Nama Yani Panigoro mungkin tidak selalu berada di garis depan ketika publik membicarakan perjalanan MedcoEnergi. Namun, di balik berbagai fase penting pertumbuhan perusahaan, mulai dari melewati masa-masa sulit hingga menjadi salah satu perusahaan energi nasional terkemuka, terdapat kontribusi sosok perempuan tersebut.
Perjalanan Yani Panigoro kemudian diabadikan dalam buku Kala Bisnis Energi Dipimpin dengan Hati. Buku tersebut tidak hanya mengisahkan perjalanan seorang Komisaris Utama PT Medco Energi Internasional Tbk (MedcoEnergi), tetapi juga seorang perempuan yang tumbuh melalui berbagai pengalaman tentang keberanian, keteguhan, dan semangat yang menyala.
Bagi Yani Panigoro, usia 75 tahun bukan sekadar penanda pencapaian, melainkan momentum untuk menengok kembali perjalanan hidupnya. Jika dirangkum, Komisaris Utama MedcoEnergi itu membagi kehidupannya ke dalam tiga babak yang terbagi masing-masing selama 25 tahun. Pembagian babak ini tidak semata berdasarkan jabatan atau keberhasilan, tetapi nilai-nilai yang bertumbuh seiring waktu.
"Hiduplah sesuai dengan apa yang kita dapatkan," ujarnya.
Kalimat sederhana itu menjadi benang merah yang menghubungkan perjalanannya sebagai anak, ibu, saudara, sahabat, serta pemimpin.
Babak pertama
Babak pertama dimulai sejak Yani lahir hingga berusia 25 tahun. Ia tumbuh sebagai satu-satunya anak perempuan di antara sepuluh saudara laki-laki buah hati pasangan Yusuf Panigoro dan Suhannah. Di rumah, tidak ada perlakuan istimewa, walau ia perempuan. Hal penting yang ditanamkan kedua orangtuanya sejak dini adalah disiplin, tanggung jawab, dan kerja keras. Semasa kecil, Yani bersama saudara-saudaranya kerap membantu di Toko Harapan—toko kain milik sang ayah di Jalan Braga, Bandung, Jawa Barat. Ia dipercaya menjadi kasir.
Sekilas, tugas itu tampak lebih ringan ketimbang saudara-saudaranya yang harus mengangkat dan memotong gulungan kain. Namun, tanggung jawab yang dipikulnya tidak kalah besar. Perjalanan tersebut berlanjut ketika ia menempuh pendidikan di Teknik Elektro Institut Teknologi Bandung (ITB).
Kala itu, ruang kuliah teknik masih didominasi laki-laki. Di lingkungan yang penuh persaingan itu, ia bahkan dipercaya menjadi komandan kompi dalam latihan semimiliter di kampus. "Perjalanan Bu Yani ini unik. Kami keluarga bersebelas dan satu-satunya perempuan, ya Bu Yani. Bayangkan, 10 laki-laki semua. (Dia) masuk (kuliah) Elektro ITB lagi. Sekarang masuk MedcoEnergi, it's a man's world. Namun, Bu Yani tetap bisa menjadi pemimpin yang baik," kenang Direktur Utama MedcoEnergi Hilmi Panigoro yang juga merupakan adik kandung Yani.
Babak kedua
Di rentang usia 25 hingga 50 tahun, Yani memasuki fase membangun. Setelah lulus sebagai insinyur elektro, ia memulai karier di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Dari situ, Yani kemudian ikut mengawal perjalanan Medco Group.
Ujian terbesar datang saat krisis moneter 1998. Saat itu, banyak perusahaan menghadapi tekanan berat. MedcoEnergi juga berada dalam situasi yang tidak mudah. Dalam kondisi tersebut, pendiri MedcoEnergi, almarhum Arifin Panigoro (kakak Yani), meminta Yani memimpin restrukturisasi keuangan perusahaan.
Mantan pejabat Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) Meidi Lazuardi menjadi salah satu saksi proses negosiasi yang berlangsung selama bertahun-tahun. Ia pertama kali bertemu Yani pada 2001 ketika MedcoEnergi datang untuk membahas penyelesaian kewajiban perusahaan.
Menurut Meidi, selama bertugas di BPPN, ia jarang menemukan perempuan yang mampu memimpin negosiasi restrukturisasi utang berskala besar seperti yang dilakukan Yani. Setelah melalui proses panjang, MedcoEnergi berhasil menyelesaikan restrukturisasi dan kembali memperoleh kendali mayoritas perusahaan.
Babak ketiga
Pada usia 50 tahun hingga sekarang, orientasi hidup Yani perlahan bergeser. Jika sebelumnya sebagian besar energinya dicurahkan untuk membangun karier, di babak ketiga, perhatiannya lebih banyak tertuju pada bagaimana memberi manfaat bagi orang lain.
Ia memiliki perhatian pada hal-hal yang mungkin luput dari pembahasan di ruang rapat. Misalnya, bagaimana rasanya menjadi pekerja perempuan yang baru melahirkan tetapi harus kembali bekerja, sementara bayinya berada jauh di rumah? Bagaimana mereka dapat bekerja dengan tenang jika pikirannya terus tertinggal pada sang anak?
Dari kegelisahan itu, lahirlah gagasan membangun day care di lingkungan kantor. Baginya, fasilitas tersebut bukan sekadar pelengkap, melainkan bentuk dukungan agar perempuan dapat menjalankan peran sebagai ibu sekaligus profesional.
Kepekaan yang sama juga mewarnai kiprahnya di Medco Group. Bersama almarhum Arifin Panigoro, ia turut membangun berbagai inisiatif sosial melalui Medco Foundation dengan fokus pada pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan masyarakat. Semangat memberi kembali juga membawanya kembali ke almamater.
Penulis : Oviana
Sumber : Kompas TV
- Ekonomi
- Keuangan
- Yani Panigoro
- MedcoEnergi
- Teknik Elektro
- Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia





