Belakangan, nama Keiko Fujimori menjadi sorotan dunia setelah memenangkan Pemilihan Umum (Pemilu) Presiden Peru 2026. Dalam putaran kedua yang digelar pada Juni lalu, ia berhasil mengantongi 50,135 persen suara, unggul tipis atas lawannya Roberto Sánchez yang memperoleh 49,865 persen suara.
Kemenangan ini menjadi pencapaian terbesar dalam perjalanan politik Keiko. Pasalnya, ia baru berhasil menduduki kursi kepresidenan setelah tiga kali gagal dalam pemilihan presiden sebelumnya. Pada 2011, Keiko lolos ke putaran kedua, tetapi dikalahkan oleh Ollanta Humala.
Lima tahun kemudian, ia kembali mencalonkan diri namun kalah tipis dari Pedro Pablo Kuczynski. Sementara pada Pilpres 2021, Keiko kembali harus mengakui kekalahan dari Pedro Castillo.
Tiga kekalahan tersebut tak membuat Keiko menyerah. Pada pencalonannya yang keempat, ia akhirnya berhasil memenangkan pemilu dan terpilih sebagai Presiden Peru untuk periode 2026–2031. Kemenangan ini sekaligus mengukir sejarah karena Keiko menjadi perempuan pertama yang terpilih sebagai Presiden Peru melalui Pemilu.
Sebelumnya, Peru memang pernah dipimpin oleh seorang perempuan, yakni Dina Boluarte. Namun, Dina tidak terpilih melalui Pemilu. Ia menjabat sebagai presiden setelah naik dari posisi wakil presiden menyusul pemakzulan Pedro Castillo pada 2022
Lantas, seperti apa sosok Keiko Fujimori yang akan memimpin Peru selama lima tahun ke depan? Simak profil lengkapnya dalam artikel berikut, Ladies!
Sosok Keiko Fujimori, pernah jadi Ibu Negara Peru saat usia 19 tahunBernama lengkap Keiko Sofía Fujimori Higuchi, ia merupakan anak sulung dari Alberto Fujimori, Presiden Peru periode 1990–2000, dan Susana Higuchi. Ia lahir di Lima, Peru, pada 25 Mei 1975 dengan darah keturunan Jepang dari kedua orang tuanya. Ia tumbuh bersama tiga adiknya, yakni Hiro, Sachi, dan Kenji Fujimori.
Sebagai putri Presiden Peru, Keiko telah akrab dengan dunia politik sejak remaja. Bahkan, pada usia 19 tahun, ia ditunjuk oleh sang ayah untuk menjalankan tugas sebagai Ibu Negara Peru pada periode 1994–2000 setelah kedua orang tuanya bercerai.
Di usia yang masih muda itu, Keiko tak hanya mendampingi ayahnya dalam berbagai agenda kenegaraan, tetapi juga aktif melakukan kunjungan ke berbagai wilayah Peru untuk bertemu masyarakat, termasuk komunitas marjinal. Ia juga mendirikan Peruvian Baby Heart Foundation, sebuah yayasan yang membantu anak-anak dari keluarga kurang mampu mendapatkan operasi jantung.
Meski disibukkan dengan berbagai tugas sebagai Ibu Negara, Keiko tetap melanjutkan pendidikan tinggi. Ia menyelesaikan studi Business Administration di Boston University pada 1997. Setelah itu, Keiko meraih gelar Master of Business Administration (MBA) di Columbia University pada 2008.
Namun, perjalanan politik keluarganya berubah drastis pada akhir 2000. Alberto menghadapi berbagai tuduhan korupsi dan pelanggaran hak asasi manusia yang memicu krisis politik di Peru.
Di tengah situasi pelik tersebut, ayahnya dipaksa mundur dari jabatan dan ia melarikan diri ke Jepang. Peristiwa itu menjadi titik akhir Keiko sebagai Ibu Negara dan terus menjadi sorotan saat dirinya membangun karier politik, hingga saat mencalonkan diri sebagai presiden.
Meski dibayangi kontroversi sang ayah, Keiko berhasil membentuk karier politiknya sendiri. Pada 2006, ia terpilih sebagai anggota Kongres Peru. Kemudian, di 2010 ia memimpin Fuerza Popular, partai politik sayap kanan dan konservatif di Peru.
Dalam debat calon Presiden Peru pada 31 Mei 2026, Keiko menegaskan komitmennya untuk membawa perubahan bagi negaranya. “Kita harus melakukan sesuatu sekarang untuk memperbaiki negara kita, atau kita akan mengulangi resep yang sama yang sudah gagal,” ujarnya.
Keiko akan dilantik pada 28 Juli mendatang dan akan memimpin Peru selama lima tahun ke depan.





