2 Prajurit Amerika Tewas usai Keluarnya Ultimatum dari Pemimpin Tertinggi Iran

wartaekonomi.co.id
1 minggu lalu
Cover Berita
Warta Ekonomi, Jakarta -

Ketegangan Iran dan Amerika Serikat (AS) kembali meningkat tajam setelah dua prajurit dilaporkan tewas dalam serangan rudal balistik dari Iran di Yordania. Insiden itu terjadi tidak lama setelah adanya ultimatum keras dari Teheran ke Washington.

Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengonfirmasi bahwa dua personel militernya meninggal dunia akibat serangan dari Iran. Selain itu, satu prajurit lainnya masih dinyatakan hilang, sementara empat personel mengalami luka-luka.

Baca Juga: Viral Pengakuan Jokowi Terkait Ijazah Miliknya Dibantah Eks Dosen Fakultas Kehutanan UGM

CENTCOM menyebut seluruh prajurit yang terluka telah mendapatkan perawatan di rumah sakit setempat sebelum akhirnya diperbolehkan kembali bertugas.

"Sebagai bentuk penghormatan kepada keluarga korban, kami akan menahan informasi tambahan, termasuk identitas para prajurit yang gugur, hingga 24 jam setelah keluarga terdekat menerima pemberitahuan resmi," demikian pernyataan mereka, dikutip Minggu (19/7/2026).

Militer Amerika sejauh ini mencatat sedikitnya 16 personel tewas dan lebih dari 430 lainnya mengalami luka-luka dalam berbagai serangan yang berkaitan dengan perang melawan Iran.

Tewasnya dua tentara ini juga terjadi setelah adanya pengumuman dari Iran. Teheran mengumumkan penghentian kepatuhannya terhadap memorandum of understanding (MoU) dengan Amerika Serikat.

Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei menegaskan bahwa musuh telah berulang kali melanggar kesepakatan sementara yang ditandatangani kedua negara. Teheran bahkan menyebut tanda tangan dalam kesepakatan itu tidak lagi memiliki nilai maupun kredibilitas.

"Kini ketika musuh berusaha meningkatkan konflik, sehingga harus menanggung biaya yang lebih besar dan penghinaan yang lebih dalam, mereka harus mengetahui bahwa bangsa kami telah menyiapkan pelajaran yang tak terlupakan untuk mereka," demikian isi pernyataan tersebut.

Pernyataan itu dipandang sebagai ultimatum langsung kepada Washington. Amerika Serikat sendiri dilaporkan melancarkan serangan berturut-turut ke berbagai fasilitas sipil di Iran. Teheran di sisi lain membalas hal itu dengan mengklaim menyerang sejumlah pangkalan militer Amerika di Timur Tengah. 

Baca Juga: Hotman Paris: Bayangin Orang Kebanggaan Prabowo Tiba-Tiba Dikriminaliasi, Bahkan Tanpa Pamit

Konflik kembali memanas setelah kesepakatan gencatan senjata sementara yang ditandatangani sekitar satu bulan lalu runtuh. Sejak saat itu, kedua negara terus melakukan serangan balasan hampir setiap hari, meningkatkan kekhawatiran dunia terhadap kemungkinan pecahnya perang terbuka dalam skala yang lebih luas.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Bareskrim Sebut Whip-Pink Murni Gas Anestesi, Bukan untuk Konsumsi
• 6 jam laludetik.com
thumb
Gelombang Kebencian di Malaysia Memuncak, 9 Sekolah Pengungsi Ditutup
• 22 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Gubernur Pramono Ungkap Rp100 Miliar Dialokasikan untuk LPDP Jakarta: Berangkatkan 50-75 Mahasiswa
• 23 jam lalutvonenews.com
thumb
Diplomatnya Diusir Rumania gegara Pelanggaran Drone, Rusia Mencak-mencak
• 22 jam laludetik.com
thumb
PGN Edukasi Pelaku UMKM Bojonegoro Terkait Penggunaan Gas Bumi Secara Aman
• 9 jam lalumedcom.id
Berhasil disimpan.