Suhu Malam Makin Panas, Perubahan Iklim Rampas Waktu Tidur Masyarakat Dunia

republika.co.id
19 jam lalu
Cover Berita

REPUBLIKA.CO.ID, NEW JERSEY – Perubahan iklim membuat suhu malam hari semakin panas dan mengurangi waktu tidur masyarakat di berbagai belahan dunia. Kajian terbaru Climate Central menunjukkan dampak tersebut meningkat lebih dari dua kali lipat dalam lima dekade terakhir.

Dalam laporan yang ditulis Michelle Young, Climate Central menyebut selama periode 2020 hingga 2025 masyarakat di kota-kota Arab Saudi, Oman, dan Uni Emirat Arab kehilangan sekitar 55 hingga 87 jam tidur setiap tahun akibat tingginya suhu malam hari. Dari jumlah tersebut, sekitar 12 hingga 16 jam di antaranya secara langsung dipicu oleh perubahan iklim.

Baca Juga
  • Ekonomi Syariah, Solusi Krisis Iklim yang Terlupakan
  • Masyarakat Sipil Jadi Kunci Mendorong Kepatuhan Negara terhadap Fatwa Iklim ICJ
  • ICJ Buka Jalan Gugat Negara yang Lalai Tangani Krisis Iklim

“Kami memperkirakan masyarakat di kota-kota di Arab Saudi, Oman dan Uni Emirat Arab kehilangan sekitar 55 sampai 87 jam tidur setiap tahun karena tingginya suhu di malam hari, sekitar 12 sampai 16 jam tidur hilang karena perubahan iklim,” kata Climate Central dalam laporan tersebut, Ahad (19/7/2026).

Dampak serupa juga terjadi di India dan sejumlah negara Asia Tenggara yang kehilangan sekitar 78 hingga 91 jam tidur per tahun akibat suhu malam yang tinggi. Sekitar delapan hingga sembilan jam dari total kehilangan waktu tidur tersebut disebabkan perubahan iklim.

.rec-desc {padding: 7px !important;}

Di Afrika Barat, masyarakat di Niger, Nigeria, dan Burkina Faso kehilangan sekitar 65 jam tidur setiap tahun akibat suhu malam yang panas. Sekitar 10 hingga 11 jam di antaranya dipicu langsung oleh perubahan iklim.

Dampak juga dirasakan di benua Amerika, termasuk Amerika Serikat, Meksiko, Guatemala, Kolombia, dan Venezuela. Di Amerika Serikat, sekitar 235 kota kehilangan rata-rata 36 jam tidur setiap tahun akibat suhu malam yang tinggi, dengan sekitar empat jam atau 13 persen di antaranya dipengaruhi perubahan iklim.

Climate Central menjelaskan sejak 1970-an dunia mengalami peningkatan suhu, pertumbuhan penduduk, urbanisasi, serta penggunaan pendingin ruangan (AC). Namun setelah memperhitungkan faktor-faktor tersebut, perubahan iklim menjadi penyebab utama meningkatnya kehilangan waktu tidur akibat suhu malam yang lebih panas.

Pada periode 1970 hingga 1975, manusia kehilangan sekitar dua jam tidur per tahun akibat perubahan iklim. Angka tersebut meningkat menjadi sekitar lima jam per tahun pada periode 2020 hingga 2025.

Secara keseluruhan, rata-rata penduduk perkotaan kehilangan sekitar 46 jam tidur per tahun akibat suhu malam pada awal 1970-an. Pada dekade 2020-an, jumlahnya meningkat menjadi sekitar 50 jam per tahun, dengan kontribusi perubahan iklim yang jauh lebih besar.

Dari 1.338 kota yang dianalisis, sebanyak 1.335 kota mengalami peningkatan kehilangan waktu tidur akibat perubahan iklim sedikitnya dua kali lipat. Sebanyak 840 kota bahkan mencatat kenaikan hingga tiga kali lipat.

Di 253 kota di Amerika Serikat, dampaknya tumbuh lebih cepat dibandingkan rata-rata global. Kehilangan waktu tidur meningkat dari sekitar satu jam per tahun pada awal 1970-an menjadi sekitar empat jam per tahun pada dekade 2020-an.

Climate Central menyebut tidur berperan penting dalam membantu tubuh menurunkan suhu. Meningkatnya suhu malam akibat perubahan iklim mengganggu proses tersebut sehingga mengurangi durasi sekaligus kualitas tidur, terutama pada hari-hari dengan suhu ekstrem.

“Tidur memainkan peran yang sangat penting dalam kesehatan dan kesejahteraan manusia. Tidur yang buruk berkaitan dengan suasana hati, kinerja kognitif, produktivitas, dan kesehatan jantung dan kekebalan tubuh,” kata Climate Central.

Laporan itu juga menyebut dampak perubahan iklim terhadap waktu tidur tidak dirasakan secara merata. Gangguan tidur akibat pemanasan global berdampak sekitar dua kali lebih besar pada kelompok berusia di atas 65 tahun dan tiga kali lebih besar pada masyarakat di negara berpendapatan menengah ke bawah dibandingkan negara berpendapatan tinggi.

Meski penggunaan AC dapat mengurangi dampak suhu panas pada malam hari, kepemilikannya masih terbatas. Pada 2021, hanya sekitar 35 persen rumah tangga di dunia yang memiliki AC sehingga banyak masyarakat, terutama di Asia Selatan dan Afrika, tetap rentan mengalami gangguan tidur akibat meningkatnya suhu malam.

.img-follow{width: 22px !important;margin-right: 5px;margin-top: 1px;margin-left: 7px;margin-bottom:4px}
Ikuti Whatsapp Channel Republika
.img-follow {width: 36px !important;margin-right: 5px;margin-top: -10px;margin-left: -18px;margin-bottom: 4px;float: left;} .wa-channel{background: #03e677;color: #FFF !important;height: 35px;display: block;width: 59%;padding-left: 5px;border-radius: 3px;margin: 0 auto;padding-top: 9px;font-weight: bold;font-size: 1.2em;} @font-face { font-family: "LPMQ"; src: url("https://static.republika.co.id/files/alquran/LPMQ-IsepMisbah.ttf") format("truetype"); font-weight: normal; font-style: normal } .arabic-text { font-family: "LPMQ"; font-weight: normal !important; direction: rtl; text-align: right; font-size: 2.5em !important; line-height: 49px !important; }

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
BMKG Ingatkan Waspada Gelombang Tinggi 4 Meter di Perairan Indonesia
• 23 jam laluidxchannel.com
thumb
Diduga ngantuk usai nobar Piala Dunia, pemotor alami kecelakaan di Tangsel
• 21 jam laluantaranews.com
thumb
Limbah Sawit Bisa Jadi Pupuk, Mengapa Masih Dibiarkan Menumpuk?
• 23 jam lalukumparan.com
thumb
Hotman Paris Dilaporkan ke Polisi Buntut Hina Profesi Wartawan
• 8 jam laluliputan6.com
thumb
3 Aktor Intelektual Culik-Bunuh Kacab Bank Ilham Divonis 10-13 Tahun Penjara
• 13 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.