Bisnis.com, JAKARTA - Biodiesel merupakan bahan bakar nabati yang diproduksi dari bahan baku terbarukan, seperti minyak kelapa sawit, kedelai, jarak pagar, maupun sumber nabati lainnya.
Proses pembuatannya dilakukan melalui reaksi kimia antara minyak nabati atau lemak hewan dengan alkohol, seperti metanol atau etanol, menggunakan katalis seperti natrium atau kalium hidroksida.
Sebagai pengganti bahan bakar diesel berbasis minyak bumi, biodiesel dapat digunakan pada sebagian besar mesin diesel tanpa memerlukan modifikasi yang signifikan.
Selain berasal dari sumber daya yang dapat diperbarui, biodiesel juga dikenal memiliki emisi gas buang yang lebih rendah dibandingkan diesel konvensional.
Meski demikian, penyimpanan biodiesel dalam jangka waktu yang terlalu lama dapat menimbulkan sejumlah tantangan, terutama pada sektor maritim.
Paparan oksigen, kelembapan, dan perubahan suhu dapat memicu oksidasi bahan bakar, meningkatkan kandungan air, mendorong pertumbuhan mikroorganisme, serta membentuk endapan.
Baca Juga
- Menakar Arah Pengembangan Biodiesel RI Pascaimplementasi B50
- Sumatra Bersiap Era Biodiesel B50
- Menakar Era Baru Biodiesel, Mampukah Kurangi Impor Solar?
Kondisi tersebut berpotensi menyumbat filter, meninggalkan deposit pada injektor, dan pada akhirnya memengaruhi kinerja mesin.
Penurunan kualitas biodiesel dapat berdampak pada efisiensi operasional kapal, meningkatkan frekuensi perawatan, hingga memicu gangguan operasional apabila tidak ditangani dengan baik.
Menurut Ismy Agustin, Head of Business Development Biochem PT Prasetia Dwidharma, kualitas bahan bakar menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga keandalan operasional di sektor maritim.
Dia mengatakan, penggunaan aditif yang tepat dapat menjadi salah satu upaya untuk membantu menjaga stabilitas kualitas biodiesel selama penyimpanan.
Salah satu solusi yang diperkenalkan di ajang INAMARINE 2026 adalah Imagina, aditif biodiesel berbasis minyak atsiri.
Produk ini diklaim dapat membantu menjaga kualitas bahan bakar, mengendalikan kandungan air, mengurangi risiko pertumbuhan mikroba, serta meminimalkan pembentukan endapan dan deposit pada sistem bahan bakar.
Pihak pengembang menyebut efektivitas produk tersebut telah diuji melalui penggunaan lapangan selama lebih dari 45.000 jam pada alat berat dan generator, serta menjalani pengujian di laboratorium independen, termasuk LEMIGAS dan SOS Trakindo.
Namun, efektivitasnya dalam setiap aplikasi tetap dapat dipengaruhi oleh kondisi penyimpanan, kualitas biodiesel, dan karakteristik operasional masing-masing pengguna.





