membuat semuanya tampak masuk akal. Itulah sebabnya foto tersebut lebih tepat disebut simbol daripada bukti. Simbol memang indah. Simbol bisa menggetarkan hati. Namun, simbol tidak otomatis menjelaskan bagaimana seseorang menjadi legenda.
Messi tidak menjadi Messi karena pernah menggendong seorang bayi. Yamal juga tidak menjadi Yamal karena pernah dimandikan oleh Messi. Yang menghubungkan keduanya bukanlah sebuah foto. Yang menghubungkan keduanya adalah ribuan jam latihan yang tidak pernah difoto.
Cedera yang tidak pernah menjadi berita. Air mata yang tidak pernah menjadi unggahan. Tekanan yang tidak pernah menjadi viral.
Baca Juga :
Messi Kenang Foto Ikonik Bersama Lamine Yamal Jelang Laga Final Piala Dunia 2026Kita sering jatuh cinta kepada momen. Padahal sejarah dibangun oleh proses. Memang selalu ada campur tangan Tuhan dalam perjalanan hidup manusia. Banyak orang meyakininya, dan keyakinan itu layak dihormati. Namun, penyelenggaraan Tuhan tidak pernah membebaskan manusia dari kerja keras.
Kalau setiap kebetulan disebut takdir, kita sedang meromantisasi hasil dan melupakan perjuangan. Dan itu berbahaya karena generasi muda bisa tumbuh dengan keyakinan bahwa kehidupan dibentuk oleh tanda-tanda, padahal kenyataannya lebih banyak dibentuk oleh pilihan-pilihan yang diambil setiap hari.
Foto Messi dan Yamal adalah kisah yang indah. Tetapi keindahan sebuah kisah tidak boleh membuat kita berhenti berpikir. Sebab barangkali keajaiban terbesar bukanlah bahwa mereka pernah berada dalam satu bingkai.
Baca Juga :
LAMINE YAMAL, (BUKAN) PENERUS MESSI DAN CR7Dua manusia dari generasi berbeda sama-sama memilih jalan yang sangat panjang, sangat sunyi, dan sangat berat untuk mencapai puncak dunia.
Bukan fotonya yang membuat mereka besar. Melainkan keputusan mereka untuk terus bekerja ketika tidak ada seorang pun yang sedang memotret.
(N.D. Santoso)
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(ASM)





