Liputan6.com, Jakarta - Sri Rahayu, 60 tahun, tidak pernah mengenal bapak kandungnya. Tak pernah sekalipun dia melihat wajah sang ayah. Dari cerita yang sampai ke telinganya, ayahnya seorang seniman yang meninggalkan jejak besar bagi bangsa ini. Namanya Trubus Soedarsono.
Kami bertemu Sri Rahayu di sebuah pameran seni di Wates, Yogyakarta, pekan lalu. Dia adalah anak bungsu Trubus Soedarsono. Pada kami, Sri berbagi cerita perjalanan hidupnya mengenal sang ayah. Sosok yang nyaris terlupakan. Bahkan oleh anaknya sendiri.
Advertisement
“Saya memang tidak begitu tahu tentang bapak saya,” kata Sri membuka pembicaraan.
Sri yang dilahirkan pada 1966, sejak kecil dititipkan dan diasuh oleh pakde dan budenya. Mereka menjadi orang tua angkat, tanpa sepengetahuan Sri. Saat lulus Sekolah Dasar (SD), pertama kalinya Sri membaca nama Trubus Soedarsono. Tertera di rapor yang dibagikan gurunya. Saat itu, ayah angkatnya yang bernama Sastro, berdalih salah menulis nama. Sri yang masih polos, percaya dengan pengakuan ayah angkatnya itu.
“Yang penting kamu anak saya, yang penting saya sekolahkan,” ujar Sri menirukan kata-kata ayah angkatnya saat itu.
Rasa percaya yang semula ada, berganti perasaan curiga. Peristiwa serupa kembali terulang. Nama yang sama, Trubus Soedarsono, muncul lagi di rapor kelulusan Sri saat Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan SMEA. Lagi, sang ayah angkatnya berdalih, salah menulis. Yang penting, kata dia, Sri bisa sekolah agar pintar.
Tahun 1985, menjelang hari pernikahan Sri. Semua rahasia dalam hidupnya terungkap. Sri kaget ketika sang ayah angkat ‘mengembalikan’ Sri ke pelukan ibu kandungnya. Dari peristiwa itu Sri mengetahui fakta, dia dititipkan sejak lahir. Dibesarkan bukan oleh orang tua kandungnya.
“Ternyata saya itu anaknya Pak Trubus yang punya nama besar di daerah Kulon Progo, dan ternyata beliau itu pelukis serta punya nama tersendiri di mata para seniman,” jelas Sri.
Ingatan Sri langsung memutar balik pada sebuah peristiwa yang pernah terlewatkan. Saat masih duduk di kelas 3 SD, Sri pernah diajak oleh kerabatnya ke Cililitan, Jakarta Timur. Saat itu, kerabatnya mengajaknya melihat hasil karya sang ayah. Patung Denok yang berada di Istana Bogor. Patung yang dibuat tahun 1958 itu adalah pesanan khusus dari Presiden Soekarno. Posisi patung ini terletak di sisi kanan gedung utama Istana Bogor tepatnya dekat taman teratai.
Trubus membuatkan patung ini dengan menggabungkan dua sosok nyata. Tubuhnya terinspirasi dari anak pelukis Belanda, Ernest Dezentje. Sedangkan wajah si Denok yang teduh berasal dari kecantikan seorang gadis, anak pegawai istana.
Sri juga diajak melihat satu lagi hasil karya yang paling fenomenal di jantung ibu kota Jakarta, Patung Tugu Selamat Datang. Menjulang tinggi di pusaran gedung bertingkat Jalan Sudirman-Thamrin. Patung yang menjadi simbol keterbukaan Indonesia pada dunia internasional. Dibangun untuk menyambut para atlet Asian Games IV tahun 1962.
Dikisahkan pada Tahun 1961, Trubus dan Sanggar Pelukis ASRI mendapatkan permintaan khusus dari Bung Karno. Trubus diminta membantu mengerjakan patung hasil sketsa Henk Ngantung yang saat itu menjabat Wakil Gubernur Jakarta. Megaproyek ini di bawah pimpinan Edi Sunarso. Ini adalah karya terakhir sentuhan tangan Trubus sebelum hilang tanpa jejak usai geger tahun 1965. Hingga hari ini, tak ada satupun yang tahu akhir hidup Trubus.
“Ternyata saya itu punya bapak yang meninggalkan karya bagus di Indonesia,” kenang Sri.




