Bisnis.com, JAKARTA — Akses terhadap pendingin ruangan (air conditioner/AC) masih belum merata secara global meski gelombang panas terjadi makin sering dan kebutuhan pendinginan terus meningkat.
Laporan International Energy Agency (IEA) mencatat sekitar 40% populasi dunia telah memiliki akses terhadap AC. Namun, lebih dari 80% penduduk dunia hanya menggunakan sistem pendinginan setidaknya pada sebagian waktu dalam setahun.
IEA menilai kesenjangan tersebut paling terlihat di negara-negara berkembang yang memiliki kebutuhan pendinginan tinggi, tetapi tingkat kepemilikan AC masih rendah.
Di Jepang dan Amerika Serikat, misalnya, hampir 90% rumah tangga telah memiliki AC. Sebaliknya, tingkat kepemilikan di Asia Tenggara dan India masih jauh lebih rendah meski kawasan tersebut menghadapi suhu panas dalam waktu yang lebih panjang.
Sementara itu, China mencatat peningkatan akses pendinginan yang pesat. Dalam satu dekade terakhir, tingkat kepemilikan AC di negara tersebut meningkat sekitar 50%.
IEA menjelaskan meningkatnya frekuensi cuaca panas ekstrem telah mengubah persepsi masyarakat terhadap kebutuhan pendinginan. Kondisi tersebut mendorong makin banyak rumah tangga mempertimbangkan pembelian AC untuk pertama kalinya.
Baca Juga
- El Nino Berpotensi Dongkrak Permintaan AC, Bebani Sistem Kelistrikan
- Yunani Antisipasi Gelombang Panas, Suhu Diperkirakan Tembus 41 Derajat Celsius
Di sisi lain, harga unit AC yang makin terjangkau dan tingginya persediaan di rantai pasok turut menurunkan hambatan kepemilikan.
Secara global, pengiriman AC kini sekitar 25% lebih tinggi dibandingkan lima tahun lalu, terutama didorong pertumbuhan permintaan di negara berkembang.
Pada 2024, pengiriman AC dunia mencapai sekitar 200 juta unit di tengah gelombang panas ekstrem. Permintaan meningkat sekitar 10% di India, Timur Tengah, Amerika Serikat, dan Eropa, sedangkan pertumbuhan di Amerika Latin dan Afrika mencapai lebih dari 40%.
Namun, pada 2025 permintaan mulai melambat di sejumlah pasar setelah India mengalami curah hujan di luar pola normal dan suhu musim panas di sebagian Asia Tenggara serta Amerika Latin yang lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya.
China masih menjadi produsen sekaligus pasar AC terbesar di dunia. Negara tersebut memproduksi sekitar 170 juta unit AC setiap tahun, mengekspor sekitar 60 juta unit, dan memiliki kapasitas produksi hingga 300 juta unit per tahun.
IEA menilai posisi tersebut memberi peluang bagi China untuk mendorong peningkatan efisiensi AC di pasar ekspor melalui penerapan standar efisiensi energi yang lebih tinggi.





