Surya Semesta (SSIA) Optimistis Target Marketing Sales 2026 Tercapai

bisnis.com
19 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Emiten pengelola kawasan industri PT Surya Semesta Internusa Tbk. (SSIA) tidak merevisi target marketing sales tahun ini di tengah tantangan kontraksi manufaktur dan ketidakpastian ekonomi global.

SSIA bahkan memasang target paling agresif. Emiten yang terafiliasi dengan Grup Djarum itu membidik marketing sales lahan industri mencapai 135 hektare sepanjang 2026 atau melonjak sekitar 188% dibandingkan realisasi tahun lalu yang hanya 46,8 hektare.

VP Investor Relations SSIA Erlin Budiman mengatakan target tersebut terdiri atas penjualan 14 hektare di kawasan Karawang dan 121 hektare di Subang Smartpolitan.

"Penjualan dari marketing sales lahan industri pada 2026 adalah sebanyak 135 ha, terdiri atas 14 ha di Karawang dan 121 ha di Subang," ujarnya kepada Bisnis, Kamis (16/7/2026).

Target tersebut ditopang percepatan pengakuan pendapatan sejak awal tahun. Pada kuartal I/2026, accounting bookings mencapai 21,2 hektare senilai Rp406 miliar, meningkat tajam dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 6,1 hektare dengan nilai Rp78,9 miliar.

Baca Juga : DMAS-SSIA Diprediksi Masih Cuan, Prospek Data Center hingga EV Menguat

Secara keseluruhan, pendapatan konsolidasian SSIA mencapai Rp1,446 triliun atau tumbuh 35% secara tahunan. Segmen properti menjadi kontributor utama setelah melonjak 202,1% menjadi Rp494,9 miliar.

Melalui anak usahanya PT Suryacipta Swadaya (SCS), perseroan juga membukukan marketing sales sebesar 8,2 hektare senilai Rp169,1 miliar hingga kuartal I/2026, meningkat 105% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Hingga akhir Maret 2026, backlog penjualan lahan SCS mencapai Rp727,4 miliar yang merepresentasikan 46,3 hektare. Dari jumlah tersebut, seluas 35,6 hektare dengan nilai Rp524,1 miliar telah dibukukan pada April 2026 sehingga memberikan visibilitas terhadap pendapatan tahun ini.

Chief Commercial Officer PT Suryacipta Swadaya Abednego Purno mengatakan kontraksi sektor manufaktur belum mengubah keyakinan perseroan terhadap pencapaian target penjualan.

"Tidak ada revisi target karena kami yakin inquiry dan pipeline ke Suryacipta sangat sehat, sehingga kami optimistis dapat mencapai target yang telah ditetapkan korporasi," katanya.

Menurut dia, pelemahan rupiah justru dapat meningkatkan daya tarik Indonesia bagi investor asing karena membuat biaya akuisisi lahan maupun pembangunan fasilitas menjadi lebih murah dalam denominasi dolar AS.

Meski demikian, Abednego mengingatkan keputusan investasi tetap dipengaruhi oleh stabilitas ekonomi, kepastian kebijakan, dan prospek pertumbuhan jangka panjang.

"Selama didukung fundamental ekonomi nasional yang kuat dan kebijakan proinvestasi yang konsisten, pelemahan rupiah dapat menjadi daya tarik investasi yang nyata," ujarnya.

Dari sisi sektor, permintaan investasi di kawasan Suryacipta masih didominasi ekosistem kendaraan listrik beserta industri komponennya. Selain itu, perseroan juga mencatat tingginya minat dari sektor elektronik, alat berat, data center, pergudangan, hingga infrastruktur digital seperti fiber optic.

Mayoritas investor berasal dari China dan Korea Selatan, sementara Jepang serta Taiwan juga masih menunjukkan minat yang positif.

SSIA kini menargetkan menghabiskan seluruh sisa lahan seluas 14 hektare di kawasan Karawang sebelum sepenuhnya mengalihkan fokus pemasaran ke Subang Smartpolitan dengan target pemasaran mencapai 60 hektare. Perseroan juga mempercepat pembangunan akses menuju Pelabuhan Patimban guna memperkuat daya saing kawasan.

Memasuki paruh kedua tahun ini Suryacipta berencana menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan salah satu bank internasional untuk memperluas jaringan pemasaran sekaligus menarik lebih banyak investor dari kawasan Asia. Di sisi lain, perusahaan terus mempercepat pembangunan infrastruktur di dalam maupun menuju kawasan industri agar efisiensi operasional tenant dapat terus meningkat dan daya saing kawasan tetap terjaga.

Adapun, ekspansi pusat data, ekosistem kendaraan listrik (electric vehicle/EV), serta logistik menjadi penopang utama optimisme emiten kawasan industri untuk mengejar target penjualan agresif sepanjang 2026.

Optimisme tersebut muncul di tengah kinerja manufaktur yang justru melemah. Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia turun ke level 46,9 pada Juni 2026 dari 50,0 pada Mei. S&P Global menyebut penurunan itu menandai perubahan kondisi operasional yang kembali mengalami kontraksi setelah sebelumnya berada di zona stagnan.

Di sisi lain, arus investasi masih menunjukkan ketahanan. Berdasarkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), realisasi investasi sepanjang semester I/2026 mencapai Rp1.010,6 triliun atau setara 49,5% dari target investasi nasional sebesar Rp2.041,3 triliun. Capaian tersebut memperlihatkan minat investor tetap terjaga meskipun aktivitas manufaktur sedang melambat.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Cadangan Nikel Saprolit Sisa 9–15 Tahun, APNI Ingatkan Pemerintah Hati-Hati Longgarkan RKAB
• 10 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Belajar dari ONDC India: Membuka Model Bisnis Baru bagi Ekonomi Digital Indonesia
• 16 jam lalumediaapakabar.com
thumb
Wacana pangkas anggaran pertahanan dan MBG, Menkeu: Masih jauh
• 3 jam laluantaranews.com
thumb
Wamentan Sudaryono: Anggaran Negara Dimaksimalkan untuk Kesejahteraan Petani dan Swasembada Pangan
• 3 jam lalurepublika.co.id
thumb
Sinopsis LAUTAN CINTA SCTV Episode 29, Hari Senin 20 Juli 2026: Aidan Tahu Bagas Ayah Kandungnya, Miranda Terancam Kehilangan Cinta
• 14 jam lalutabloidbintang.com
Berhasil disimpan.