Bisnis.com, JAKARTA — Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI Airlangga Hartarto telah melakukan pertemuan bilateral dengan Menteri Perdagangan China Wang Wentao di Shanghai, China pada Jumat (17/7/2026).
Dalam pertemuan tersebut dibahas terkait penguatan kemitraan ekonomi strategis Indonesia–China, terutama di bidang perdagangan, investasi, pengembangan kawasan ekonomi, ekonomi digital, energi terbarukan, serta kerja sama ekonomi regional.
Dalam kerangka Two Countries Twin Parks atau TCTP, Indonesia dan China telah membangun berbagai kerja sama antara kawasan ekonomi dan industri, pemerintah daerah, serta pelaku usaha kedua negara.
Hingga saat ini, sebanyak 30 Nota Kesepahaman telah ditandatangani dengan estimasi nilai investasi sekitar Rp37,1 triliun.
"Kami juga membahas mengenai MoU yang sudah ditandatangani beberapa waktu yang lalu yang investasinya sekitar US$2,5 miliar [Rp44,8 triliun asumsi kurs Rp17.921 per dolar AS]," ujar Airlangga dalam konferensi pers daring pada beberapa waktu lalu.
Airlangga menekankan pentingnya menindaklanjuti berbagai Nota Kesepahaman tersebut menjadi proyek investasi yang konkret. Pembentukan joint venture antara pelaku usaha Indonesia dengan China juga perlu terus didorong guna mempercepat implementasi berbagai kerja sama dalam kerangka TCTP.
Baca Juga
- Rayu 34 Dubes, Airlangga Klaim RI Jadi Negara Paling Cuan di Asean
- Airlangga Bertemu Xi Jinping, RI Resmi Gabung Organisasi AI Global Bentukan China
- Indonesia Jadi Pendiri Organisasi AI Dunia, Airlangga: Pemerintah Siapkan Roadmap Kecerdasan Buatan
“Kami juga mendorong pembentukan joint venture agar kerja sama TCTP dapat menghasilkan manfaat ekonomi yang lebih konkret,” ujar Airlangga.
Indonesia juga turut mengusulkan perluasan kawasan yang dapat menjadi mitra dalam kerangka TCTP. Perluasan tersebut diharapkan dapat membuka lebih banyak peluang kerja sama industri, memperkuat konektivitas antar kawasan, serta memperluas manfaat investasi bagi berbagai wilayah di Indonesia.
Pemerintah Indonesia juga mengharapkan dukungan Kementerian Perdagangan China untuk mendorong keterlibatan perusahaan China sebagai investor, mitra strategis, maupun co-developer dalam pengembangan kawasan industri dan komersial di Indonesia.
Pembahasan lainnya adalah terkait upaya penyelarasan perdagangan dan penguatan investasi. Indonesia mendorong peningkatan dan penyelarasan nilai perdagangan bilateral agar memberikan manfaat yang semakin seimbang bagi kedua negara.
Upaya tersebut dapat ditempuh melalui perluasan akses pasar bagi produk Indonesia, peningkatan ekspor produk bernilai tambah, penguatan hilirisasi, serta pengembangan investasi yang berorientasi ekspor.
Dalam konteks tersebut, Danantara Indonesia diharapkan dapat berperan sebagai mitra strategis dalam mendorong masuknya investasi berkualitas, memperkuat kapasitas produksi nasional, dan mengembangkan proyek-proyek prioritas bersama investor China.
Lalu, pada sektor energi, Airlangga mengundang perusahaan China untuk meningkatkan partisipasi dan investasi dalam mendukung program Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto terkait pengembangan kapasitas pembangkit listrik tenaga surya hingga 100 gigawatt.
Indonesia juga mengharapkan dukungan China terhadap pembentukan dan penempatan Sekretariat Regional Comprehensive Economic Partnership atau RCEP di Indonesia.
Selain itu, Airlangga turut menyampaikan dukungan Indonesia terhadap keketuaan China dalam APEC 2026. Indonesia memandang bahwa prioritas keterbukaan, inovasi, dan kerja sama sejalan dengan agenda penguatan integrasi ekonomi kawasan, transformasi digital, pemberdayaan UMKM, transisi energi, dan pengembangan sumber daya manusia.
Airlangga juga mengatakan bahwa selama ini China telah menjadi mitra perdagangan utama bagi Indonesia. Pada 2025, nilai total perdagangan Indonesia–China mencapai US$154,6 miliar.
Selama periode 2021–2025, total perdagangan kedua negara menunjukkan tren pertumbuhan sebesar 7,24%. Kondisi tersebut menunjukkan besarnya hubungan ekonomi kedua negara sekaligus pentingnya upaya meningkatkan dan menyeimbangkan nilai perdagangan bilateral.
Di bidang investasi, China juga menjadi salah satu dari tiga sumber penanaman modal asing terbesar di Indonesia.
Pada 2025, realisasi investasi China mencapai hampir US$8,1 miliar atau sekitar 13% dari total investasi asing, terutama pada sektor industri pengolahan, perdagangan, energi, properti, serta transportasi dan pergudangan.





